<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>PAMAN DORI</title>
	<atom:link href="http://agungpoku.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agungpoku.wordpress.com</link>
	<description>B I R U</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Jan 2012 15:57:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='agungpoku.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>PAMAN DORI</title>
		<link>http://agungpoku.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://agungpoku.wordpress.com/osd.xml" title="PAMAN DORI" />
	<atom:link rel='hub' href='http://agungpoku.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Gelang Emas</title>
		<link>http://agungpoku.wordpress.com/2012/01/20/gelang-emas/</link>
		<comments>http://agungpoku.wordpress.com/2012/01/20/gelang-emas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2012 14:51:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agungpoku</dc:creator>
				<category><![CDATA[cepen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen agung poku]]></category>
		<category><![CDATA[gelang emas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungpoku.wordpress.com/?p=752</guid>
		<description><![CDATA[Pesawat tengah berhenti di landasan pacu. Satu jam yang lalu berada di antara awan, di atas pulau Jawa. Sepuluh menit lagi akan meninggalkan bandara Sultan Hasanudin, Makassar. Di luar hujan turun sangat deras. Kurasai pori-pori ini terbuka dan terisi oleh kedinginan yang mengigit. Dua orang di kursi belakang, baru saja muntah dengan suara yang keras. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agungpoku.wordpress.com&amp;blog=4874603&amp;post=752&amp;subd=agungpoku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_753" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://agungpoku.files.wordpress.com/2012/01/senja.jpg"><img class="size-medium wp-image-753" title="senja kembali" src="http://agungpoku.files.wordpress.com/2012/01/senja.jpg?w=300&#038;h=225" alt="senja kembali" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">senja kembali</p></div>
<p>Pesawat tengah berhenti di landasan pacu. Satu jam yang lalu berada di antara awan, di atas pulau Jawa. Sepuluh menit lagi akan meninggalkan bandara Sultan Hasanudin, Makassar. Di luar hujan turun sangat deras. Kurasai pori-pori ini terbuka dan terisi oleh kedinginan yang mengigit. Dua orang di kursi belakang, baru saja muntah dengan suara yang keras. Cuaca buruk untuk melakukan penerbangan lanjutan, menurut penumpang di depanku begitu. Terjadi perdebatan sengit di depan. Seorang pria di kursi nomor lima mencegat pramugari.</p>
<p>&#8220;Kali ini tak layak untuk terbang. Cuaca terlalu beresiko.&#8221; katanya dengan ketakutan.</p>
<p>&#8220;Sebaiknya bapak tenang dan menguasai diri. Kami sudah mempertimbangkan semuanya.&#8221; jawab si pramugari, diakhiri senyum yang gugup.</p>
<p>Beberapa menit kemudian semua penumpang sudah duduk manis di kursi. Kali ini penerbangan akan dilanjutkan, begitu penjelasan lewat pengeras suara. Pria yang duduk di kursi nomor lima akhirnya patuh.<span id="more-752"></span></p>
<p>&#8220;Berapa lama lagi akan berangkat?&#8221; tanya seorang wanita di sampingku.</p>
<p>&#8220;Mungkin sebentar lagi.&#8221; Jawabku. Dan benar saja, pesawat kemudian memutar mencari landasan tepat untuk terbang.</p>
<p>&#8220;Aku takut.&#8221; kata wanita di sampingku.</p>
<p>Wanita itu tampak menggigit bibirnya dan memperlihatkan wajah gelisah. Diguncang-guncangkannya kedua tangannya, tampak seperti memohon. Gelang-gelang di pergelangannya mengeluarkan bunyi. Mungkin ada tiga atau empat gelang berwarna kuning emas. Dia merebahkan kepalanya pada sandaran kursi saat pesawat mulai mengangkasa. Tiba-tiba perutku mual berisi angin yang menyesakkan. Aku sadar, tadi pagi tidak sarapan. Bodoh, gumamku. Ku tutup mata dan meregangkan badan. Mencari posisi yang tepat untuk menormalkan keadaaan. Tiba-tiba tanganku yang dingin diremas kuat-kuat. Jari-jari yang lembut dan hangat mengunci kepalan tanganku. Ku toleh ke samping, dan wanita itu semakin keras meremas tanganku.</p>
<p>&#8220;Aku takut.&#8221; gumamnya memohon padaku agar tak menarik tanganku.</p>
<p>Dari pengeras suara terdengar pemberitahuan, bahwa sekarang kami berada di atas ketinggian beberapa ribu kaki di atas pulau Sulawesi. Ku tengok ke jendela. Sawah-sawah terlihat samar. Dan lampu-lampu aneka warna tertinggal jauh di bawah. Wanita tadi belum juga melepaskan cengkeramannya. Perlahan-lahan ku tarik, dia menurut.</p>
<p>&#8220;Siapa namamu?&#8221; tanyaku.</p>
<p>&#8220;Elain. Panggil saja Ain. Tapi itu bukan nama sebenarnya. Ibu tiriku yang memberi nama, aku tak suka. Ku ganti saja. Panggil saja Ain.&#8221; jelasnya.</p>
<p>&#8220;Baiklah.&#8221;</p>
<p>Kantuk mulai menyerang. Empat puluh lima menit lagi baru akan mendarat. Waktu yang baik untuk tidur.</p>
<p>&#8220;Anakku berada di kampung Bali. Sekarang aku mau mengunjunginya. Dia tinggal bersama bapaknya.&#8221; Dia mengajakku bercerita. Sementara kantuk yang menyipitkan mataku terpaksa ku lawan. Wanita ini selalu bisa memancingku.</p>
<p>&#8220;Kenapa kau meninggalkan mereka? Kau bekerja di luar?&#8221; tanyaku memaksa melawan kantuk.</p>
<p>&#8220;Aku diceraikan suami. Pengadilan memaksaku untuk melepaskan anak kami padanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan sekarang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku mau menjenguknya. Sudah tiga tahun.&#8221; Dia mulai sesenggukan. Ku lihat matanya, tak ku dapatkan kesedihan di sana.</p>
<p>&#8220;Baiklah.&#8221; gumamku.</p>
<p>&#8220;Dia menceraikanku karena telah ku jual semua sawah atas namaku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukankah itu hakmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Warisan orang tuanya, tapi atas namaku. Istri yang dicintainya, dulu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Perihal apa?&#8221; tanyaku terpancing.</p>
<p>&#8220;Karena gelang emas ini?&#8221; tunjuknya pada empat buah gelang emas di pergelangannya.</p>
<p>Aku menggumam heran, sangat keras. Pria yang duduk di kursi nomor lima menoleh ke arahku.</p>
<p>&#8220;Gelang emas ini untuk melamarku. Semuanya ditunda. Setelah menikah katanya. Aku tak sabar. Janji, ya, janji. Ku jual saja sawah untuk membeli gelang emas ini.&#8221; semuanya diutarakannya tanpa perubahan wajah penyesalan.</p>
<p>Baiklah. Aku mulai bosan. Kalau saja aku suaminya, pasti aku juga berlaku demikian.</p>
<p>&#8220;Tiap malam anakku menelpon agar aku kembali. Dia sudah lima belas tahun.&#8221; jelasnya lagi. Dan lagi aku terpancing.</p>
<p>&#8220;Kau masih cinta padanya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa, anakku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Suami. Mantan suamimu.&#8221;</p>
<p>Dia tak menjawab, hanya menunduk memperhatikan gelang emasnya.</p>
<p>&#8220;Kau tahu, di luar banyak lelaki yang menggagalkan bahtera rumah tangganya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan kenapa kau yakin membina rumah tangga dengannya?&#8221; lagi-lagi aku terpancing.</p>
<p>Dia meremas jari-jariku:</p>
<p>&#8220;Kau lihat awan-awan di luar, sebentar lagi dia akan menumpahkan air ke laut, dan kembali menjadi awan. Apa aku bersalah jika hendak menjadi awan kembali?&#8221;</p>
<p>Dan aku gagal menerjemahkan kata-katanya. Aku diam dan menggumam dalam hati, baiklah.</p>
<p>Terdengar pengumuman dari pengeras suara, bahwa dalam lima menit, pesawat akan mendarat di bandara Mutiara, Palu.</p>
<p>Di luar masih hujan dan pesawat berhasil mendarat dengan mulus. Penumpang bersiap untuk turun. Kantuk telah hilang dibayar oleh kerinduan kampung halaman. Dia berdiri dan menarikku untuk turun.</p>
<p>&#8220;Kau akan kembali?&#8221; tanyaku.</p>
<p>&#8220;Baru saja.&#8221; jawabnya. Dan pria yang duduk di kursi nomor lima datang menghampiri kami. Wanita itu melompat untuk mendapat pelukan yang besar dari si pria itu.</p>
<p>&#8220;Kenalkan, ini suamiku.&#8221; katanya menarik tanganku.</p>
<p>Hujan tambah deras. Rombongan orang datang menjemput membawa payung. Aku basah kuyup. Tak ada payung, tak ada penjemput.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>- Jogja, Januari 2012</p>
<p><strong>Agung Poku</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agungpoku.wordpress.com/752/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agungpoku.wordpress.com/752/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agungpoku.wordpress.com/752/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agungpoku.wordpress.com/752/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agungpoku.wordpress.com/752/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agungpoku.wordpress.com/752/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agungpoku.wordpress.com/752/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agungpoku.wordpress.com/752/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agungpoku.wordpress.com/752/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agungpoku.wordpress.com/752/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agungpoku.wordpress.com/752/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agungpoku.wordpress.com/752/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agungpoku.wordpress.com/752/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agungpoku.wordpress.com/752/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agungpoku.wordpress.com&amp;blog=4874603&amp;post=752&amp;subd=agungpoku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungpoku.wordpress.com/2012/01/20/gelang-emas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<georss:point>-12.828948 111.093750</georss:point>
		<geo:lat>-12.828948</geo:lat>
		<geo:long>111.093750</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1f8d7cde4913f8377ea5a8b4a1853da6?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agung poku</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agungpoku.files.wordpress.com/2012/01/senja.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">senja kembali</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pelelangan</title>
		<link>http://agungpoku.wordpress.com/2011/12/16/pelelangan/</link>
		<comments>http://agungpoku.wordpress.com/2011/12/16/pelelangan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 23:54:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agungpoku</dc:creator>
				<category><![CDATA[cepen]]></category>
		<category><![CDATA[panen]]></category>
		<category><![CDATA[peasant]]></category>
		<category><![CDATA[pelelangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungpoku.wordpress.com/?p=743</guid>
