Tentang Empat Penari Yang Diambil Dari Lukisan Degas

Akhir bulan Desember selalu menyisakan hujan dari setahun yang panjang dan melelahkan. Begitu pun malam itu. Hawa dingin menusuk dinding-dinding rumah dan mengetuk-ngetuk pintu-pintu yang lembab. Dari celah-celah jendela dapur terlihat asap bercampur air hujan naik ke udara dan membuat mendung kelabu di pohon-pohon pisang. Di ujung bukit, samar-samar terlihat menara gereja tua dengan salib yang berwarna cokelat tua pada puncaknya. Dan kemudian dari perempatan-perampatan jalan yang penuh lumpur, terlihat serombongan orang berjalan dengan tubuh menggigil meskipun dikurung dengan jaket dan jas yang tebal. Pintu-pintu rumah terbuka dan orang-orang keluar berjalan menembus kabut yang basah. Mereka mendaki bukit kecil yang mereka namakan bukit pengasihan. Mereka hendak pergi ke ujung bukit itu. Tempat dimana gereja yang berumur lebih dari satu abad itu. Malam itu adalah malam Natal.

Pak Ioni sedikit terlambat. Ia sudah mengenakan jas panjangnya dan sepatu kulit abu-abu. Namun ia masih duduk di samping tungku, menunggui sup buncis yang belum juga masak. Uap air naik ke atas tutup belanga karena mendidih. Disendoknya sebiji buncis, diremasnya, tapi masih terasa keras. Ia terlihat gelisah dan menggerutu karena lapar. Dan pada saat udara dingin seperti itu, tak seorangpun dapat menahan nafsu makan. Dari kejauhan terdengar nyanyian paduan suara bergetar di antara kabut-kabut. Buru-buru Pak Ioni mematikan api, lalu menyambar Injil di meja ruang tengah. Tanpa menutup pintu, ia setengah berlari menuju bukit. Beberapa kali ia terjebak dalam lumpur karena pandangan yang terbatas akibat kabut. Dengan susah payah ia sampai di teras gereja. Menggosok-gosokkan telapak sepatunya pada rumput dan melangkah masuk ke dalam gereja. Ia melihat semua bangku sudah terisi. Orang-orang duduk rapat-rapat sambil menggosok-gosokkan tangan mereka. Di bangku paling depan seseorang menoleh ke arah Pak Ioni, kemudian melambaikan tangannya, sebuah isyarat bahwa masih ada bangku tersisa. Dengan langkah malu-malu, Pak Ioni menuju ke bangku yang disediakan untuknya. Orang yang melambaikan tangan ke arahnya tadi adalah Pak Tigra. Rekannya dulu di batalion, pada saat mereka bertugas di perbatasan sebelah utara. Mereka pensiun pada tahun yang sama. Baca lebih lanjut

KURIKULUM 2013 DAN SIMBOLISME

Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,

dan bukan ilmu latihan menguraikan.

…..

Mengapa harus kita terima hidup begini ?

Seseorang berhak diberi ijazah dokter,

dianggap sebagai orang terpelajar,

tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.

Dan bila ada ada tirani merajalela,

ia diam tidak bicara,

kerjanya cuma menyuntik saja.

…..

Kita adalah angkatan gagap.

Yang diperanakan oleh angkatan kurangajar.

Daya hidup telah diganti oleh nafsu.

Pencerahan telah diganti oleh pembatasan.

Kita adalah angkatan yang berbahaya.

Rendra– Sajak Anak Muda

 

Sekolahan adalah sebuah pabrik multi produk yang siap menghasilkan ternak-ternak terbaik yang siap terjun ke pusaran industri dunia. Ternak-ternak itu dipakai memutar alat-alat industri, mengoperasikan alat digital industri lewat jari telunjuknya saja. Setiap produk sekolahan dilarang menjadi dirinya. Individualisme adalah murtad!

(gambar:devRange facebook)

(gambar:devRange facebook)

Demikianlah para pakar pendidikan istana berpendapat.

Penyamarataan sistem pendidikan kita akan segera diberlakukan. Sekolah-sekolah di daerah-daerah ditunjuk untuk menjadi percontohan sistem pendidikan yang menganut model Kurikulum 2013 atau kurikulum Nasional.  Dan kemudian diharapkan pada suatu saat, model tersebut dilakukan secara menyeluruh. Secara nasional. Dan dalam sistem tersebut, salah satu mata pelajaran yang ada pada kurikulum sebelumnya akan dihapus, yaitu mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi /Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (TIK/KKPI). Apa sebab demikian? Baca lebih lanjut

Sabda Kegilaan

“Dulunya seluruh dunia gila.” Sabda Zarathustra.

