Keruwetan dan Semangat

Setahun yang lalu, datang sebuah kabar yang mengerikan dari Jogja. Sahabatku baru saja meninggal setelah dibacok pada suatu subuh di Jogja. Jenazahnya dibawa pulang ke kampung halaman. Dengan berurai air mata aku mengantarnya ke pekuburan siang itu. Beberapa minggu sebelum kabar buruk itu datang, ibunya menghubungiku agar mengirimkannya beberapa gambar bangunan karena ia sedang menyusun skripsi desain bangunan sekolah. Ia akan segera menjadi seorang arsitek. Tetapi jalan hidup yang kita inginkan berbeda dari garis hidup yang Tuhan tentukan. Sehari sebelum ia menjalani ujian skripsi, tubuhnya terkapar di Malioboro yang lengang. Sejak saat itu, ada rasa bersalah dalam hatiku. Setiap kali ibunya melihatku, dimanapun kami bertemu, perempuan paruh baya itu menyembunyikan wajahnya dan menangis sesenggukan. Bahunya yang semakin kurus itu bergetar menahan perasaan yang tak bisa aku definisikan. Akupun selalu menghindar, karena aku sendiri tak tahan. Lari dan sembunyi menahan tangisku sambil menghantam tembok dengan amarah yang meluap-luap. Perempuan paruh baya itu jatuh sakit. Sakit keras. Bahkan sampai saat ini.
Hampir empat tahun lamanya meninggalkan Jogja. Mengingat Jogja adalah keseharianku. Mengingat semangat, mengingat tawa, mengingat keceriaan, mengingat kalian, dan tentu mengingat kesedihan. Terlalu banyak ingatan dalam memori kenangan. Terlampau banyak peristiwa mengisi hidup yang singkat ini.
Setiap pagi aku bangun dan bekerja, melakukan hal-hal yang normal, melakukan semua hal yang biasa orang lain lakukan. Tetapi semua hal yang kita anggap biasa, tidak dapat diwujudkan begitu saja. Bahkan dengan cara yang paling mudah sekalipun. Kadang-kadang kita menjadi gamang dan bertanya-tanya: “Apakah benar dunia berubah? Apakah orang-orang berubah begitu cepat? Atau kita terlampau cepat berubah?”. Dalam banyak pertanyaan dengan situasi yang berbeda, kesimpulan itu datang, bahwa tak ada orang yang benar-benar idealis. Bahwa nafsu tak selalu dapat kita kekang. Ia adalah hewan yang liar. Pikiran tak selalu dapat kita kendalikan. Ia adalah anak yang selalu tumbuh dan bergerak. Tetapi jiwa, ia adalah petapa yang sunyi. Berjalan bersama ketiganya dalam harmoni memang seindah puisi-puisi Gibran. Dalam keruwetan, seringkali aku berkata dalam hati: “Seandainya aku berada di Jogja, aku dapat melakukan hal apapun yang ku mau.” Tetapi itu terlampau bodoh dan egois. Kita sering mencari pembenaran atas ketaksanggupan. Dan kemudian hewan liar dan anak itu mencari jatidirinya di jalanan. Menjadi alkoholik dan membuat kekacauan di malam hari. Seakan-akan ia adalah anak Zeus, yang bahkan monster berkepala dua pun sanggup ia remukkan di dadanya.
Tak setiap hal adalah jalan yang kita pilih, seperti alur dalam buku-buku hebat. Tak setiap orang di pasar ikan dapat kita cegat hanya untuk menceritakan betapa hebatnya Che Guevara menjelajahi Amerika Selatan. Atau berdebat di kedai-kedai minuman tentang seharusnya Annelies Mellema tidak mati dengan cara seperti itu. Menjinakkan hewan liar atau memandikan seorang anak mungkin hanya lelucon. Sebuah lelucon yang kita ceritakan berulang kali. Membuat alur dan dialog-dialog. Menjalaninya seperti sebuah drama yang dipentaskan pada malam natal. Keruwetan, alur-alur yang tindih-menindih, cerita-cerita yang penuh imaji, dan sunyi.
Tetapi satu hal yang pasti adalah semangat. Itu pasti! Semangat akan membuat sendiri alurnya. Semangat sanggup menjinakkan hewan liar, dan ia memandikan seorang anak sambil mendongeng tentang putri air. Tak habis-habisnya aku berpikir dan menyadari bahwa tak ada kata yang lebih pasti dan tak ada simbol yang lebih utuh, untuk mengatasi segala keruwetan. Adalah semangat. Dan, kawanku, sejak dulu, kita adalah semangat. Segala keruwetan yang kita bawa masing-masing, segala keegoisan yang kita maklumkan, menjadi sebuah semangat. Menjadi sebuah mimpi yang kita jalani saat ini. Alur-alur yang kita bawa dalam menjalani hidup masing-masing menjadi sukacita menjalani hidup yang nyata. Kata Pengkotbah, hidup adalah kesia-siaan. Segala apa yang ada di bawah langit tidaklah baru. Semuanya sudah ada sejak dulu. Katanya lagi, membuat banyak buku, melelahkan. Celakanya, Pengkotbah memang benar. Kesia-siaan sudah ada sejak dunia ada. Kelelahan, kefanaan, keruwetan dan segala kemahakuasaan. Tetapi hanya Cinta-lah yang menjaganya. Hanya Kasih-lah yang membuatnya tetap utuh. Ia yang tetap merawat kita di atas tanah. Dan anaknya yang tertua adalah SEMANGAT.
Setiap hari aku menyusuri kelas-kelas. Aku membayangkan tapak-tapak kaki menyusuri debu-debu di jalan menanjak di bukit Ripungan. Di situ aku melihatmu, kawan. Gerakmu yang bersemangat. Kegilaanmu menciptakan lelucon di bawah bintang malam, hingga pagi kita terdiam memandang matahari terbit dibalik punggung Nglanggeran. Berlarian menyusuri bukit-bukit, pasair-pasir di pantai selatan. Ah, rasanya aku bisa mencium aromamu dari sini. Aroma tubuhmu yang berkeringat sehabis menyusuri jalan-jalan di selatan. Aku mencintaimu, kawan-kawanku!
Dirgahayu Canting!
Salam.