		<description><![CDATA[Enam bulan setelah panen raya, keluarga petani berkumpul dan membicarakan tentang gabah yang menumpuk di lumbung. Hampir tigapuluh ikat gabah rusak karena hama. Tikus-tikus bergentayangan, begitu rakus melubangi lumbung yang memang pada beberapa bagian sudah lapuk. Belum lagi beredar kabar, beberapa pencuri dari kampung sebelah mulai menggerayangi lumbung-lumbung petani. Salah satunya adalah si buntung Mada, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agungpoku.wordpress.com&amp;blog=4874603&amp;post=743&amp;subd=agungpoku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_744" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/12/peasant.jpg"><img class="size-medium wp-image-744" title="Christ with the peasant Circa 1887-88 by Fritz Von Uhde (art.com)" src="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/12/peasant.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Christ with the peasant Circa 1887-88 by Fritz Von Uhde (art.com)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Christ with the peasant Circa 1887-88 by Fritz Von Uhde (art.com)</p></div>
<p style="text-align:justify;">Enam bulan setelah panen raya, keluarga petani berkumpul dan membicarakan tentang gabah yang menumpuk di lumbung. Hampir tigapuluh ikat gabah rusak karena hama. Tikus-tikus bergentayangan, begitu rakus melubangi lumbung yang memang pada beberapa bagian sudah lapuk. Belum lagi beredar kabar, beberapa pencuri dari kampung sebelah mulai menggerayangi lumbung-lumbung petani. Salah satunya adalah si buntung Mada, pencuri bertangan buntung. Seringkali beberapa petani memergokinya memetik tomat. Atau pada hari minggu memanen kacang di kebun petani, saat orang-orang beribadah di gereja. Mada sangat lihai seperti belut yang licin, dia sering lolos dari jebakan petani-petani yang sudah sangat resah akibat kelakuannya. Beberapa waktu yang lalu, keluarga petani bersepakat untuk menggeledah pondoknya yang terletak di seberang sugai Tamblak. Tapi usaha itu sia-sia. Mereka tak menemukan Mada di sana. Hanya rombengan kaleng  ikan laut dan beberapa potong daun enau yang berserakan di atas dipan.<span id="more-743"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Musim hujan tiba, enam bulan setelah panen raya. Jalanan penuh lumpur. Seringkali sapi-sapi penarik gerobak menemui ajalnya di dalam lumpur yang dalam. Lumpur menimbun akar-akar tajam, tuur-tuur yang runcing menancap pada kaki sapi, bahkan beberapa membelah perut. Lumbung-lumbung yang menampung gabah mulai lapuk. Air hujan menjadikannya lumat dan lembek, sehingga mudah bagi tikus untuk menggerogotinya. Keluarga petani tambah resah. Mesin penggiling rusak. Berkarat dan tak dapat digunakan. Teringat oleh keluarga petani, panen raya enam bulan yang lalu, panen raya yang manis. Keluarga petani berpesta, menyuguhkan saguer terbaik untuk pekerja-pekerjanya. Dan mereka mabuk berhari-hari. Bernyanyi, menari, merayakan panen raya yang agung.</p>
<p>Keluarga petani ketiban sial. Semua gabah dalam lumbung hilang entah ke mana.</p>
<p>&#8220;Tak mungkin tikus yang menghabiskan semuanya. Bagaimana mungkin hilang tanpa bekas?&#8221; kata seorang dari keluarga petani.</p>
<p>&#8220;Ini pasti Mada yang mencuri. Tidak mungkin tidak. Mustahil!&#8221; seru yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Kekesalan berlanjut. Ramai-ramai keluarga petani mendatangi pondok Mada di seberang sungai Tamblak. Tapi lagi-lagi itu menjadi percuma. Kosong melompong! Pondok yang kumuh itu mereka teriaki secara menjijikan, sebelum membakarnya sampai rata dengan tanah. Entah ke mana si Mada pergi. Kebencian itu membuat keluarga petani berduka berhari-hari. Dan pada hal yang lain, persediaan beras hampir habis.</p>
<p style="text-align:justify;">Hujan berlarut-larut. Awan-awan bergerak begitu berat, menampung warna kusam yang dibawa ke sana-kemari, dihembus angin. Sebentar lagi natal tiba. Enam bulan setelah panen raya. Keluarga petani masih berduka. Mereka masih memikirkan gabah yang hilang. Mungkin saja gabah itu adalah persediaan selama setengah tahun, sebelum panen tiba. Dan sekarang hilang entah ke mana! Duka itu sedikit terobati karena hari natal akan tiba. Banyak keluarga-keluarga yang berbaik hati saat hari natal. Jamuan makan di mana-mana. Maka keluarga petani sedikit lega, setidaknya selama bulan itu. Keluarga petani yang lain ramai-ramai menyumbangkan sisa hasil panen mereka untuk gereja. Gabah, tomat, kol dan segala macam hasil panen dilelang pada hari natal. Hasil pelelangan itu digunakan untuk membangun ruang konsistori yang sudah rusak.</p>
<p>Pada hari pelelangan, keluarga petani datang ke gereja. Pelelangan dimulai setelah ibadah selesai. Banyak penawaran tinggi dari orang-orang kaya. Tomat dibeli dengan harga tiga kali lipat dari biasanya. Apalagi gabah. Si pendeta tak henti-henti membaca doa di belakang mimbar, selama pelelangan berlangsung. Dan bukan main kagetnya keluarga petani ketika melihat gabah yang berpuluh-puluh ikat dilelang di gereja.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Itu gabahku!&#8221; serunya dari belakang. Dia melompat maju ke depan dan mendapatkan gabah-gabah yang ranum itu. Dia yakin bahwa itu adalah kepunyaannya. Dia hapal betul caranya mengikat gabah. Itu ikatan tangannya, simpulnya tak mungkin sama dengan yang lain. Serunya sekali lagi. &#8220;Ini gabahku! Dari mana kalian mendapatkannya?&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba pendeta Thomas mendekatinya dan berkata:</p>
<p>&#8220;Gabah-gabah ini sumbangan dari Mada. Katanya ini adalah hasil panen dari sawah warisan bapaknya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Si petani terhenyak. Tubuhnya yang ringkih mendadak kaku dan kemudian lemas. Jemaat yang hadir ikut mematung memandangi si petani yang bingung. Beberapa di antaranya bergegas meninggalkan gereja, karena pagi itu mereka hendak mengubur Mada yang mati tadi malam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>-Jogja, Desember 2011</em></p>
<p><strong>Agung Poku</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agungpoku.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agungpoku.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agungpoku.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agungpoku.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agungpoku.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agungpoku.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agungpoku.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agungpoku.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agungpoku.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agungpoku.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agungpoku.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agungpoku.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agungpoku.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agungpoku.wordpress.com/743/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agungpoku.wordpress.com&amp;blog=4874603&amp;post=743&amp;subd=agungpoku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungpoku.wordpress.com/2011/12/16/pelelangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<georss:point>-12.828948 111.093750</georss:point>
		<geo:lat>-12.828948</geo:lat>
		<geo:long>111.093750</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1f8d7cde4913f8377ea5a8b4a1853da6?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agung poku</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/12/peasant.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Christ with the peasant Circa 1887-88 by Fritz Von Uhde (art.com)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konspirasi Pendek</title>
		<link>http://agungpoku.wordpress.com/2011/11/20/konspirasi-pendek/</link>
		<comments>http://agungpoku.wordpress.com/2011/11/20/konspirasi-pendek/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Nov 2011 22:37:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agungpoku</dc:creator>
				<category><![CDATA[cepen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen agung poku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungpoku.wordpress.com/?p=717</guid>
		<description><![CDATA[Ada juga terpikirkan olehnya untuk meninggalkan meja kerja. Berjalan menyusuri pantai dan melupakan tumpukan kertas, laporan keuangan, serta kerumitan hitung-hitungan untung rugi pada layar komputer. Tapi kali ini dia memang tak bisa berlaku demikian. Minto, direktur keuangan datang tadi pagi, dan mendesaknya dengan banyak pertanyaan. Sungguh menyakitkan, bahwa pertanyaan-pertanyaan Minto tak satu pun dimengertinya. Halnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agungpoku.wordpress.com&amp;blog=4874603&amp;post=717&amp;subd=agungpoku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_718" class="wp-caption alignright" style="width: 262px"><a href="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/11/images.jpg"><img class="size-full wp-image-718 " title="conspiracy and paranoia (http://fineartamerica.com)" src="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/11/images.jpg?w=510" alt="conspiracy and paranoia (http://fineartamerica.com)"   /></a><p class="wp-caption-text">conspiracy and paranoia (http://fineartamerica.com)</p></div>
<p style="text-align:left;">Ada juga terpikirkan olehnya untuk meninggalkan meja kerja. Berjalan menyusuri pantai dan melupakan tumpukan kertas, laporan keuangan, serta kerumitan hitung-hitungan untung rugi pada layar komputer. Tapi kali ini dia memang tak bisa berlaku demikian. Minto, direktur keuangan datang tadi pagi, dan mendesaknya dengan banyak pertanyaan. Sungguh menyakitkan, bahwa pertanyaan-pertanyaan Minto tak satu pun dimengertinya. Halnya tak jauh dari urusan keuangan. Minto marah besar, sebab direktur utama mengancam akan memecatnya jika pada laporan yang berikutnya tak sesuai fakta lapangan. Sekali lagi Moryana menghela nafas panjang, serta membaca beberapa ayat suci untuk menenangkan diri. Tapi sama sekali tak membantu. Dia lupa bahwa air teh sudah beku dalam gelas, di meja kerjanya.</p>
<p>Minggu berikutnya, datang surat mendadak. Yane sebagai pemimpin cabang, Marviral si kepala gudang, dan dia sendiri, Moryana sebagai pembuat laporan keuangan, dipanggil untuk menghadap direktur utama di Jakarta. Esok hari mereka berangkat. Dalam bus, Moryana sama sekali tak betah. Dia bingung perihal apa mereka mendapat panggilan tiba-tiba. Yang jelas ini bukan persoalan sepele. Dan hal lain yang mengganggu, Marviral tak henti-hentinya merokok dalam bus. Terbayang lagi olehnya suasana senja di pantai. Lampu-lampu mercusuar di atas bukit. Dinginnya hawa pegunungan saat liburan. Tapi kali ini dia berada dalam bus, melewati jalan rusak penuh kelok. Sekali Moryana bertanya pada Yane:<span id="more-717"></span></p>
<p>&#8220;Bu, persoalan apa kita harus menghadap direktur utama?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tak tahu. Kita akan tahu setelah tiba di Jakarta besok.&#8221; Yane melanjutkan tidur.</p>
<p>Terdengar olehnya suara Marviral yang berat, menyeletuk:</p>
<p>&#8220;Ah, paling persoalan keuangan. Si bangsat Minto melibatkan kita. Kalau saja benar, akan ku kubur hidup-hidup si rambut putih itu.&#8221; Marviral membakar rokoknya, entah batang yang keberapa.</p>
