Lewati navigasi

Arsip Penulis:

http://www.friendsofart.net/en/art/ilya-repin/a-shy-peasant

http://www.friendsofart.net/en/art/ilya-repin/a-shy-peasant

Jangan pernah percaya pada ahli-ahli agama, sekalipun wakil tuhan di dunia, akunya. Kebanggaanku pada Bapak Notna melebihi kesucian yang diakui para pendeta dalam diri mereka. Bagiku, Bapak Notna lebih baik dibanding para pendeta, sekalipun dia tak mungkin suci. Di manapun ada yang baik dan yang jahat. Dan aku tak percaya pada keseimbangan yang dimitoskan pada dunia, bahwa yang baik dan yang jahat adalah dua mata. Yang aku yakini pada Bapak Notna adalah yang jahat harus dikubur dalam-dalam. Bagaimanapun juga manusia pada akhirnya membenci yang jahat, tapi dalam keadaan yang sama mereka telah membunuh banyak orang. Termasuk Bapak Notna sendiri. Si petani dan pemabuk itu telah lama mati, dikubur kesengsaraan pada akhir masanya.

Kadang-kadang, pada tiap sore, aku ingin berlari ke jalanan dan melompat ke gerobak pemabuk itu. Mengikuti gerobak sapinya ke sawah, menyusuri rerimbunan pohon bambu, sambil berkelakar tentang moleknya gadis-gadis desa di lumbung padi. Pada saat yang sama, dia suka membanggakan senapan angin yang diberikan seorang misionaris Jerman, Bastian, padanya. Aku selalu ingin menjadi bayangannya di lembah-lembah yang kami daki. Bersembunyi di antara ilalang, mengincar rusa-rusa tua bertanduk panjang. Pernah sekali Bapak Notna menembak seekor rusa jantan pada kakinya. Rusa yang sekarat itu berteriak panjang. Begitu kami dekati, seorang perempuan tua terbaring di sana dengan selendang abu-abu penuh dara melingkari kakinya. Itu belum apa-apa. Sekali waktu kami menunggui jerat sepanjang malam. Berharap seekor babi hutan akan terperangkap di sana. Dan benar saja seekor babi hutan sebesar anak sapi terperangkap. Bapak Notna baru saja hendak menghunus parangnya, babi hutan sebesar anak sapi itu berbalik mengamuk berlari ke arah kami. Bukan kepalang takut setengah mati. Dalam hitungan detik, kami sudah bergelantungan di atas pohon. Baca Lebih Lanjut »

Di malam yang dingin dan tanpa nama

Lyn, selalu datang tepat waktu

Menyayat tuts piano di bawah tangga

“Aku selalu berhasil menembus waktu. Dan pada saat yang sama aku tertelan kegelisahan.”

 

Malam-malam berbaris seperti sore yang sudah-sudah

Lyn, kemudian menyaut bagai hantu rumah tua

Menggertakkan nurani sembari kabur

Lewat kulit sampai ubun-ubun

 

Lyn, akulah kaum dhuafa

yang kelaparan dan tersesat di persimpangan

Akulah kulit ari yang mengelupas

terbuang dan dilupakan angin

 

Lyn menyanyi dua bait

menyayat tangga-tangga hati dalam dada

Dan terperosok ke dalam lambung

Lyn, selalu datang tepat waktu

 

Lyn, adalah ibu dua anak

Yang satu kasih, yang lain berandal

Sedang aku anak ketiga

 

AP

2012

Pagi buta dari segala penjuru, ketika arak-arak obor menggenapi subuh yang dingin. Via Dolorosa sudah berakhir kemarin. Ke mana Dia yang tergantung di atas bukit tengkorak? Yerusalem. Yerusalem.

Ku beritahu pada kalian, angin dari segala penjuru pukul enam sore telah berhenti. Matahari yang terbenam adalah penggenapan malam, bahwa Dia telah ku salibkan di sana.Yerusalem yang kagum, Yerusalem yang maklum. Di luar tembok kota Yerusalem, di sanalah darah-darah terseret sepanjang jalan. Perempuan-perempuan membawa minyak mur dan ratapan yang berdebu. Ke sanalah Dia ku bawa. Dan ciuman seharga 30 keping perak.

Di manakah Tuhanmu, hai bangsa Yahudi? Bangsa yang dikasihi Allah. Akulah mamon, akulah raja yang kalian sembah. Hai umat manusia sepanjang abad.Sudah ditakdirkan sejak dulu, ratakanlah tanah, luruskanlah jalan bagi Dia yang akan datang padamu. Akulah mamon yang melawan takdir, yang kalian sembah dalam berbagai rupa.

Udara yang kosong dan langit yang kelam. Datanglah padaku para penyembah harta. Ku berikan pada kalian tujuh kali lipat budak Salomo. Ku curahkan pada kalian madu murni yang tak pernah habis. Ku minyaki kalian dengan kesenangan. Pada kaki kalian dan nafsu yang ku tanam pada dada anak-anak kalian.

Pagi buta. Maria Magdalena datang. Adakah kalian mengiringi. Akulah Gabriel dengan kesucian. Kekuatan pada sayap. Akulah yang membawa sangkakala. Akulah, dan segala akulah!

Telah ku beritakan pada kalian, dari segenap penjuru, dari pegunungan Lebanon sampai jazirah Arab. Ke manakah jalan menuju pulang?

