Sawah Beton
Pukul 2 pagi. Mata ini enggan terpejam di atas pembaringan, apalagi perut ini kembali berdendang menyanyikan lagu berjudul “lapar”. Segera ku pacu sepeda motor pinjaman menuju
burjo.
“A.. Nasi telor satu!” kataku pada si pemuda penjaga burjo. Pemuda berperawakan kurus, tingginya barang dua setengah centi di atasku. Kaca mata bundar diganjal hidung yang cukup mancung untuk ukuran orang Indonesia. Kaca mata pemuda itu mengingatkanku pada Heinric Himmler, si pemimpin Gestapo sekaligus ketua pelaksana hollocaust. Kejam dan brutal di masa Hitler. Di sisi lain pemuda penjaga burjo itu terlihat mirip tokoh kartun Jepang.
Selesai menyantap nasi telor bikinan A.. Aku langsung balik kanan. Setelah membayar lunas tentunya. Belum sempat kaki kananku menginjak pedal starter, ada pemandangan yang aneh di depanku, depan burjo si A.. Himmler. Keningku langsung berkerut. Loh.. sawah di depan burjo ini lari kemana?? Tanyaku dalam hati. Sesaat ku buka mata ini lebar – lebar dan sangat jelas terlihat sebuah kertas berukuran 4 x 5 terpancang pada tiang besi. Dengan huruf kapital tertulis: “DI SINI AKAN DIBANGUN PERUMAHAN” – green ambarukmo. Dan jelas saja sawah yang ada di situ telah rata dengan tonggak penyangga spanduk. Aku baru tahu kalau sawah itu telah tiada dan sebentar lagi akan berdiri sebuah perumahan mewah. Masih di spanduk itu juga, gambar rumah yang akan dibangun terlihat megah. Kemana petani si empunya sawah ini??. Tak jauh dari sawah yang telah tiada, ruko telah berdiri sebelumnya. Nasib yang sama juga, sawah yang telah tiada. Lagi ku bertanya “Kemana petani si empunya sawah ini??”
Tiba – tiba aku teringat salah seorang kawan yang baru beberapa waktu lalu mengajakku untuk mendata para petani. Dia bekerja di BPS. Seandainya dia ada saat ini, juga ikut melihat spanduk besar itu, pasti akan berkata “Petani telah berkurang satu jiwa”. Satu jiwa namun ada beberapa jiwa yang menunggu si petani di rumahnya. Rumah mereka. Anak – anak petani yang hendak membayar uang sekolah. Istri petani yang hendak menanak nasi, nasi yang dihasilkan dari sawah mereka sendiri. Sawah yang telah tiada. Dan berapa pula si pembangun rumah itu membeli tanah sang petani?. Berapa lama uang itu akan bertahan, harga sembako melambung tinggi di awan – awan. Jika uang telah habis, sang petani hendak mencari nafkah ke mana lagi? Sawah yang sekotak itu telah tiada segera digantikan rumah dan garasi yang terisi penuh. Apa bakal dikerjakan sang petani.
Hanya tahun ini saja, para caleg dan capres berteriak – teriak tentang ekonomi kerakyatan. Back to basic katanya. Bersawah, berladang, berlayar menyebar pukat. Terus mau kembali kemana sedangkan sawah telah amblas diterjang gelombang pasang rumah mewah. Mau mencangkul di manakah pak/bu capres??. Ekonomi kreatif katanya lagi. Kreatif di atas tanah yang mana pak/bu capres??. Selebihnya dan pada pembuangan akhir tetap menjadi golongan babu yang diperintah, dipaksa, ditindas kalau perlu hanya untuk bilang satu kata “ya”. Menjadi golongan terakhir yang dieksploitasi, luas melebihi samudra Hinida. Wahai kawanku “Petani telah berkurang satu jiwa, jangan sangsikan ucapanku, aku baru saja melihatnya di depan burjo si A.. Himmler.


















Sawah tsb bukan milik petani seperti yang ada dalam fikiran anda. Silahkan anda hitung sendiri berapa duit yang diterima pemilik lahan seluas 2000 m2 x Rp 2.000.000,- (NJOP) = Rp 4.000.000.000,-. Wong Sugih kaya ngono yo ora iso disebut pe-ta-ni, iya toh……….. wassalam
Bukan milik petani?? Anda tahu dari mana?? Sebenarnya masalahnya bukan itu bung! bukan seberapa duit, tapi tanah. Sumber kehidupan, untuk ngisi perut,ya harus kerja trus mau kerja dimana? mau nyangkul di mana? tanah udah habis di REBUT !! Anda punya saham di situ mungkin..
Wassalam..
Thanks sudah berkunjung!!
mas wardi, jadi yang mencangkul sawah itu bukan petani? yang tanam padi di sawah itu juga bukan petani? trus namanya apa? depkolektor?