<p>Moryana tak mau menanggapi. Memang begitu sifat Marviral, Moryana tahu betul itu. Kadang di kantor, Marviral memarahi orang sembarangan, sambil memperlihatkan tatonya. Dia selalu bersikap sebagai bos besar yang ingin dituruti segala kemauannya. Tapi kerjanya bagus dan segala-galanya dikerjakan dengan teliti. Hanya sifatnya saja yang tak disukai orang-orang kantor. Kini Moryana memikirkan perkataan Marviral tadi. Jika saja benar, persoalan keuangan kantor, dia sebagai pembuat laporan keuangan menjadi tersangka. Tapi terlambat. Sekarang dia berada dalam bus yang sedang melaju menuju pelabuhan. Besok siang mereka tiba di Jakarta.</p>
<p>Moryana tercengang melihat kantor pusat, kantor si direktur utama bekerja. Gedung yang tinggi dan megah. Puluhan pegawai berpakaian rapi, lalu-lalang tanpa senyum, naik turun tangga. Sangat sibuk. Tak seperti kantornya, kantor cabang di pelosok sana. Berpuluh-puluh truk mengangkut sawit, memenuhi gudang dengan bau lemak, yang nantinya menjadi koper-koper penuh uang. Tapi sampai saat ini dia bekerja di sana, belum sekalipun kantornya direnovasi.</p>
<p>Mereka menemui direktur utama di ruang kerjanya. Si bos yang gemuk dan botak itu duduk di kursinya. Minto juga ada di sana, seperti mayat hidup. Wajahnya tak bersahabat. Dan mulailah interogasi.</p>
<p>&#8220;Bu Yane, tolong jelaskan, mengapa warga menuntut ganti rugi lahan?&#8221; Pertanyaan awal direktur utama terasa dingin. Mereka duduk berhadap-hadapan, saling menatap wajah yang kusut.</p>
<p>&#8220;Tentu saja, pak. Tanah mereka harus dibayarkan. Ekspansi kita sampai ke pelosok. Tanah-tanah mereka tentu tidak gratis.&#8221; Yane terlihat berani saat berbicara. Dia memang wanita yang keras. Satu-satunya yang disegani Marviral adalah tatapannya yang menciutkan nyali.</p>
<p>&#8220;Baiklah. Uang yang diperuntukan membayar lahan warga, sudah turun ke semua kantor cabang. Bahkan di daerah pelosok tempat Bu Yane memimpin.&#8221;</p>
<p>Yane terpancing emosinya.</p>
<p>&#8220;Uang? Uang yang mana? Saya sama sekali tak mendapat laporan apapun mengenai itu.&#8221;</p>
<p>Semua mata kini tertuju pada Minto, yang terlihat kaku dan sedari tadi menguap.</p>
<p>&#8220;Dan juga laporan keuangan soal pembayaran tanah warga, sudah sampai ke sini. Pak Minto yang membawanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya sendiri yang membuat laporan itu, pak.&#8221; Moryana menyambar.</p>
<p>&#8220;Benar, pak. Produksi terakhir juga sudah saya data. Kata pak Minto akan digunakan untuk mengganti kucuran dana dari pusat. Produksi yang akan datang, saya pastikan akan berlebih. Semua tertata rapi di gudang.&#8221; Giliran Marviral berbicara.</p>
<p>&#8220;Bagaimana, Bu Yane?&#8221; tanya direktur utama menohok.</p>
<p>Dalam beberapa detik suasana bagaikan kuburan. Sepi. Hanya suara nafas Marviral yang terdengar mendengus keras. Bu Yane, si wanita keras itu terdiam. Bibirnya bergetar hebat. Matanya berkaca-kaca. Dengan ragu-ragu dia menangis.</p>
<p>Esok hari mereka bertolak dari Jakarta. Sepanjang perjalanan, Yane memerlukan pundak Moryana untuk bersandar. Kali ini dia benar-benar menangis. Moryana, si gadis lembut itu, juga ikut menangis. Hanya Marviral terlihat santai. Terus menerus menghembuskan asap rokok. Mereka tak perlu lagi berkemas, mengambil barang-barang dari kantor, karena kantor mereka sudah rata dengan tanah. Warga mengamuk dan membakar perkebunan sawit. Minto dan Marviral ditarik ke kantor pusat. Yane entah ke mana.</p>
<p>Aroma pantai tercium juga di hidung Moryana. Dia duduk menikmati senja. Menggosok-gosokkan kakinya pada pasir. Dia tak perlu lagi membuat laporan keuangan, atau memandangi tumpukan kertas. Kali ini dia terbebas dari segalanya. Dia tak mengerti sepenuhnya, perihal apa yang terjadi. Oh, betapa lugu Moryana. Dia selalu hanyut dalam senja di pinggir pantai.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>- Jogja, pada November 2011</em></p>
<p><strong>Agung Poku</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agungpoku.wordpress.com/717/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agungpoku.wordpress.com/717/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agungpoku.wordpress.com/717/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agungpoku.wordpress.com/717/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agungpoku.wordpress.com/717/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agungpoku.wordpress.com/717/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agungpoku.wordpress.com/717/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agungpoku.wordpress.com/717/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agungpoku.wordpress.com/717/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agungpoku.wordpress.com/717/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agungpoku.wordpress.com/717/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agungpoku.wordpress.com/717/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agungpoku.wordpress.com/717/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agungpoku.wordpress.com/717/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agungpoku.wordpress.com&amp;blog=4874603&amp;post=717&amp;subd=agungpoku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungpoku.wordpress.com/2011/11/20/konspirasi-pendek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		<georss:point>-12.828948 111.093750</georss:point>
		<geo:lat>-12.828948</geo:lat>
		<geo:long>111.093750</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1f8d7cde4913f8377ea5a8b4a1853da6?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agung poku</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/11/images.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">conspiracy and paranoia (http://fineartamerica.com)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gerak kesunyian</title>
		<link>http://agungpoku.wordpress.com/2011/10/08/gerak-kesunyian/</link>
		<comments>http://agungpoku.wordpress.com/2011/10/08/gerak-kesunyian/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Oct 2011 03:34:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agungpoku</dc:creator>
				<category><![CDATA[1000 burung kertas]]></category>
		<category><![CDATA[seribu burung kertas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungpoku.wordpress.com/?p=712</guid>
		<description><![CDATA[Bagiku kemandirian individu adalah cara yang paling sunyi melawan pemerintah. Lantas muncul pertanyaan-pertanyaan, mengapa harus melawan dan apa pula hubungannya dengan pemerintah. Tak disangkal bahwa beberapa prosen kebebasan manusia terikat atas apa yang ada di atasnya. Meski pun kebebasan adalah wujud dari totalitas kehidupan. Tak ada yang bisa dikekang dari manusia, meski pun secara sadar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agungpoku.wordpress.com&amp;blog=4874603&amp;post=712&amp;subd=agungpoku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagiku kemandirian individu adalah cara yang paling sunyi melawan pemerintah. Lantas muncul pertanyaan-pertanyaan, mengapa harus melawan dan apa pula hubungannya dengan pemerintah. Tak disangkal bahwa beberapa prosen kebebasan manusia terikat atas apa yang ada di atasnya. Meski pun kebebasan adalah wujud dari totalitas kehidupan. Tak ada yang bisa dikekang dari manusia, meski pun secara sadar bahwa jiwa-jiwa kebebasan adalah roh yang tak pernah berhenti mencari pemahaman kehidupan. Dan yang disadari adalah manusia sebagai mahluk sosial, disamping ke dalam bahwa dia juga adalah pemilik diri. Jauh sebelum peradaban manusia, apalagi jika dibandingkan dengan masa kini, manusia adalah mata kaki dan hatinya. Dan tak bisa dipungkiri sejak dulu berlaku keteraturan untuk mengatur tata cara, perilaku manusia dalam alam lingkungannya.</p>
<p>Penguasa-penguasa hadir dengan jarak yang amat tipis antara egoisme dan keterpanggilan mengabdi. Kerajaan-kerajaan runtuh dengan berbagai cara. Dan yang paling membanggakan adalah kerajaan yang dijatuhkan oleh penggabungan kekuatan. Penguasa mati dan yang lain tumbuh. Dia hadir sebagai pengatur kehidupan manusia dalam sosial masyarakat. Situasi yang hadir dari generasi ke generasi adalah sama, bahwa dia diikat oleh aturan yang dibuat penguasa. Amat tipis memang, antara pengabdian dan egoisme yang kemudian memunculkan tangan-tangan besi dalam hal mengatur kehidupan manusia. Semua itu diterima sebagai sebuah kewajaran yang pada satu sisi sangat bengis. Kekuatan penguasa merangkul individu-individu yang mau tunduk di bawah pembagian kekuasaan.</p>
<p>Aku selalu percaya bahwa manusia akan keluar dan memberontak, ketika batas-batas kewajaran atas hak kebebasan itu disepelehkan. Penguasa jelas sadar pada tugas utamanya, yaitu mengolah segala kekuasaannya untuk kesejahteraan manusia dibawah pimpinannya. Jiwa-jiwa yang sunyi akan memberontak dan kemandirian akan hadir. Sebuah logika sederhana yaitu jika semua manusia pada akhirnya mandiri, lantas apa guna penguasa, apa guna pemerintah. Sekali lagi aku teringat Marx. Sebuah impian yang teramat tinggi untuk kehidupan manusia. Tapi aku menginginkannya. Jiwa-jiwa yang sunyi akan memberontak.</p>
<div id="attachment_666" class="wp-caption aligncenter" style="width: 165px"><a href="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/06/168579_1544091410480_1480858338_31178345_7700711_n.jpg"><img class="size-medium wp-image-666" title="1000burungkertas" src="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/06/168579_1544091410480_1480858338_31178345_7700711_n.jpg?w=155&#038;h=300" alt="1000burungkertas.org" width="155" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">1000burungkertas.org</p></div>
<p>Apa guna belajar tinggi-tinggi jika akhirnya tak terapakai. Ku amini Einstein: <em>&#8220;Ilmu bukanlah tujuan akhir. Tapi ia adalah cara untuk mewujudkan tujuan!&#8221;</em></p>
<p>Egoisme segelintir orang dalam memerintah tetap harus dilawan dengan kemandirian. Sebuah pokok keterpanggilan manusia dalam kehidupan. Yang diperlukan adalah menyatukan kekuatan, berserikat, kemudian bergerak menuju kemandirian. Oh, betapa lugunya aku berkata bahwa itu adalah pengabdian pada umat manusia. Tapi aku selalu percaya bahwa jiwa-jiwa yang sunyi akan memberontak keluar!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>-Jogja, Oktober 2011</em></p>
<p><strong>Agung Poku</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agungpoku.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agungpoku.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agungpoku.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agungpoku.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agungpoku.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agungpoku.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agungpoku.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agungpoku.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agungpoku.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agungpoku.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agungpoku.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agungpoku.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agungpoku.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agungpoku.wordpress.com/712/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agungpoku.wordpress.com&amp;blog=4874603&amp;post=712&amp;subd=agungpoku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungpoku.wordpress.com/2011/10/08/gerak-kesunyian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		<georss:point>-12.828948 111.093750</georss:point>
