Bagiku kemandirian individu adalah cara yang paling sunyi melawan pemerintah. Lantas muncul pertanyaan-pertanyaan, mengapa harus melawan dan apa pula hubungannya dengan pemerintah. Tak disangkal bahwa beberapa prosen kebebasan manusia terikat atas apa yang ada di atasnya. Meski pun kebebasan adalah wujud dari totalitas kehidupan. Tak ada yang bisa dikekang dari manusia, meski pun secara sadar bahwa jiwa-jiwa kebebasan adalah roh yang tak pernah berhenti mencari pemahaman kehidupan. Dan yang disadari adalah manusia sebagai mahluk sosial, disamping ke dalam bahwa dia juga adalah pemilik diri. Jauh sebelum peradaban manusia, apalagi jika dibandingkan dengan masa kini, manusia adalah mata kaki dan hatinya. Dan tak bisa dipungkiri sejak dulu berlaku keteraturan untuk mengatur tata cara, perilaku manusia dalam alam lingkungannya.
Penguasa-penguasa hadir dengan jarak yang amat tipis antara egoisme dan keterpanggilan mengabdi. Kerajaan-kerajaan runtuh dengan berbagai cara. Dan yang paling membanggakan adalah kerajaan yang dijatuhkan oleh penggabungan kekuatan. Penguasa mati dan yang lain tumbuh. Dia hadir sebagai pengatur kehidupan manusia dalam sosial masyarakat. Situasi yang hadir dari generasi ke generasi adalah sama, bahwa dia diikat oleh aturan yang dibuat penguasa. Amat tipis memang, antara pengabdian dan egoisme yang kemudian memunculkan tangan-tangan besi dalam hal mengatur kehidupan manusia. Semua itu diterima sebagai sebuah kewajaran yang pada satu sisi sangat bengis. Kekuatan penguasa merangkul individu-individu yang mau tunduk di bawah pembagian kekuasaan.
Aku selalu percaya bahwa manusia akan keluar dan memberontak, ketika batas-batas kewajaran atas hak kebebasan itu disepelehkan. Penguasa jelas sadar pada tugas utamanya, yaitu mengolah segala kekuasaannya untuk kesejahteraan manusia dibawah pimpinannya. Jiwa-jiwa yang sunyi akan memberontak dan kemandirian akan hadir. Sebuah logika sederhana yaitu jika semua manusia pada akhirnya mandiri, lantas apa guna penguasa, apa guna pemerintah. Sekali lagi aku teringat Marx. Sebuah impian yang teramat tinggi untuk kehidupan manusia. Tapi aku menginginkannya. Jiwa-jiwa yang sunyi akan memberontak.
Apa guna belajar tinggi-tinggi jika akhirnya tak terapakai. Ku amini Einstein: “Ilmu bukanlah tujuan akhir. Tapi ia adalah cara untuk mewujudkan tujuan!”
Egoisme segelintir orang dalam memerintah tetap harus dilawan dengan kemandirian. Sebuah pokok keterpanggilan manusia dalam kehidupan. Yang diperlukan adalah menyatukan kekuatan, berserikat, kemudian bergerak menuju kemandirian. Oh, betapa lugunya aku berkata bahwa itu adalah pengabdian pada umat manusia. Tapi aku selalu percaya bahwa jiwa-jiwa yang sunyi akan memberontak keluar!
-Jogja, Oktober 2011
Agung Poku




7 Comments
Jiwa-jiwa yang sunyi akan memberontak keluar! suka dengan frasa ini paman. Memberontak tidak harus dengan cara kasar, cukup seperti Gandhi! Mandiri adalah kunci utama pemberontakan.
mandir adalah harga mati…
ketika batas-batas kewajaran atas hak kebebasan itu disepelehkan.
Jiwa yang sunyi penuh dengan Mazmur
kalo mandi sendiri gak harga mati toh om?
Berontak!
jika masih ada yang percaya kalau kita bisa, maka bangsa ini masih memiliki harapan…
SemangART! for Hope and Happiness we must Dare to Dream!!