Jangan pernah percaya pada ahli-ahli agama, sekalipun wakil tuhan di dunia, akunya. Kebanggaanku pada Bapak Notna melebihi kesucian yang diakui para pendeta dalam diri mereka. Bagiku, Bapak Notna lebih baik dibanding para pendeta, sekalipun dia tak mungkin suci. Di manapun ada yang baik dan yang jahat. Dan aku tak percaya pada keseimbangan yang dimitoskan pada dunia, bahwa yang baik dan yang jahat adalah dua mata. Yang aku yakini pada Bapak Notna adalah yang jahat harus dikubur dalam-dalam. Bagaimanapun juga manusia pada akhirnya membenci yang jahat, tapi dalam keadaan yang sama mereka telah membunuh banyak orang. Termasuk Bapak Notna sendiri. Si petani dan pemabuk itu telah lama mati, dikubur kesengsaraan pada akhir masanya.
Kadang-kadang, pada tiap sore, aku ingin berlari ke jalanan dan melompat ke gerobak pemabuk itu. Mengikuti gerobak sapinya ke sawah, menyusuri rerimbunan pohon bambu, sambil berkelakar tentang moleknya gadis-gadis desa di lumbung padi. Pada saat yang sama, dia suka membanggakan senapan angin yang diberikan seorang misionaris Jerman, Bastian, padanya. Aku selalu ingin menjadi bayangannya di lembah-lembah yang kami daki. Bersembunyi di antara ilalang, mengincar rusa-rusa tua bertanduk panjang. Pernah sekali Bapak Notna menembak seekor rusa jantan pada kakinya. Rusa yang sekarat itu berteriak panjang. Begitu kami dekati, seorang perempuan tua terbaring di sana dengan selendang abu-abu penuh dara melingkari kakinya. Itu belum apa-apa. Sekali waktu kami menunggui jerat sepanjang malam. Berharap seekor babi hutan akan terperangkap di sana. Dan benar saja seekor babi hutan sebesar anak sapi terperangkap. Bapak Notna baru saja hendak menghunus parangnya, babi hutan sebesar anak sapi itu berbalik mengamuk berlari ke arah kami. Bukan kepalang takut setengah mati. Dalam hitungan detik, kami sudah bergelantungan di atas pohon. Baca Lebih Lanjut »