Orang-orang selalu bermimpi mengarungi awan. Dan ia selalu dapat. Hanya kebohongan yang menutupi realita. Segalanya sudah terjadi berjuta-juta tahun lalu. Tak ada yang baru di dunia. Orang-orang sakit jiwa telah lebih dulu bermimpi. Semua berawal dari kegilaan semata. Gubahan lagu telah terdengar sepanjang abad di galaksi. Orang-orang selalu berhasil menemukannya. Kulit pohon, akar tumbuhan, bakteri, gas, daya. Ditemukan oleh suatu mimpi gila yang berasal dari kegilaan itu sendiri. Tak ada sesuatupun yang hebat dari klaim kekuasaan seorang manusia.

Kegilaan-kegilaan yang berlanjut menjadi sakit jiwa. Jiwa-jiwa yang tunduk pada kelaliman ketuhanan. Boneka-boneka yang muram, terbit dari gua-gua kesunyian. Dan kau, selebihnya aku, yang lahir dari musim kebebalan. Mengarungi sungai panjang penuh kesedihan. Sesuatu yang telah dinubuatkan, segala sesuatu yang bermuara pada kesia-siaan. Segala sesuatu adalah kesia-siaan, kesaksian Pengkhotbah. Dan kita teramat capai mengayuh. Melompat-lompat diatas jeram kelam. Dayung kita adalah jaring yang teramat lapuk. Dan kitapun bersemangat seolah dunia akan terus ada. Tetap melayang, seperti mimpi-mimpi gila.

Peperangan seribu tahun. Seribu tahun, seribu tahun.

Genderang terus ditabuh, bertalu-talu. Berlaksa-laksa prajurit, kita yang bertameng, maju menderap, melawan dunia. Menyanyikan mars perjuangan. Perjuangan terhadap hidup. Seakan dapat kita taklukan segala tantangan kitab-kitab suci.

Malam-malam panjang yang sunyi

Dengan tertib kaupasang selimut

Doa-doa sudah tentu mengatasi segalanya

Kau bangun sebelum kabut

 

Syahdan, catatan ini berasal dari hari sebelum dunia runtuh. Orang-orang yang pergi dan menjadi kucing atau elang atau batu atau kamu.

“Kami telah menemukan kebahagiaan.” Sabda Zarathustra.

 

November, 2014

UkopGnuga

Sebuah Ketetapan

Pagi ini, aku membunuh seekor nyamuk dan mengumpat kesal. Ia menggerogoti kulitku. Cukup beringas. Tentu ia lapar, kemudian melayang kesana-kemari pada tumpukan sampah, tumpukan pakaian, lalu berakhir diam-diam menghisap darah manusia. Begitulah seekor nyamuk melayangi hidupnya. Aku membunuhnya pagi ini. Sebagai suatu tindakan pertahanan atas apa yang menimpa kulitku. Agak lucu juga, jika aku mengambil kesimpulan: “Pagi ini aku ditakdirkan  untuk membunuh seekor nyamuk.” Atau si nyamuk yang berserah pada kematiannya, berkata: “Akhirnya aku mati pada pagi ini. Suatu takdir yang malang.”

Aku teringat seorang kawan yang bertanya: “Seperti apa kamu mempercayai takdir?”

Aku tumbuh sebagai seorang Kristen. Praktis seluruh konsep Injil melekat dalam diriku, dan seluruh pengalaman, aku sandarkan pada kebenaran Injil yang kupercayai. Betapa aku kagum pada cerita-cerita sederhana dalam kisah nabi-nabi, yang selalu diceritakan kakekku tatkala kami beranjak tidur. Seperti yang lain-lain juga, pertanyaan-pertanyaan kritis mulai bermunculan. Perbandingan-perbandingan akan seluruh pengalaman mulai bermunculan. Itu titik dimana kita ditahbiskan menjadi seorang remaja.

Dalam keyakinan Kristen, setiap manusia tak perlu merisaukan hidupnya. Segala kesakitan yang muncul, setiap kesenangan yang datang, hanyalah bunga-bunga hidup yang fana. Kehidupan yang sesungguhnya adalah saat langit terbelah dan tirai kerjaan Allah tersingkap. Kehidupan yang sesungguhnya akan datang jua. Betapa sia-sianya hidup yang kita jalani sekarang. Dan aku pun bertanya letak kebenaran Allah. Seluruh kehidupan yang betapa ampun hebatnya dan maha mustahil ia tercipta, akan lenyap hanya dalam satu hari. Semuanya terrenggut pada saat itu juga.