		<geo:lat>-12.828948</geo:lat>
		<geo:long>111.093750</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1f8d7cde4913f8377ea5a8b4a1853da6?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agung poku</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/06/168579_1544091410480_1480858338_31178345_7700711_n.jpg?w=155" medium="image">
			<media:title type="html">1000burungkertas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lelaki Yang Lapar</title>
		<link>http://agungpoku.wordpress.com/2011/09/04/lelaki-yang-lapar/</link>
		<comments>http://agungpoku.wordpress.com/2011/09/04/lelaki-yang-lapar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Sep 2011 19:47:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agungpoku</dc:creator>
				<category><![CDATA[cepen]]></category>
		<category><![CDATA[Canting Blogroll September]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen agung poku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungpoku.wordpress.com/?p=697</guid>
		<description><![CDATA[Lelaki itu berdiam diri di sudut kamarnya. Sebuah kamar yang tak luas, bercat hijau lembut seperti pucuk pisang. Sebuah kasur yang cukup empuk dan lemari kayu berisi buku-buku mempertegas bahwa di situ sangat sempit. Belum lagi jika kawan-kawannya datang mengunjunginya. Mereka akan berbincang-bincang di atas kasur dan seorang cukup duduk di depan pintu kamar. Hanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agungpoku.wordpress.com&amp;blog=4874603&amp;post=697&amp;subd=agungpoku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_703" class="wp-caption alignright" style="width: 192px"><a href="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/09/chagall-bc1.jpg"><img class="size-medium wp-image-703" title="Marc Chagall - The Bridal Couple - 1927-1935 (famousartgallery)" src="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/09/chagall-bc1.jpg?w=182&#038;h=300" alt="Marc Chagall - The Bridal Couple - 1927-1935 (famousartgallery)" width="182" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Marc Chagall - The Bridal Couple - 1927-1935 (famousartgallery)</p></div>
<p style="text-align:justify;">Lelaki itu berdiam diri di sudut kamarnya. Sebuah kamar yang tak luas, bercat hijau lembut seperti pucuk pisang. Sebuah kasur yang cukup empuk dan lemari kayu berisi buku-buku mempertegas bahwa di situ sangat sempit. Belum lagi jika kawan-kawannya datang mengunjunginya. Mereka akan berbincang-bincang di atas kasur dan seorang cukup duduk di depan pintu kamar. Hanya di tempat itu yang membuat nafas mereka tak terlalu sesak.</p>
<p style="text-align:justify;">Lelaki itu terus meraih botol air dan meneguknya dalam-dalam. Sambil terus membaca, dia meneguk air putih, sangat rakus. Sesekali perutnya berbunyi, seperti ada seekor anak anjing yang sedang tidur pulas dalam perutnya. Terus mendengkur dan mendengkur sangat keras. Lelaki itu sedang menahan lapar. Sudah dua hari dia tak makan. Hanya air putih yang terus diteguknya.Uang dia tak punya, apalagi dapur untuk memasak, sama sekali tak ada. Harga sewa kamar di Babadan cukup mahal, apalagi ditambah dapur, akan berkisar tiga ratus ribu rupiah per bulan. Beruntung adik seorang pastor yang dikenalnya dalam sebuah misa, mengajaknya untuk menempati sebuah kamar dengan harga sewa cukup murah. Hanya seratus lima puluh ribu rupiah setiap bulan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertemuannya dengan Bu Rine dalam sebuah misa, terjadi secara tak sengaja. Minggu pagi dia mengenakan sepatu <em>boot</em> butut pemberian kakaknya dan duduk di kursi paling belakang. Bu Rine duduk di sampingnya. Dan selama misa berlangsung, Bu Rine terus memperhatikan sepatu bututnya. Ketika misa berakhir dan orang-orang berbaris di pintu keluar, Bu Rine tetap duduk di sampingnya dan menangis, membuat polesan bedak di pipinya terhapus. Lelaki itu kaget karena Bu Rine terus menatapnya sambil membiarkan air mata mengucur sampai ke dagunya.<span id="more-697"></span></p>
<p style="text-align:justify;">“Mengapa Ibu menangis?” Tanya lelaki itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Melihat sepatumu, aku teringat ketika masih berumur sepuluh tahun.” Bu Rine menyeka air matanya. Lelaki itu mulai merasa bersalah, tanpa tahu apa sebabnya. Hanya dia merasa bersalah melihat seoarang perempuan menangis di depannya. Tiba-tiba dia teringat ibunya di suatu tempat yang jauh.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku dihadiahi sepasang sepatu yang sangat bagus dan mahal, pada malam natal. Ayahku tahu bahwa sudah lama aku menginginkannya. Ku pakai sepatu itu menari-nari di malam natal dan menyimpan sepatu bututku di rak. Sampai natal tahun berikutnya, ayahku meninggal dalam sebuah kecelakaan.” Bu Rine kembali menangis.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sangat disayangkan. Tentu dia sangat menyayangi Ibu.” Lelaki itu mengungkapkan keprihatinannya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Dari tadi ku perhatikan sepatumu yang, maaf, butut. Aku teringat ayahku. Dia sangat menyayangiku dan dia tahu bahwa sepatuku yang lama tak layak pakai, maka dia menghadiahkan padaku yang baru. Sangat bagus.” Kini mata Bu Rine bersinar. Wajahnya merekah. Dia memang cantik dan pandai merawat diri.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka terburu-buru sadar, suasana sepi, tinggal mereka berdua di dalam gereja. Burung-burung gereja mengisi pagi di jendela. Bersahut-sahutan dan terbang di atas deretan bangku kosong. Mereka berdiri dan keluar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Siapa namamu, Nak?” Tanya Bu Rine.</p>
<p style="text-align:justify;">“Markias.” Jawab lelaki itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Markias. Kau pasti berasal dari luar Jogja. Di mana itu?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ku rasa itu tak penting, Bu. Sekarang aku di sini, dan aku seorang Jogja.” Jawab lelaki itu. Mereka bersalaman.</p>
<p style="text-align:justify;">“Baiklah, Nak Markias. Mari mapir ke rumahku. Tak jauh dari sini.” Ajak Bu Rine.</p>
<p style="text-align:justify;">Rumah Bu Rine terletak di daerah Babadan. Tempat yang ramai dan rumah-rumah berhimpitan. Anak-anak kecil tak pernah berhenti berlari-lari sepanjang jalan, dari siang sampai sore. Rumah yang bersih dan penuh dengan pot-pot berisi bunga beragam jenis. Juga di ruang tamu, berdiri patung-patung dengan berbagai karakter. Dan yang menarik adalah sebuah lukisan yang tergantung di sebelah tangga. Seorang wanita cantik yang memakai gaun berwarna putih dan tangan kirinya memegang gelas berisi air yang kemerah-merahan. Mungkin anggur. Pikir lelaki itu. Lelaki itu terus memandangi lukisan. Nampaknya dia sangat menyukainya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Itu aku, pada hari pernikahanku. Dua puluh tahun lalu.” Bu Rine memberi keterangan, karena melihat si lelaki tak melepas pandangannya dari lukisan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sangat cantik. Siapa yang melukisnya?” Tanya si lelaki penasaran.</p>
<p style="text-align:justify;">“Suamiku.” Jawab Bu Rine datar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Di mana dia sekarang?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ku rasa itu tak penting, Nak.”</p>
<p style="text-align:justify;">Buru-buru si lelaki meminta maaf. Dia tak ingin tahu lebih jauh soal rumah tangga orang. Mereka bercakap-cakap layaknya seoarang ibu pada anaknya. Begitu juga seorang anak pada ibunya. Sangat mesra. Bu Rine sangat menyukai lelaki itu. Tiba-tiba dia sayang padanya, walaupun baru sekali mereka bertemu. Dan pada yang lain, si lelaki itu merasa bahwa Bu Rine adalah jelmaan ibunya. Tapi masing-masing dari mereka menyembunyikan hal-hal yang sangat pribadi. Meski mereka terlihat sangat mesra, tapi mereka tak ingin diketahui lebih jauh.</p>
<p style="text-align:justify;">Bu Rine menawarkan kamar di dekat garasi. Tanpa ditarik uang sewa, katanya. Si lelaki jelas tak mau. Dia senang mendapat tawaran untuk tinggal di tempat yang baru. Tapi dia akan tetap membayar uang sewa. Mereka bersepakat. Seratus lima puluh ribu rupiah per bulan. Dua hari kemudian, si lelaki menempati kamar dekat garasi Bu Rine. Dia mulai betah, apalagi suasana di halaman sangat sejuk. Banyak bunga-bunga dan kupu-kupu warna-warni. Meski sesekali suara bising kendaraan mengganggu tidur siangnya. Bu Rine sangat baik padanya. Sering dia diajak makan siang bersama di dapurnya. Kadang-kadang si lelaki menolaknya dengan sopan. Dia tak ingin bergantung pada perempuan yang baik hati itu, meski dia sangat menghargai ketulusannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebulan kemudian seorang pria datang dan langsung masuk ke dalam rumah Bu Rine, tanpa permisi. Si lelaki melihatnya. Mungkin itu saudaranya, pikir si lelaki, melihat tamu yang datang itu sepertinya sudah terbiasa dengan keadaaan di situ. Pria itu mungkin seumuran dengan Bu Rine. Mereka bercakap-cakap di dapur dan tiba-tiba terjadi pertengkaran hebat. Pria yang datang itu berbicara dengan sangat keras, tanpa peduli apakah tetangga akan mendengarnya. Bu Rine sesekali membalas hardikannya. Pria itu kemudian pergi, meninggalkan Bu Rine sesenggukan di dapur. Si lelaki ingin sekali mencegat pria itu dan memukulnya sampai berdarah. Tapi dia tak ingin mencampuri urusan orang. Di sisi lain, dia tak tega melihat perlakuan kasar yang dilakukan pria tadi pada Bu Rine. Menghardiknya. Diambilnya sebuah buku dan membacanya di sudut kamar, sambil terus meneguk air putih, sangat rakus. Terdengar isak Bu Rine dari dapur. Si lelaki ingin mendekatinya, tapi lagi-lagi dia tak mau mencampuri urusan orang lain. Maka diteruskan saja membaca. Tiba-tiba Bu Rine datang ke kamarnya, membawa dua botol bir. Matanya lebam, kebiru-biruan, sangat pucat.</p>
<p style="text-align:justify;">“Nak, temani aku minum. Aku sangat haus hari ini.” Bu Rine menyodorkan sebotol bir.</p>
<p style="text-align:justify;">“Siapa tadi?” si lelaki memberanikan diri bertanya meski dengan ragu-ragu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ku rasa itu tak penting, Nak.” Jawabnya, kemudian menenggak bir.</p>
<p style="text-align:justify;">“Diakah yang melukismu?” kini si lelaki semakin berani bertanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Bu Rine mengangguk dan tersenyum pahit. Pahit sekali. Si lelaki meremas-remas botol bir di hadapannya. Dia ingin sekali minum, tapi kali ini dia sangat lapar. Disimpannya buku di rak dan menenggak bir, menemani Bu Rine yang kini menangis lagi. Dia ingin sekali mengejar pria tadi dan memukulnya sampai puas. Tapi kali ini dia sadar, bahwa dia sangat lapar.</p>