Akulah mamon yang kalian sembah. Datanglah padaku, hai yang haus akan harta. Akan kekuasaaan dan segala konspirasi atas kematian. Ke manakah Tuhanmu, hai umat manusia? Adakah kalian melihatnya di Emaus?

Burung-burung malam telah mengabarkan ke penjuru dunia. Penggenapan akan kehidupan yang abadi. Kitab sejarah telah mencatat, berulang kali, kalian telah datang padaku. Hai yang haus akan harta dan kuasa di bumi.

Di luar tembok Yerusalem, aku telah menjumpai Petrus bersama tangisannya. Perempuan-perempuan Yerusalem yang membawa remah-rempah. Kesucian Simon dari Kirene. Akulah yang digantikan Matias. Akulah. Dan ketahuilah, saat ini aku tidak bersama-sama kalian.

The Entombment- Michelangelo (http://www.wikipaintings.org/en/michelangelo/the-entombment)

The Entombment- Michelangelo (http://www.wikipaintings.org/en/michelangelo/the-entombment)

 

 

- Jogja, April 2012

Agung Poku

Marc Chagall - Above the Town - 1914-1918 (http://www.famousartistsgallery.com/gallery/chagall-ch.html)

Marc Chagall - Above the Town - 1914-1918 (http://www.famousartistsgallery.com/gallery/chagall-ch.html)

Tibalah hari berkabung bagi Eflili Kalana dan empat anak perempuannya. Sonel Amali suaminya mengalami kecelakaan yang sangat parah. Sebuah truk menghantam motornya dari arah berlawanan. Tak tertolong lagi, mungkin takdir, Sonel Amali akan dikebumikan besok siang, tepat sebulan menjelang pernikahan anak pertamanya. Yunafli anaknya yang paling tua, seakan tak percaya bahwa bapaknya pergi secepat ini. Berkali-kali dia menyalahkan Tuhan, meminta agar bapaknya kembali, tapi itu harapan yang sia-sia.

“Kemana bapak pergi setelah kejadian ini?” tanya Yunafli pada pendeta yang memimpin upacara pemakaman.
“Bapakmu telah kembali ke rumah yang kekal.” jawab si Pendeta menguatkan.
“Tidak! Di sini rumahnya.” desis Yunafli menggugat.

Eflili Kalana mencakar-cakar tanah. Mengurai air mata yang diusap-usapkan  anaknya yang terkahir. Feybe tampak paling tegar menghadapi duka ini. Hanya dua belas tahun dia bersama bapaknya. Waktu yang singkat katanya. Dia teringat betapa keras didikan bapaknya. Jika tak patuh, maka ikat pinggang kulit bapaknya akan menghantam tubuhnya. Itu juga terjadi pada ketiga kakak perempuannya. Bahkan masih membekas perih di kakinya, ketika satu minggu sebelumnya dia dihantam hingga terpojok di dapur. Semua dikenangkannya sebagai peringatan akan bapaknya. Baca Lebih Lanjut »

senja kembali

senja kembali

Pesawat tengah berhenti di landasan pacu. Satu jam yang lalu berada di antara awan, di atas pulau Jawa. Sepuluh menit lagi akan meninggalkan bandara Sultan Hasanudin, Makassar. Di luar hujan turun sangat deras. Kurasai pori-pori ini terbuka dan terisi oleh kedinginan yang mengigit. Dua orang di kursi belakang, baru saja muntah dengan suara yang keras. Cuaca buruk untuk melakukan penerbangan lanjutan, menurut penumpang di depanku begitu. Terjadi perdebatan sengit di depan. Seorang pria di kursi nomor lima mencegat pramugari.

“Kali ini tak layak untuk terbang. Cuaca terlalu beresiko.” katanya dengan ketakutan.

“Sebaiknya bapak tenang dan menguasai diri. Kami sudah mempertimbangkan semuanya.” jawab si pramugari, diakhiri senyum yang gugup.

Beberapa menit kemudian semua penumpang sudah duduk manis di kursi. Kali ini penerbangan akan dilanjutkan, begitu penjelasan lewat pengeras suara. Pria yang duduk di kursi nomor lima akhirnya patuh. Baca Lebih Lanjut »

Christ with the peasant Circa 1887-88 by Fritz Von Uhde (art.com)

Christ with the peasant Circa 1887-88 by Fritz Von Uhde (art.com)

Enam bulan setelah panen raya, keluarga petani berkumpul dan membicarakan tentang gabah yang menumpuk di lumbung. Hampir tigapuluh ikat gabah rusak karena hama. Tikus-tikus bergentayangan, begitu rakus melubangi lumbung yang memang pada beberapa bagian sudah lapuk. Belum lagi beredar kabar, beberapa pencuri dari kampung sebelah mulai menggerayangi lumbung-lumbung petani. Salah satunya adalah si buntung Mada, pencuri bertangan buntung. Seringkali beberapa petani memergokinya memetik tomat. Atau pada hari minggu memanen kacang di kebun petani, saat orang-orang beribadah di gereja. Mada sangat lihai seperti belut yang licin, dia sering lolos dari jebakan petani-petani yang sudah sangat resah akibat kelakuannya. Beberapa waktu yang lalu, keluarga petani bersepakat untuk menggeledah pondoknya yang terletak di seberang sugai Tamblak. Tapi usaha itu sia-sia. Mereka tak menemukan Mada di sana. Hanya rombengan kaleng  ikan laut dan beberapa potong daun enau yang berserakan di atas dipan. Baca Lebih Lanjut »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 133 pengikut lainnya.