Baca lebih lanjut

Di Hutan Lamtoro (Gunung Sindoro 3.153 mdpl)

Dua bulan lebih meninggalkan Jogja Istimewa, rasanya hampir bertahun rindu melumut. Seluruh ide dimulai dari tempat yang istimewa ini. Suatu tempat persinggahan dari segala keletihan, sambil menikmati senyum ramah jalanan. Dari Jogja untuk Indonesia. Beruntung bagi saya, karena Jogja-lah saya bisa mengenal tempat-tempat yang indah di seputaran pulau Jawa.

Gunung Sindoro (dok. pribadi)

Gunung Sindoro (dok. pribadi)

Gunung Sindoro 3.135 mdpl

Mendaki gunung itu menyenangkan. Bukan hanya soal berdiri di puncak dengan penuh kebanggaan. Suatu rangkuman perjalanan yang penuh kejutan.

Berawal dari terminal Jombor (Jogja), berdelapan kami naik bus menuju Magelang. Tim ini kami beri nama Rempakem. Hampir dua jam berada dalam badan bus yang penuh manusia, membawa kami pada suatu pengalaman yang tidak setiap hari kami jumpai. Berdesak-desakan, bergantungan, berhimpitan, persis lirik lagu God Bless, bis kota. Mbah-mbah penjual jajanan yang tertidur dalam peluh, anak sekolahan yang pulang ke rumahnya, buruh bangunan yang kelelahan, pengamen jalanan, pencopet, dan kami sendiri yang tengah bergantungan pada besi panjang. Bus melaju membelah jalanan yang panas. Tanpa suara kami berpandangan, bercakap dengan mimik muka. Berkerut, senyum, memonyongkan bibir, melonjak.

Baca lebih lanjut

Ponteo’a, menggapai puncak Lembo

KPA Wita Mori (foto:pribadi)

KPA Wita Mori (foto:pribadi)

 

Akhirnya hari itu tiba jua. Kepala yang selalu mendongak, dagu yang tertahan, dan terus memandang puncak di sebelah barat. Tebing-tebing putih yang gemerlap disiram mentari. Puncak kemustahilan selama lebih dua puluh tahun. Kini ia tiba pada hari itu juga. Hati yang terbuka, juga mata yang menyapu tanah kelahiran. Tanah nenek moyang yang dipertahankan lewat jalan perang perlawanan terhadap kebusukan kolonial. Tempat lahirnya segala cerita. Tentang orang yang hilang dan menjadi gila. Tentang kerasnya otot para pencari rotan ditengah kepungan nyamuk-nyamuk ganas dan lintah. Tentang hewan-hewan liar yang meninggalkan jejak di sela-sela batu. Pada hari itu juga, kita dapat menyaksikan dataran panjang yang dibentengi gunung-gemunung dan lembah-lembah harapan. Inilah tanah kelahiranku dipandang dari ketinggian Ponteo’a.

Ponteo'a (foto;pribadi)

Ponteo’a (foto;pribadi)

Dalam perhitungan angka, Ponteo’a bukanlah suatu gunung yang terlalu tinggi untuk didaki. Sehingga ia menjadi simbol rakyat Lembo sebagai benteng penaung. Pada tubuhnya hiduplah berlaksa-laksa pohon kehidupan, tempat segala yang hidup menerima dan memberi. Pohon-pohon damar yang besar, tinggi dan sehat. Rotan-rotan yang menggelantung seperti sarang ular raksasa. Sawah-sawah yang terhampar di kakinya. Orang-orang bergerak melingkupinya.

Inilah Ponteo’a, jalur yang sempit berbatu. Perlu kewaspadaan agar tidak terperosok ke dalam goa-goa vertikal. Daun-daun segala pohon menutupi jalan, dimana jutaan nyamuk dan lintah bersarang. Benar-benar cantik, dibalut kabut tipis dari segala apa yang kuceritakan disini.

Pada hari itu juga, kita akan memangkas cerita-cerita tentang hantu yang mendiami Ponteo’a. Baik kita akan pelihara sebagai tanda penerimaan alam. Sebagai suatu pergaulan yang penuh harmoni. Garis-garis putih yang membayang dari segala dataran, menjadi simpul di puncaknya. Ada suatu tempat yang luas, suatu pencapaian tentang kepribadian yang mengasingkan dirinya hanya untuk memasuki dirinya sendiri. Disanalah kita akan berdiri, di puncak Ponteo’a, untuk mengagumi tanah kelahiran kita. Tanah nenek moyang kita.

Sebab kita adalah anak kehidupan yang diberkati.

Ponteo'a (foto:pribadi)

Ponteo’a (foto:pribadi)

 

Gunung Ponteo’a, 9 Mei 2014

Agung Poku