<p style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p style="text-align:justify;">-   Jogja, Septermber 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agungpoku.wordpress.com/697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agungpoku.wordpress.com/697/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agungpoku.wordpress.com/697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agungpoku.wordpress.com/697/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agungpoku.wordpress.com/697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agungpoku.wordpress.com/697/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agungpoku.wordpress.com/697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agungpoku.wordpress.com/697/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agungpoku.wordpress.com/697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agungpoku.wordpress.com/697/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agungpoku.wordpress.com/697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agungpoku.wordpress.com/697/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agungpoku.wordpress.com/697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agungpoku.wordpress.com/697/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agungpoku.wordpress.com&amp;blog=4874603&amp;post=697&amp;subd=agungpoku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungpoku.wordpress.com/2011/09/04/lelaki-yang-lapar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		<georss:point>-12.828948 111.093750</georss:point>
		<geo:lat>-12.828948</geo:lat>
		<geo:long>111.093750</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1f8d7cde4913f8377ea5a8b4a1853da6?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agung poku</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/09/chagall-bc1.jpg?w=182" medium="image">
			<media:title type="html">Marc Chagall - The Bridal Couple - 1927-1935 (famousartgallery)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sup Buncis Untuk Ruduh</title>
		<link>http://agungpoku.wordpress.com/2011/08/28/sup-buncis-untuk-ruduh/</link>
		<comments>http://agungpoku.wordpress.com/2011/08/28/sup-buncis-untuk-ruduh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Aug 2011 00:38:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agungpoku</dc:creator>
				<category><![CDATA[cepen]]></category>
		<category><![CDATA[Canting]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungpoku.wordpress.com/?p=691</guid>
		<description><![CDATA[Di sisi gunung Pontoa terdapat sebidang tanah miring. Tanah yang cukup luas dan sangat subur. Sebagian dari tanah itu ditanami vanili, dan sisanya berisi sayuran. Sepasang suami istri mengolahnya dengan ulet, hingga setiap orang yang melihat hasil panen mereka akan merasa rasa iri, terutama mereka yang sama sekali tak mempunyai apa-apa. Petani itu bernama Ruduh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agungpoku.wordpress.com&amp;blog=4874603&amp;post=691&amp;subd=agungpoku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_692" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/08/miro-vg.jpg"><img class="size-medium wp-image-692" title="Joan Miró - Vegetable Garden with Donkey - 1918 (famoust art gallery)" src="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/08/miro-vg.jpg?w=300&#038;h=269" alt="Joan Miró - Vegetable Garden with Donkey - 1918 (famoust art gallery)" width="300" height="269" /></a><p class="wp-caption-text">Joan Miró - Vegetable Garden with Donkey - 1918 (famoust art gallery)</p></div>
<p style="text-align:justify;">Di sisi gunung Pontoa terdapat sebidang tanah miring. Tanah yang cukup luas dan sangat subur. Sebagian dari tanah itu ditanami vanili, dan sisanya berisi sayuran. Sepasang suami istri mengolahnya dengan ulet, hingga setiap orang yang melihat hasil panen mereka akan merasa rasa iri, terutama mereka yang sama sekali tak mempunyai apa-apa. Petani itu bernama Ruduh dan istrinya Solina. Mereka bekerja sebelum matahari terbit dan berhenti setelah matahari tenggelam di balik gunung Pontoa. Sore hari mereka duduk-duduk sambil membersihkan diri di sebuah sungai yang sangat jernih, dekat kebun sayur. Dan sekali waktu tanpa sengaja aku bertemu Ruduh sedang mencuci badannya di pinggir sungai. Dia melambaikan tangan, melebarkan senyum hingga kumisnya yang lebat menyentuh sisi pipinya yang runcing.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mampir, Dik.&#8221; serunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan perasaan senang, ku hampiri Ruduh. Dia selalu tampak riang seperti biasanya. Keriput di bawah matanya mulai nampak jelas. Begitu juga rambut putih yang semakin tebal menutupi kepalanya. Yang tetap adalah deretan giginya yang kelihatan kuat dan putih, tidak seperti kebanyakan orang yang mengalamai penuaan.<span id="more-691"></span></p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Apa yang kau bawa di keranjangmu?&#8221; tunjuknya pada keranjang di bahuku.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Sedikit buncis. Paman Mauri menyuruhku mengambilnya sedikit di kebun.&#8221; kataku sambil meniru gayanya, duduk dan mencelupkan kaki ke dalam air. Perasaan hangat segera melingkupi, melihat matahari yang pelan-pelan menyembunyikan diri di balik gunung Pontoa, juga suara air sungai yang mengalir berdesir, menggoyang-goyangkan kakiku. Kami terdiam beberapa saat, sama-sama menikmati pemandangan yang sangat indah.</p>
<p style="text-align:justify;">Tiba-tiba Ruduh berdiri dan menepuk bahuku.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mulai gelap. Ayo ke gubukku, kita makan malam. Tentu kau lapar, bukan?&#8221; ajaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku melompat, menyetujui ajakannya. Lagi pula aku membawa sedikit buncis segar dan beberapa dapat kami masak untuk makan malam. Kami melintasi jalan setapak yang dipagari alang-alang. Segerombolan kunang-kunang mengawasi kami dari kejauhan. Sekarang benar-benar gelap ketika kami sampai di gubuk Ruduh. Sebuah gubuk kecil berdinding papan, terbuat dari kayu keras.Atapnya terbuat dari rumbia, tertata rapi tanpa celah, sehingga api yang menyala di dapur tak tampak dari luar. Ruduh dan istrinya yang menjahitnya sendiri. Melihat kedatangan kami, Solina berseru:</p>
<p style="text-align:justify;">“Baguslah kau mampir, Nak. Aku memasak cukup banyak untuk makan malam.” Solina girang karena kedatanganku. Selain itu mereka kesepian. Mereka belum mempunyai anak dan tak mungkin akan punya karena persoalan umur. Ku keluarkan seikat buncis dari keranjang.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ini ada sedikit buncis dari kebun Paman Mauri. Masih segar-segar. Mungkin dapat menambah persediaan makan malam kita, Ibu.” Ku bawakan seikat buncis dan segera mencucinya. Sedang Solina terlihat sibuk meniup api di tungku. Dia terbatuk-batuk. Segera ku gantikan pekerjaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Wah, buncis segar. Baiknya dibuat sup. Pakai babi, tidak? Aku punya sedikit daging babi hutan pemberian pendeta Thomas kemarin.” Saran Solina.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tersenyum, menggeleng.</p>
<p style="text-align:justify;">“”Ah ya, kau tak makan babi? Maaf, maafkan aku, Nak.” Buru-buru Solina meminta maaf.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tidak perlu minta maaf, Ibu. Aku hargai kebaikanmu.” Sambutku tersenyum.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku dan Solina sibuk di dapur. Sedang Ruduh memasang lampu pelita dan merapikan meja makan. Kami tampak seperti sebuah keluarga, dan aku anaknya. Sementara menunggui sup buncis matang, kami duduk melingkari meja makan. Ruduh mengambil Injil dan mulai membukanya halaman demi halaman. Penuh perhatian dia membacanya. Yang ku ketahui tetang Ruduh, bapaknya seorang pendeta. Dalam struktur keluarga, bapaknya masih keturunan bangsawan yang dulu menjadi raja di tanah ini. Dengan demikian, Ruduh pun masih mempunyai hak kebangsawanan, terutama dalam menguasai tanah-tanah pembagian kerajaan dulu. Semua saudaranya mendapatkan tanah yang luas, berikut dengan pekerja-pekerja sukarela untuk menggarap tanah. Tapi Ruduh menolaknya. Hanya dia dari seluruh pewaris yang akhirnya membeli tanah dan mengolahnya sendiri, kini bersama istrinya Solina.</p>
<p style="text-align:justify;">Katanya:</p>
<p style="text-align:justify;">“Jangankan tanah, istri pun dicarikan. Kalau perlu anak perawan dipaksa untuk dikawinkan. Sungguh aku bukan bagian dari keluargaku, aku juga bukan turunan raja moyangku.”</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan caci maki keluarganya, Ruduh menikahi Solina, anak seorang pembelah kayu di kaki gunung Pontoa. Dan mereka mengasingkan diri dari hiruk pikuk perebutan hak kesulungan di keluarganya. Sedang Ruduh sendiri adalah anak tertua, lelaki pula.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sup buncis sudah matang. Mari kita makan.” Seru Solina dari dapur.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami duduk menghadapi meja makan. Uap yang naik dari dalam mangkuk berkepul-kepul menggelitik rasa lapar. Kami saling pandang, menunggu seorang dari kami untuk memulai.</p>
<p style="text-align:justify;">“Nak, berdoalah untuk makan malam kita.” Pinta Ruduh</p>
<p style="text-align:justify;">“Bapak saja.” Aku menolak sungkan. Dia mengangguk, mengamini.</p>
<p style="text-align:justify;">Ruduh mulai berdoa:</p>
<p style="text-align:justify;">“Sup buncis ini ada karena Paman Mauri yang menanamnya. Solina dan pemuda manis ini yang memasaknya. Kiranya diberkatilah mereka, semuanya. Amin.”</p>
<p style="text-align:justify;">Kami menyantapnya sangat lahap diselingi lelucon yang membuat kami terbahak-bahak. Seperti sebuah keluarga kecil yang amat bahagia. Dan aku sendiri sangat bahagia, meski pun akhirnya aku sedih, karena hari itu adalah hari terakhir ku melihat Ruduh. Seminggu berikutnya dia sudah tiada. Dia pergi tanpa sakit dan erangan, layaknya pria tua yang tegar. Pendeta Thomas yang memimpin ibadah pengkuburannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap kali aku melintas di tepi sungai, aku teringat Ruduh. Sering ku kunjungi Solina, membawakannya buncis dari kebun paman Mauri. Kami memasaknya sebagai pengingat bahwa seorang pria tua bernama Ruduh pernah hidup.[]</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"> <em>- Jogja, Agustus 2011</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Agung Poku</strong></p>