Beteleme, Februari 2018
Paman Dori

Iklan

Darah itu warnanya merah, Jendral!

lucifer___the_fallen_by_rainerkalwitz-d2lva1q

Ketakutan terbesar manusia adalah kematian!

Sebuah akhir dari perjalanan yang panjang melintasi lorong waktu. Secara sadar ataupun dalam dongeng yang fana dan bengis. Manusia selalu takut kehilangan. Apapun itu. Ia khawatir, gamang, dan menjadi bodoh akan ketakmampuannya menghadapi kehidupan yang ia sendiri tak sepenuhnya mengerti. Ia takut miskin, takut sakit, menderita, dan pada akhirnya menyerah pada kematian. Ia akan mencakar apa saja. Ia akan menghantam apa saja. Ia akan melumat apa saja, jika ia akan abadi walau hanya dalam sehari saja. Tetapi sebusuk apapun ujung kehidupannya, ia tetap percaya bahwa kematian membawa dirinya meninggalkan dunia materil. Menjadi arwah, roh, jin, hantu, dalam berbagai sebutan.

Sebagian besar sejarah manusia dipenuhi dengan bau amis darah! Peperangan, pembunuhan, pengkhianatan, perampokan, ilmu sihir, dan kebengisan. Ia terus mengolah pikiran dan raganya. Ia mesti terus hidup dengan cara apapun. Ia menerapkan pikirannya di lapangan yang sebenarnya. Mengolah keadaan, mengolah masyarakat, mengolah segala-galanya dengan kekuatan daya pikirnya. Jika ia tak mampu menguasai segala-galanya dengan kekuatan daya pikirnya yang nyata, maka ia akan mencomot apa saja. Termasuk mencomot sesuatu yang jauh, sesuatu yang akan datang dari lembah kematian, ialah hantu! Meskipun ia tetap hidup. Tetapi ia sesungguhnya tahu bahwa manusia selalu takut akan kematian.  Baca lebih lanjut

Tentang Empat Penari Yang Diambil Dari Lukisan Degas

Akhir bulan Desember selalu menyisakan hujan dari setahun yang panjang dan melelahkan. Begitu pun malam itu. Hawa dingin menusuk dinding-dinding rumah dan mengetuk-ngetuk pintu-pintu yang lembab. Dari celah-celah jendela dapur terlihat asap bercampur air hujan naik ke udara dan membuat mendung kelabu di pohon-pohon pisang. Di ujung bukit, samar-samar terlihat menara gereja tua dengan salib yang berwarna cokelat tua pada puncaknya. Dan kemudian dari perempatan-perampatan jalan yang penuh lumpur, terlihat serombongan orang berjalan dengan tubuh menggigil meskipun dikurung dengan jaket dan jas yang tebal. Pintu-pintu rumah terbuka dan orang-orang keluar berjalan menembus kabut yang basah. Mereka mendaki bukit kecil yang mereka namakan bukit pengasihan. Mereka hendak pergi ke ujung bukit itu. Tempat dimana gereja yang berumur lebih dari satu abad itu. Malam itu adalah malam Natal.

