ada gibran

Celoteh Gibrandelaserna

Kami menangis tersedu-sedu,

Sebab kami mendengar si miskin yang mengerang

Dan kaum tertindas yang merintih.

Akan tetapi kalian tertawa ria,

Sebab mendengar suara gelas anggur yang berdenting

Dan celoteh gadis-gadis remaja.

Sepenggal puisi Gibran, sang penyair kesepian mencoba menggelitik zaman dimana dia tak hidup lagi. Zaman dimana kebenaran hanya jadi bahan opini (kata Slank), zaman dimana kita sedang berdiri dan menghirup udara hari ini. Ratusan tahun lalu kata-kata ini tertuang diatas papyrus sang maestro, dan kini kata-kata itu tumbuh di atas tanah, lebat dan berbuah lagi.

Harus mulai dari mana kita melihat kenyataan yang terjadi dari kata-kata Gibran ”

Kami menangis tersedu-sedu,

Sebab kami mendengar si miskin yang mengerang

Dan kaum tertindas yang merintih.”

Dari jalanan si miskin mengerang berontak melawan sang robot pemerintah yang dengan wajah garangnya menghancurkan meja-meja tempatnya mencari makan. Melawan..?? Apalah daya tak ada kekuatan sebab dari pagi belum makan. Berontak..?? Apalah daya hanya ada tulang kurus dan sisa-sisa napas yang ada hanya cukup untuk menangis saja.

Teriak..?? Apalah daya tak cukup kuat, sebab mereka punya pentungan untuk menutup bibir kita sampai berdarah. Di belakang mereka punya anjing coklat yang bisa menembak, juga si laras panjang yang tak ada kompromi. Habislah…

Si miskin tertunduk lesu. Bajunya kumal berdebu bergumul dengan jalanan. Sang ibu penuh air mata menangisi bayinya yang mati,-busung lapar.

” Tuhan..!! Perintahkan malaikat kesuburanMu turun di atas sawah-sawah dan ladang kami sebab di sini kata mereka kami hanya sampah yang menghalangi mereka mendapatkan hadiah kebersihan dari sang maha presiden. Kami hanya batu-batu kotor yang menghalangi roda BMW mereka melintas. ” teriak si miskin.

” Tuhan..!! Perintahkan malaikat kekayaanMu turun di atas panenan kami supaya gabah kami mereka beli dengan tidak murah. Agar anak kami bisa sekolah, agar kami bisa membeli genteng sebab rumah kami bocor atapnya, agar bayi kami bisa minum susu dan tidak menangis kelaparan lagi ” teriak si miskin lagi.

Yang ada hanya jiwa yang hening menatap senja turun di kota kematian. Anginnya sampai ke pinggiran sungai dimana si miskin masih merintih kedinginan. Sepi.. Suara jangkrik mencoba menghibur dari balik gubuk tapi tak berarti jua sebab dentingan gelas anggur memecah malam dan lampu-lampu kota tak bergeming melihat celoteh gadis-gadis remaja bersolek menor bermandikan rupiah.

Zaman tetap berjalan menemani dunia bersolek ria, kenyataan pun tetap berjalan bersama kemewahannya.

Tak bisa dipungkiri kata-kata sang penyair Lebanon kian hari kian menjelma dalam detik ini. Di layar kaca bertebaran kemewahan sang artis-artis pujaan, kehidupan yang serba wah.. berkecukupan bergelimpangan berlian. Bukan untuk mencoba menjadi manusia yang iri terhadap mereka yang punya semuanya, tapi dimanakah hati dan dan rasa yang dianugerahkan Sang Maha Kasih tersimpan saat mereka melintasi si miskin berpeluh di tengah terik matahari. Apa pernah terbersit untuk merelakan secuil emas demi panggilan hati. ??

Ada yang mengaku bertuhan, mereka menghabiskan jutaan rupiah untuk menyewa gedung mewah tempat memuja sang tuhan. Kalau itu kau apa yang mau kau lakukan..??!

Yang mana dikatakan benar dan yang mana dikatakan salah..?? Aku pun tak tahu kawan..!!

Tenanglah kawan.. sebab tak lama lagi kubah langit akan terbuka dan hujan berkat kan tercurah. Dan jika nanti di pintu surga kau berdiri, ajaklah aku berdiri di sampingmu.

Djogdja, 23 April’ 08

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s