Pendeta & Syaitan

Kisah Cinta pendeta dan syaitan

Cinta.. Apa yang terlintas di otakmu saat mendengar kata itu?

Keindahan, kelembutan, sukacita atau kemunafikan, omong kosong?

Ya sudahlah lupakan dulu tentang hal itu. Aku mencoba menuangkan pikiranku tentang apa yang dikatakan Cinta lewat sebuah kisah cinta antara 2 mahluk yang sangat jauh berbeda. Pendeta dan Syaitan. Tanpa bermaksud mengurangi keindahan penulisan sang maestro Kahlil Gibran, aku mencoba belajar untuk menulis meskipun tak seindah beliau.

Pendeta Semaun namanya. Ahli spiritual, bisa menyembuhkan penyakit, tahu keberadaan surga dan neraka. Itulah yang terpikirkan di kepala tiap orang yang ada di kampung – kampung ketika mendengar nama Pendeta Semaun. Karena pendeta ini rajin keluar masuk kampung untuk mengajar,memberi petuah dan menyembuhkan penyakit. Tak jarang orang – orang membeli semuanya itu dengan emas perak dan buah – buahan terbaik dari kebun mereka.

Matahari mulai tampak malu menggantung di ujung barat bukit Lebanon Utara saat pendeta Semaun mengayun langkahnya. Tiba – tiba sebuah suara menggema meluluhkan bukit-bukit. Suaranya begitu pilu seperti seorang ibu yang hendak melahirkan bayi, kesakitan. Pendeta Semaun bergegas mencari arah suara dan didapatinya seorang lelaki berlumuran darah di pinggir jalan. Wajah orang itu menyeramkan, janggutnya kaku penuh darah. Dialah syaitan, raja kegelapan musuh besar pendeta Semaun. Syaitan mengerang kesakitan meminta pertolongan kepada pendeta Semaun. Pendeta Semaun kelihatan bimbang dan takut kalau sampai dia menolong syaitan dan kemudian syaitan malah menyerang dirinya. Pendeta Semaun hendak melangkah pergi dan kemudian berhenti tatkala mendengar syaitan mulai berkata “Wahai kawanku sang pendeta yang terhormat. Kenapa engkau ragu dan takut untuk menolongku? Bahkan untuk melihatku engkau sangat gemetar. Tahukah kau bahwa kita adalah pasangan yang Ia ciptakan?

Mari kuceritakan tentang hidupmu. Kata-kata yang keluar dari mulutmu adalah kutukan untuk aku. Engkau menyuruh warga kampung untuk membangun sebuah kuil yang megah agar setiap harinya mereka bisa masuk ke kuil dan hingga berteriak-teriak mengutuki aku. Engkau mendapatkan makanan yang enak dari petuah-petuahmu. Tahukah kau bahwa itu dari aku? Tidakkah terpikirkan di otakmu ketika engkau tak menolongku dan aku menemui ajalku di sini, peluru apa yang akan kau gunakan untuk mengajar dan memberi petuah kepada orang-orang itu? Tak henti-hentinya engkau memperingatkan mereka agar tak jatuh dalam tanganku. Kemudian mereka membelinya dengan uang mereka yang memang cuma sedikit atau hasil bumi yang selama berbulan – bulan mereka berkeringat mengolahnya. Dan semuanya gratis kawan!! Untuk kelangsungan hidupmu, hari-harimu.. Jika aku maut apakah engkau berpikir bahwa engkau masih bisa hidup? Dari mana akan engkau dapatkan makanan yang enak lagi tatkala namaku telah sirna? Pikirkan wahai pendeta Semaun yang suci..

Hari mulai gelap dan terlihat akan turun hujan deras. Bawalah aku kerumahmu dan bersihkan lukaku..

Pendeta Semaun hanya terlihat gemetar dan dengan terbata-bata dia berkata “ Maafkan aku atas kedunguanku. Aku sadar jika kau mati dan manusia tahu, maka mereka akan kehilangan kebencian atas neraka dan pasti tak akan mau beribadah lagi. Engkau harus hidup!.

Perlahan didekatinya sang syaitan, diangkat tubuhnya dan dipapahnya menuju jalan kerumahnya. Awan yang gelap, bintang yang bersembunyi menjadi saksi bisu kemesraan mereka di sepanjang jalan Lebanon Utara. Angin yang menjadi dingin tak mampu mengusik ketegaran sang pendeta untuk memapah syaitan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s