<p style="text-align:justify;">*) catatan: tulisan ini ikut menyemarakkan semangArt Canting bulan Agustus dengan tema Nasionalisme. Saya sendiri tak yakin bahwa tulisan ini berkaitan jelas dengan tema Nasionalisme, apalagi secara praktis. Tapi ini yang bisa saya tulis dan utang terbayar lunas. Ha ha ha <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agungpoku.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agungpoku.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agungpoku.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agungpoku.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agungpoku.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agungpoku.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agungpoku.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agungpoku.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agungpoku.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agungpoku.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agungpoku.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agungpoku.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agungpoku.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agungpoku.wordpress.com/691/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agungpoku.wordpress.com&amp;blog=4874603&amp;post=691&amp;subd=agungpoku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungpoku.wordpress.com/2011/08/28/sup-buncis-untuk-ruduh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		<georss:point>-12.828948 111.093750</georss:point>
		<geo:lat>-12.828948</geo:lat>
		<geo:long>111.093750</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1f8d7cde4913f8377ea5a8b4a1853da6?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agung poku</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/08/miro-vg.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Joan Miró - Vegetable Garden with Donkey - 1918 (famoust art gallery)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bapak Notna</title>
		<link>http://agungpoku.wordpress.com/2011/08/07/bapak-notna/</link>
		<comments>http://agungpoku.wordpress.com/2011/08/07/bapak-notna/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Aug 2011 17:19:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agungpoku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agung Poku]]></category>
		<category><![CDATA[cepen]]></category>
		<category><![CDATA[bapak Notna]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen agung poku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungpoku.wordpress.com/?p=682</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini aku mendengar kabar, bapak Notna meninggal. Kata saudaraku begitu. Sebabnya sungguh lucu, ku kira dia mati karena alkohol yang membakar paru-parunya. Dia meninggal setelah terjatuh dari pohon enau, ketika hendak menyuling saguer. Dulu bapak Notna pernah berkata: &#8220;Suatu kali nanti jika aku mati, hanya alkohol yang berhak membakar diriku. Bukan orang-orang busuk!&#8221; Itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agungpoku.wordpress.com&amp;blog=4874603&amp;post=682&amp;subd=agungpoku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_683" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/08/rular-motives.jpg"><img class="size-medium wp-image-683" title="Rular Motives/sgallery.net" src="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/08/rular-motives.jpg?w=300&#038;h=209" alt="Rular Motives/sgallery.net" width="300" height="209" /></a><p class="wp-caption-text">Rular Motives/sgallery.net</p></div>
<p>Hari ini aku mendengar kabar, bapak Notna meninggal. Kata saudaraku begitu. Sebabnya sungguh lucu, ku kira dia mati karena alkohol yang membakar paru-parunya. Dia meninggal setelah terjatuh dari pohon enau, ketika hendak menyuling saguer. Dulu bapak Notna pernah berkata:</p>
<p>&#8220;Suatu kali nanti jika aku mati, hanya alkohol yang berhak membakar diriku. Bukan orang-orang busuk!&#8221;</p>
<p>Itu kalimat terakhir yang ku dengar dari mulutnya. Dan kabar terakhir, dia sudah meninggal. Kasihan bapak Notna, batinku. Tak lagi ku dengar nyanyian pemabuk di sore hari, tatkala senja turun, dan dia lewat berkendara gerobak sapi. Dan tentang orang-orang busuk, begini ceritanya.<span id="more-682"></span></p>
<p>Suatu kali di kampungku terjadi perkelahian antara pemuda. Sialnya, perkelahian itu terjadi tepat di depan rumah bapak Notna. Dapat ku bayangkan bagaimana perubahan kerut-kerut di wajah singa tua itu. Dilemparkannya sebuah botol kaca. Prang!! Seorang pemuda roboh. Sekali lagi. Prang!! Terdengar jeritan panjang. Bapak Notna keluar rumah, telanjang dada, dibusungkan sedikit. Dia berhenti sejenak, menyulut tembakau dan bertanya dengan tenang:</p>
<p>&#8220;Ada apa ribut-ribut di depan rumahku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sialan! Itu dia si pemabuk tua!&#8221; seorang membentak.</p>
<p>Dengan lucunya, perkelahian antar pemuda itu berhenti. Mereka sekarang punya satu lawan, bapak Notna. Seorang di antara kerumunan melemparkan sebuah botol bensin ke atap rumbia. Bapak Notna memaki. Api disulut, dan dalam sekejap kobaran api menjilat atap rumah bapak Notna. Bukan main berangnya si singa tua itu. Dengan satu gerakan, dia menerobos masuk ke dalam rumah, mengambil sebilah parang. Dengan satu lompatan, dia menebas seseorang, tanpa daya korbannya roboh bersimbah darah. Seketika perkelahian yang tak seimbang terjadi. Seseorang melepas peluncur, bersarang di lengan kiri bapak Notna. Dia mengaum keras sekali, bagai induk singa yang meratapi kematian anaknya. Bulan di atas tenang-tenang saja. Api terus berkobar, mulai membakar rangka atap. Lima orang terlihat bergetar di atas tanah, penuh darah di kepala, kaki, perut. Yang empat mati seketika, satu sekarat.</p>
<p>Aku sendiri tak meragukan keberanian si singa tua itu. Kalau kau bertemu dengannya, coba perhatikan dada kirinya yang robek. Dulu waktu Belanda datang merongrong kampungku, kocar-kacir kulit putih itu, bayangkan saja kepala panglima mereka ditebas, setelah sebutir peluru bersarang di dada kiri singa tua itu.</p>
<p>Dan perkelahian satu lawan banyak itu, terus berlangsung. Sekarang tujuh orang terkapar. Lima orang mati, sedang yang lain kocar-kacir, lari tunggang-langgang menghindari tebasan parang bapak Notna. Dengan begitu, selesai sudah peristiwa malam itu. Pagi-pagi sekali, serombongan polisi datang menjemput bapak Notna. Diperlukan tiga orang polisi untuk membekap bapak Notna, padahal dia sendiri tak melakukan perlawanan.</p>
<p>Tanya jawab berlangsung di kantor polisi:</p>
<p>&#8220;Lima orang mati karena tebasanmu, bapak. Mengapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau salah. Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau biarkan mereka berkelahi di depan rumahku?&#8221; tantang bapak Notna, tanpa ragu sedikit pun.</p>
<p>&#8220;Sudahlah, bapak tua, sekarang kau di tanganku!&#8221;</p>
<p>&#8220;Imbu, ku tahu kau, ku kenal dekat kakekmu. Dulu waktu Belanda menyerang, hanya dia yang lari bersama penakut lainnya. Seperti kau sekarang ini. Persis betul kakekmu.&#8221; ditatapnya polisi yang bernama Imbu.</p>
<p>Berbekal cawat, bapak Notna dilemparkan ke dalam sel. Imbu sendiri yang menghantamnya dengan pentungan.</p>
<p>Dua hari sesudah peristiwa itu, perkelahian terjadi lagi, bahkan lebih besar. Ratusan orang berbekal senjata. Parang, tombak, peluncur dan ali-ali menjadi kebutuhan utama setelah nasi. Mobil jenazah bolak-balik mengangkut korban ke kota. Sisa-sisa pemuda yang berkelahi dengan bapak Notna, sekarang lari bersembunyi di hutan. Mereka tak lagi setiap saat mendampingi calon bupati yang mereka bela.  Dan calon-calon bupati meninggalkan arena pertikaian, atau lebih tepat memakai istilah cuci tangan. Lari ke ibu kota membawa sanak saudara dan harta.</p>
<p>Memang ku pikir kematian itu lucu. Sebab-musabab yang aneka ragam seringkali tak masuk akal. Dan satu per satu orang mati, seperti bapak Notna, singa tua itu. Dan kabar tentang polisi yang bernama Imbu, sekarang dia sudah mati ditembus peluncur para pemuda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>- Jogja, Agustus 2011</em></p>
<p><strong>Agung Poku</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agungpoku.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agungpoku.wordpress.com/682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agungpoku.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agungpoku.wordpress.com/682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agungpoku.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agungpoku.wordpress.com/682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agungpoku.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agungpoku.wordpress.com/682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agungpoku.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agungpoku.wordpress.com/682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agungpoku.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agungpoku.wordpress.com/682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agungpoku.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agungpoku.wordpress.com/682/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agungpoku.wordpress.com&amp;blog=4874603&amp;post=682&amp;subd=agungpoku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungpoku.wordpress.com/2011/08/07/bapak-notna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		<georss:point>-12.828948 111.093750</georss:point>
		<geo:lat>-12.828948</geo:lat>
		<geo:long>111.093750</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1f8d7cde4913f8377ea5a8b4a1853da6?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agung poku</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/08/rular-motives.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Rular Motives/sgallery.net</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Catatan Kecil dari Perjalanan Kecil</title>
		<link>http://agungpoku.wordpress.com/2011/07/19/sebuah-catatan-kecil-dari-perjalanan-kecil/</link>
		<comments>http://agungpoku.wordpress.com/2011/07/19/sebuah-catatan-kecil-dari-perjalanan-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jul 2011 09:54:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agungpoku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Canting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungpoku.wordpress.com/?p=670</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah Catatan Kecil Menyusuri Pantai Selatan<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agungpoku.wordpress.com&amp;blog=4874603&amp;post=670&amp;subd=agungpoku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;" align="center"><em>Rumahku dari unggun-unggun sajak</em><br />
<em> Kaca jernih dari segala nampak</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Kulari dari gedung lebar halaman</em><br />
<em> Aku tersesat tak dapat jalan</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Kemah kudirikan ketika senjakala</em><br />
<em> Dipagi terbang entah kemana</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Rumahku dari unggun-unggun sajak</em><br />
<em> Disini aku berbini dan beranak</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang</em><br />
<em> Aku tidak lagi meraih petang</em><br />
<em> Biar berleleran kata manis madu</em><br />
<em> jika menagih yang satu</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>&#8211;<strong>Chairil Anwar, April 1943</strong>&#8211;</em></p>