Pak Ioni sedikit terlambat. Ia sudah mengenakan jas panjangnya dan sepatu kulit abu-abu. Namun ia masih duduk di samping tungku, menunggui sup buncis yang belum juga masak. Uap air naik ke atas tutup belanga karena mendidih. Disendoknya sebiji buncis, diremasnya, tapi masih terasa keras. Ia terlihat gelisah dan menggerutu karena lapar. Dan pada saat udara dingin seperti itu, tak seorangpun dapat menahan nafsu makan. Dari kejauhan terdengar nyanyian paduan suara bergetar di antara kabut-kabut. Buru-buru Pak Ioni mematikan api, lalu menyambar Injil di meja ruang tengah. Tanpa menutup pintu, ia setengah berlari menuju bukit. Beberapa kali ia terjebak dalam lumpur karena pandangan yang terbatas akibat kabut. Dengan susah payah ia sampai di teras gereja. Menggosok-gosokkan telapak sepatunya pada rumput dan melangkah masuk ke dalam gereja. Ia melihat semua bangku sudah terisi. Orang-orang duduk rapat-rapat sambil menggosok-gosokkan tangan mereka. Di bangku paling depan seseorang menoleh ke arah Pak Ioni, kemudian melambaikan tangannya, sebuah isyarat bahwa masih ada bangku tersisa. Dengan langkah malu-malu, Pak Ioni menuju ke bangku yang disediakan untuknya. Orang yang melambaikan tangan ke arahnya tadi adalah Pak Tigra. Rekannya dulu di batalion, pada saat mereka bertugas di perbatasan sebelah utara. Mereka pensiun pada tahun yang sama. Baca lebih lanjut

KURIKULUM 2013 DAN SIMBOLISME

Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,

dan bukan ilmu latihan menguraikan.

…..

Mengapa harus kita terima hidup begini ?

Seseorang berhak diberi ijazah dokter,

dianggap sebagai orang terpelajar,

tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.

Dan bila ada ada tirani merajalela,

ia diam tidak bicara,

kerjanya cuma menyuntik saja.

…..

Kita adalah angkatan gagap.

Yang diperanakan oleh angkatan kurangajar.

Daya hidup telah diganti oleh nafsu.

Pencerahan telah diganti oleh pembatasan.

Kita adalah angkatan yang berbahaya.

Rendra– Sajak Anak Muda

 

Sekolahan adalah sebuah pabrik multi produk yang siap menghasilkan ternak-ternak terbaik yang siap terjun ke pusaran industri dunia. Ternak-ternak itu dipakai memutar alat-alat industri, mengoperasikan alat digital industri lewat jari telunjuknya saja. Setiap produk sekolahan dilarang menjadi dirinya. Individualisme adalah murtad!

(gambar:devRange facebook)

(gambar:devRange facebook)

Demikianlah para pakar pendidikan istana berpendapat.

Penyamarataan sistem pendidikan kita akan segera diberlakukan. Sekolah-sekolah di daerah-daerah ditunjuk untuk menjadi percontohan sistem pendidikan yang menganut model Kurikulum 2013 atau kurikulum Nasional.  Dan kemudian diharapkan pada suatu saat, model tersebut dilakukan secara menyeluruh. Secara nasional. Dan dalam sistem tersebut, salah satu mata pelajaran yang ada pada kurikulum sebelumnya akan dihapus, yaitu mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi /Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (TIK/KKPI). Apa sebab demikian? Baca lebih lanjut

Sabda Kegilaan

“Dulunya seluruh dunia gila.” Sabda Zarathustra.