<p>Sebenarnya ini adalah catatan yang belum selesai, karena memang tak akan ada akhir. Jika kau berkata tentang perjalanan, maka kau akan terus melangkah, menderap jejakkan tapak kaki, hingga tulang belakangmu memaksamu menepikan sejenak, menarik nafas dan membuat api unggun. Dan lagi, sebenarnya, ini hanya keisengan belaka. Berusaha lepas dari kesuntukan yang mendesak-desak, seperti angin malam yang masuk ke dalam rumah tanpa jendela. Suaranya lebih cepat menderu ketimbang yang singgah pada kulit.</p>
<p>Seorang kawan berkata: <em>&#8220;Bersenang-senanglah. Lakukanlah apa yang kalian anggap kesenangan!&#8221;</em></p>
<p>Dan keisengan yang berarti kesenangan adalah berjalan. Berjalan, keluarlah dan terus berjalan. Alam menyediakan tempat untuk kau menjejakkan kaki. Merapihkan peluh di bawah rerimbunan pepohonan. Mengejar gerumbulan ilalang yang lari ditiup angin. Atau bersahut-sahutan dengan burung bersayap emas.<span id="more-670"></span></p>
<div id="attachment_671" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"><a href="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/07/canting-expedition.jpg"><img class="size-medium wp-image-671" title="canting expedition" src="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/07/canting-expedition.jpg?w=225&#038;h=300" alt="Wedi Ombo-Timang/Foto: Canting" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Wedi Ombo-Timang/Foto: Canting</p></div>
<p>Apa yang berkesan, kawan, ketika kau tersesat di antara ilalang dan pepohonan. Jalan berujung pada jurang tajam, tebing-tebing yang hitam, kalut diterpa ombak pantai selatan. Yang tak terlupakan ketika, ternyata, kau menemukan mata air yang paling jernih yang pernah ku lihat, di bawahnya, di sisi dalam jurang itu. Tak pernah ada jalan buntu dan habis ujungnya. Aku melihat kau menari di sisi tebing, dan ombak mengikuti lenggak-lenggokmu. Ah, aku pun tertawa keras sekali. Kita sedang bergurau dengan keisengan. Dan kawan ingatkah kau, ketika air dalam botolmu tandas, dan tenggorokanmu mulai panas. Pasti kau tak akan lupa, pada petani-petani di ladang. Petani-petani kurus di tengah ladang, memeras keringat membelah tanah. Dan seperti suara malaikat dari surga:<em> &#8220;Mari mampir, minum air di sini.&#8221;</em></p>
<p>Ada yang terasing dan ada yang terperangkap dalam hiruk-pikuk. Dan itulah sebuah kewajaran, bahwa hidup terlalu wajar sebagai wadah yang kaku. Seperti ikan-ikan yang berenang-renang dalam kubus kaca. Melihat dirinya sebagai tawanan, dan pada satu sisi sebagai penyerahan diri. Tiba-tiba aku teringat pada bapak Notna. Si petani yang menghabiskan separuh hidupnya tenggelam dalam lautan alkohol. Orang-orang mengutuknya, begitu juga dengan para pendeta yang berusaha memberinya ayat-ayat pertobatan. Tapi bapak Notna mencibir. Bukankah kemerdekaan itu tanpa batas, kawan. Bahkan para pendeta itu tak bekerja sekeras bapak Notna. Setelah makan, kenyang dan bersendawa, orang lebih suka mengkritik.</p>
<p>Akan ku ulangi dua kali:</p>
<p><em>Rumahku dari unggun-unggun sajak<br />
Kaca jernih dari segala nampak</em></p>
<p><em>Rumahku dari unggun-unggun sajak<br />
Kaca jernih dari segala nampak</em></p>
<p>Kawan, jika perjalanan ini tak pernah kita lakukan, aku tak akan pernah tahu bahwa sekilo kerang dihargai tigaribu rupiah saja. Dan sekilo rumput laut seharga sepuluhribu rupiah. Kita tahu bersama, kawan, bahwa ketidakadilan di dunia ini seperti pasir pantai yang kita jejaki. Teramat banyak. Dan jika kita belum mampu berlaku sekarang, kabarkanlah, kabarkanlah.</p>
<div id="attachment_672" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/07/nelayan-gunung-kidul.jpg"><img class="size-medium wp-image-672" title="nelayan gunung kidul" src="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/07/nelayan-gunung-kidul.jpg?w=300&#038;h=221" alt="nelayang Gunung Kidul/Foto: Canting" width="300" height="221" /></a><p class="wp-caption-text">nelayang Gunung Kidul/Foto: Canting</p></div>
<p>Seperti di bukit sana, di tempat yang gersang. Ketika tangan-tangan yang berkuasa tak menggapai mereka, mengangkat mereka dari kubangan kemiskinan. Kabarkanlah, kabarkanlah, gaungkan sangkakala tanda perang pada segala pembungkaman. Kepicikan dalam rumah gelap. Bahwa di Nusantara, baik di sini atau di sana yang pernah kita jejaki, masih berlaku segala kekotoran atas segala ketidakpedulian.</p>
<p>Kawan, mungkin aku terlalu berlebihan. Kita hanya akan terus melanjutkan perjalanan ini.</p>
<p>Dan aku benar-benar ingin tertawa, ketika aku bersikeras mengikuti si orang Argentina itu, berkata:</p>
<p>&#8220;Ma, aku rindu, kau. Tapi tidak rumah!&#8221;</p>
<div id="attachment_673" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/07/senja.jpg"><img class="size-medium wp-image-673" title="senja dan ombak" src="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/07/senja.jpg?w=300&#038;h=225" alt="senja dan ombak" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">senja dan ombak</p></div>
<p><em>Jogja, Juli 2011</em></p>
<p><strong>Agung Poku</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agungpoku.wordpress.com/670/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agungpoku.wordpress.com/670/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agungpoku.wordpress.com/670/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agungpoku.wordpress.com/670/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agungpoku.wordpress.com/670/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agungpoku.wordpress.com/670/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agungpoku.wordpress.com/670/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agungpoku.wordpress.com/670/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agungpoku.wordpress.com/670/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agungpoku.wordpress.com/670/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agungpoku.wordpress.com/670/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agungpoku.wordpress.com/670/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agungpoku.wordpress.com/670/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agungpoku.wordpress.com/670/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agungpoku.wordpress.com&amp;blog=4874603&amp;post=670&amp;subd=agungpoku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungpoku.wordpress.com/2011/07/19/sebuah-catatan-kecil-dari-perjalanan-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		<georss:point>-12.828948 111.093750</georss:point>
		<geo:lat>-12.828948</geo:lat>
		<geo:long>111.093750</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1f8d7cde4913f8377ea5a8b4a1853da6?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agung poku</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/07/canting-expedition.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">canting expedition</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/07/nelayan-gunung-kidul.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">nelayan gunung kidul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/07/senja.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">senja dan ombak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[1000 Burung Kertas] Burung-burung di Bukit Gersang</title>
		<link>http://agungpoku.wordpress.com/2011/06/19/1000-burung-kertas-burung-burung-di-bukit-gersang/</link>
		<comments>http://agungpoku.wordpress.com/2011/06/19/1000-burung-kertas-burung-burung-di-bukit-gersang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jun 2011 16:19:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agungpoku</dc:creator>
				<category><![CDATA[seribu burung kertas]]></category>
		<category><![CDATA[1000 burung kertas]]></category>
		<category><![CDATA[Canting]]></category>
		<category><![CDATA[studio biru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungpoku.wordpress.com/?p=656</guid>
		<description><![CDATA[1000 Burung Kertas adalah sebuah gerakan sosial yang digagas Komunitas Canting. Sanggar Anak Studio Biru adalah langkah awal gerakan sosial ini. Dukungan dari saudara, sangat diharapkan, agar burung-burung semakin tinggi terbang menebarkan keceriaan anak-anak Indonesia. Hope &#38; Happiness.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agungpoku.wordpress.com&amp;blog=4874603&amp;post=656&amp;subd=agungpoku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align:justify;">
<dl class="wp-caption aligncenter">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/06/header.jpg"><img class="size-medium wp-image-657" title="for Hope &amp; Happiness" src="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/06/header.jpg?w=300&#038;h=97" alt="for Hope &amp; Happiness" width="300" height="97" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd">for Hope &amp; Happiness</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><strong>A</strong></span>pakah tuan pernah mengunjungi candi Prambanan? jika iya, maka dapat dipastikan ekspresi tuan adalah berdecak kagum, memuji keindahan candi Hindu terbesar di Asia Tenggara itu. Keindahan arsitektur yang dipersembahkan kepada Sang Hyang Trimurti. Kiranya kita bersepakat untuk hal itu. Tapi begini, tuan, sudilah ku tunjukkan keindahan lain yang letaknya tak jauh dari keagungan para Batara, Siwa, Wisnu atau Brahma.</p>
<p style="text-align:justify;">Burung-burung kecil, begitu kami panggil mereka. Burung-burung kecil bersayap muda, namun mudah rapuh, jika angin terlalu kuat menerpa. Mereka bersarang di bukit kapur yang tandus, tak jauh dari candi Prambanan. Dimana ketela pohon hidup kurus, penuh debu. Namun kiranya, Sang empunya hidup tak akan menciptakan ketandusan tanpa meninggalkan mata air. Dan burung-burung kecil di bukit gersang itulah sesunggunya mata air.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang benar, bahwa setiap manusia memiliki sendiri hidupnya. Dia tak boleh diperintah agar ke kiri atau ke kanan. Namun burung-burung kecil tetaplah butuh sokongan. Tak mungkin dia dilepaskan ke rimba belantara dengan sayap yang belum kuat mengepak. Sejatinya burung-burung kecil harus tahu dulu mana gagak, atau rajawali. Barulah dia dibebaskan untuk melesat ke angkasa raya.<span id="more-656"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tuan, ah, memang masa kecil adalah masa paling indah. Dimana mimpi-mimpi bebas berkeliaran memenuhi otak. Cita-cita yang setinggi bintang dan sebesar purnama. Persoalannya adalah tangga yang mana akan dibangun untuk memanjat bintang. Atau tali yang mana, yang paling kuat untuk menarik purnama itu. Jangan biarkan, sekali pun, membiarkan burung-burung kecil itu sesenggukan karena mimpi dan cita-cita tak dapat teraih. Apalagi karena persoalan angin yang terlalu kuat berdesir, atau badai yang mengamuk. Oh, tuan, sungguh, burung-burung kecil tak boleh mati muda. Atau jatuh tergeletak sebelum belajar terbang.</p>
<p style="text-align:justify;">Burung-burung di bukit gersang. Sudilah tuan mampir ke sana, meski beberapa waktu saja. Tuan bagilah semampunya, apa yang tuan punyai. Memang benar, bahwa masa-masa ini, Garuda teramat letih untuk kembali terbang menerobos awan-awan, mengguncang angin. Burung-burung hantu teramat menikmati malamnya, menyambar siapa saja yang menghalanginya. Atau beberapa, mungkin juga banyak, yang berusaha menjadi Rajawali. Namun kalah dengan kegelapan malam yang teramat pekat.</p>
<p style="text-align:justify;">Burung-burung di bukit gersang, tak berharap akan menjadi garuda-garuda yang besar. Jika tuan menanyai mereka satu persatu, mereka akan menjawab:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Kami akan menyokong sayap-sayap Garuda, agar kembali terbang!”</strong></p>
<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align:justify;">
<dl class="wp-caption aligncenter">
<dt class="wp-caption-dt"><img title="studio biru (foto:studio biru)" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/06/13084069981615313423.jpg" alt="studio biru (foto:studio biru)" width="498" height="442" /></dt>
<dd class="wp-caption-dd">studio biru (foto:studio biru)</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align:justify;">- Jogja, Juni 2011</p>
<p style="text-align:justify;"><a title="1000 Burung Kertas|Hope &amp; Happiness" href="http://1000burungkertas.org/" target="_blank"><strong>for Hope &amp; Happiness</strong></a></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Agung Poku</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agungpoku.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agungpoku.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agungpoku.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agungpoku.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agungpoku.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agungpoku.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agungpoku.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agungpoku.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agungpoku.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agungpoku.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agungpoku.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agungpoku.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agungpoku.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agungpoku.wordpress.com/656/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agungpoku.wordpress.com&amp;blog=4874603&amp;post=656&amp;subd=agungpoku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungpoku.wordpress.com/2011/06/19/1000-burung-kertas-burung-burung-di-bukit-gersang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		<georss:point>-12.828948 111.093750</georss:point>
		<geo:lat>-12.828948</geo:lat>
		<geo:long>111.093750</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1f8d7cde4913f8377ea5a8b4a1853da6?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agung poku</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/06/header.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">for Hope &#38; Happiness</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/06/13084069981615313423.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">studio biru (foto:studio biru)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Petrus dan Kematian Pendeta Pniel</title>
		<link>http://agungpoku.wordpress.com/2011/05/30/petrus-dan-kematian-pendeta-pniel/</link>
		<comments>http://agungpoku.wordpress.com/2011/05/30/petrus-dan-kematian-pendeta-pniel/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 May 2011 00:36:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agungpoku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agung Poku]]></category>
		<category><![CDATA[cepen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen agung poku]]></category>
		<category><![CDATA[pendeta Pniel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungpoku.wordpress.com/?p=644</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari minggu pagi yang ceria, pendeta Pniel mati di rumahnya. Petrus si tukang ketik gereja yang mendapatinya menelungkup di atas meja. Lonceng gereja dibunyikan dan seluruh jemaat menunggu dengan cemas, bahkan terjadilah percakapan riuh seperti kerumunan di pasar ikan. Apalagi Petrus. Dia mondar-mandir di ruang konsistori, setelah mengetik tiga lembar salinan kotbah yang sebentar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agungpoku.wordpress.com&amp;blog=4874603&amp;post=644&amp;subd=agungpoku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_645" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/05/dali-pm.jpg"><img class="size-medium wp-image-645" title="Salvador Dali - The Persistence of Memory - 1931 (famoust art gallery)" src="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/05/dali-pm.jpg?w=300&#038;h=213" alt="Salvador Dali - The Persistence of Memory - 1931 (famoust art gallery)" width="300" height="213" /></a><p class="wp-caption-text">Salvador Dali - The Persistence of Memory - 1931 (famoust art gallery)</p></div>
<p>Pada hari minggu pagi yang ceria, pendeta Pniel mati di rumahnya. Petrus si tukang ketik gereja yang mendapatinya menelungkup di atas meja. Lonceng gereja dibunyikan dan seluruh jemaat menunggu dengan cemas, bahkan terjadilah percakapan riuh seperti kerumunan di pasar ikan. Apalagi Petrus. Dia mondar-mandir di ruang konsistori, setelah mengetik tiga lembar salinan kotbah yang sebentar lagi akan digaungkan pendeta Pniel di atas mimbar. Petrus tak kuasa menahan kegelisahannya. Pendeta Pniel tak kunjung menampakkan dirinya untuk memimpin ibadah minggu pagi. Petrus berlari sekencang-kencangnya menuju rumah pendeta Pniel. Sepi, memang rumah pendeta Pniel selalu begitu. Hanya satu ekor kuda hitam yang terus meringkik riuh, berusaha melepaskan ikatannya. Diketuk-ketuknya pintu dapur, tapi tak ada jawaban. Dengan menyesal, Petrus akhirnya mendobrak pintu kumuh itu.<span id="more-644"></span></p>
<p>Dari dalam kamar pendeta Pniel, terdengar lengkingan Petrus. Menjerit-jerit seperti kesetanan.</p>
<p>“Bapak pendeta meninggal! Bapak pendeta meninggal! Guru meninggal!” jeritan Petrus makin meninggi.</p>
<p>Petrus memang seperti itu. Si tukang ketik gereja itu, juga merangkap tukang kebun gereja, selalu tak dapat menahan perasaan hatinya. Apa saja yang ada dalam hatinya selalu diungkapkan, karena itulah dia begitu dekat dengan pendeta Pniel. Bahkan karena keluguannya, Petrus sering ditipu oleh jemaat. Sering dia membersihkan halaman rumah penduduk di sekitar gereja. Kata orang-orang itu:</p>
<p>“Petrus, halaman rumahku ini tak jauh dari gereja. Hanya beberapa meter saja. Tolong kau bersihkan juga.” dan Petrus tak menolak. Dia memang begitu, pekerja ulet dan rajin.</p>
<p>Tentang kedekatannya dengan pendeta Pniel, sudah terjalin sejak lama. Bahkan sebelum si pendeta mendapat tugas baru di lembah itu. Setiap persoalan yang bergejolak di hatinya, Petrus menemui sang pendeta yang dipanggilnya guru.</p>
<p>“Guru. Istriku minta cerai.” suatu kali terjadi percakapan.</p>
<p>“Hah? yang benar saja kau, Petrus?” pendeta Pniel kaget, tiba-tiba Petrus memberi kabar buruk.</p>
<p>“Benar, guru. Aku tak mungkin berbohong padamu. Lilia mengatakannya tadi malam.”</p>
<p>“Baik. Tolong ceritakan dengan jelas dan tenang.” pendeta Pniel meminta.</p>
<p>Sebenarnya pendeta Pniel kecewa dan sangat menyesal mendengar kabar itu. Lilia, gadis cantik, anak petani kol di kampung Besoa itu dijodohkannya dengan Petrus. Dia sangat mengasihi Petrus, apalagi melihat kesendirian si pemuda lugu yang berumur tigapuluhenam tahun itu. Maka dimintalah Lilia menjadi istrinya tanpa paksaan. Lilia menyanggupinya dengan satu permintaan: akan menceraikan Petrus jika dalam kehidupan rumah tangga banyak ketidakcocokan. Pendeta Pniel merasa bersalah sekaligus mencoba mengerti keluguaan muda-mudi itu.</p>
<p>“Dia mencintai pemuda lain, guru. Anak guru Kembi dari Besoa. Katanya, pemuda itu lebih siap berumah tangga. Baik kedewasaan dan materi. Lagi pula, anak guru Kembi itu sarjana dari kota.” jelas Petrus.</p>
<p>“Petrus, kau tahu bukan, perceraian tak diinginkan, tentu kau baca Injil setiap waktu.” Petrus mengangguk dan terus menatap lantai.</p>
<p>“Berbicaralah pada Lilia. Kalian renungkanlah baik-baik. Dan ingat, Petrus, tanggalkan egomu ketika kau hendak meminta penjelasan dari Lilia. Kau pemuda yang baik. Dan seandainya kalian tak menemukan satu jalan, berpisahlah dengan ikhlas. Kau Petrus, berjalanlah pada keteguhan hatimu. Begitu juga Lilia, mintalah dengan sangat padanya untuk berjalan pada keteguhan hatinya. Mungkin kalian akan bertemu pada suatu jalan yang sama, nantinya.”</p>
<p>Petrus dan Lilia akhirnya bercerai. Dan banyak jemaat yang mengutuk pendeta Pniel karena perceraian itu. Jawab pendeta Pniel:</p>
<p>“Pernah ku temui seorang dokter yang sakit payah dan hampir mati. Siapakah yang akan mengobatinya, selain dokter seperti dirinya. Oh, sungguh cinta, saudaraku, adalah suatu penyakit yang payah dan sedang mencari penawarnya.</p>
<p>Senin pagi, jemaat mengubur pendeta Pniel di suatu tempat yang landai, sesuai permintaan Petrus. Ketika ibadah penguburan selesai, dan jemaat pulang, Petrus tinggal di situ sampai sore. Matanya sembab dan terus memandangi nisan.</p>
<p><em>-Jogja pada Mei 2011</em></p>
<p><strong>Agung Poku</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agungpoku.wordpress.com/644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agungpoku.wordpress.com/644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agungpoku.wordpress.com/644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agungpoku.wordpress.com/644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agungpoku.wordpress.com/644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agungpoku.wordpress.com/644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agungpoku.wordpress.com/644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agungpoku.wordpress.com/644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agungpoku.wordpress.com/644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agungpoku.wordpress.com/644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agungpoku.wordpress.com/644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agungpoku.wordpress.com/644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agungpoku.wordpress.com/644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agungpoku.wordpress.com/644/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agungpoku.wordpress.com&amp;blog=4874603&amp;post=644&amp;subd=agungpoku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungpoku.wordpress.com/2011/05/30/petrus-dan-kematian-pendeta-pniel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<georss:point>-12.828948 111.093750</georss:point>
		<geo:lat>-12.828948</geo:lat>
		<geo:long>111.093750</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1f8d7cde4913f8377ea5a8b4a1853da6?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agung poku</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agungpoku.files.wordpress.com/2011/05/dali-pm.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Salvador Dali - The Persistence of Memory - 1931 (famoust art gallery)</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