Orang-orang selalu bermimpi mengarungi awan. Dan ia selalu dapat. Hanya kebohongan yang menutupi realita. Segalanya sudah terjadi berjuta-juta tahun lalu. Tak ada yang baru di dunia. Orang-orang sakit jiwa telah lebih dulu bermimpi. Semua berawal dari kegilaan semata. Gubahan lagu telah terdengar sepanjang abad di galaksi. Orang-orang selalu berhasil menemukannya. Kulit pohon, akar tumbuhan, bakteri, gas, daya. Ditemukan oleh suatu mimpi gila yang berasal dari kegilaan itu sendiri. Tak ada sesuatupun yang hebat dari klaim kekuasaan seorang manusia.

Kegilaan-kegilaan yang berlanjut menjadi sakit jiwa. Jiwa-jiwa yang tunduk pada kelaliman ketuhanan. Boneka-boneka yang muram, terbit dari gua-gua kesunyian. Dan kau, selebihnya aku, yang lahir dari musim kebebalan. Mengarungi sungai panjang penuh kesedihan. Sesuatu yang telah dinubuatkan, segala sesuatu yang bermuara pada kesia-siaan. Segala sesuatu adalah kesia-siaan, kesaksian Pengkhotbah. Dan kita teramat capai mengayuh. Melompat-lompat diatas jeram kelam. Dayung kita adalah jaring yang teramat lapuk. Dan kitapun bersemangat seolah dunia akan terus ada. Tetap melayang, seperti mimpi-mimpi gila.

Peperangan seribu tahun. Seribu tahun, seribu tahun.

Genderang terus ditabuh, bertalu-talu. Berlaksa-laksa prajurit, kita yang bertameng, maju menderap, melawan dunia. Menyanyikan mars perjuangan. Perjuangan terhadap hidup. Seakan dapat kita taklukan segala tantangan kitab-kitab suci.

Malam-malam panjang yang sunyi

Dengan tertib kaupasang selimut

Doa-doa sudah tentu mengatasi segalanya

Kau bangun sebelum kabut

 

Syahdan, catatan ini berasal dari hari sebelum dunia runtuh. Orang-orang yang pergi dan menjadi kucing atau elang atau batu atau kamu.

“Kami telah menemukan kebahagiaan.” Sabda Zarathustra.

 

November, 2014

UkopGnuga

Sebuah Ketetapan

Pagi ini, aku membunuh seekor nyamuk dan mengumpat kesal. Ia menggerogoti kulitku. Cukup beringas. Tentu ia lapar, kemudian melayang kesana-kemari pada tumpukan sampah, tumpukan pakaian, lalu berakhir diam-diam menghisap darah manusia. Begitulah seekor nyamuk melayangi hidupnya. Aku membunuhnya pagi ini. Sebagai suatu tindakan pertahanan atas apa yang menimpa kulitku. Agak lucu juga, jika aku mengambil kesimpulan: “Pagi ini aku ditakdirkan  untuk membunuh seekor nyamuk.” Atau si nyamuk yang berserah pada kematiannya, berkata: “Akhirnya aku mati pada pagi ini. Suatu takdir yang malang.”

Aku teringat seorang kawan yang bertanya: “Seperti apa kamu mempercayai takdir?”

Aku tumbuh sebagai seorang Kristen. Praktis seluruh konsep Injil melekat dalam diriku, dan seluruh pengalaman, aku sandarkan pada kebenaran Injil yang kupercayai. Betapa aku kagum pada cerita-cerita sederhana dalam kisah nabi-nabi, yang selalu diceritakan kakekku tatkala kami beranjak tidur. Seperti yang lain-lain juga, pertanyaan-pertanyaan kritis mulai bermunculan. Perbandingan-perbandingan akan seluruh pengalaman mulai bermunculan. Itu titik dimana kita ditahbiskan menjadi seorang remaja.

Dalam keyakinan Kristen, setiap manusia tak perlu merisaukan hidupnya. Segala kesakitan yang muncul, setiap kesenangan yang datang, hanyalah bunga-bunga hidup yang fana. Kehidupan yang sesungguhnya adalah saat langit terbelah dan tirai kerjaan Allah tersingkap. Kehidupan yang sesungguhnya akan datang jua. Betapa sia-sianya hidup yang kita jalani sekarang. Dan aku pun bertanya letak kebenaran Allah. Seluruh kehidupan yang betapa ampun hebatnya dan maha mustahil ia tercipta, akan lenyap hanya dalam satu hari. Semuanya terrenggut pada saat itu juga.

Baca lebih lanjut