Penghuni Lampu Merah

Penghuni lampu Merah

Matahari begitu semangatnya menyinari bumi Djogdja.. Peluh bercucuran saat kami melangkah mendekati lampu merah sagan sambil memikul nasi tempe di dus. Bau menyengat pun langsung memeluk hidungku yang penuh dengan komedo, ahh.. tak peduli.
Di sebelah kiri tampak rerimbunan pohon bambu yang menari-nari dihembus angin. Ahh.. tepat di bawah pohon bambu itu sebuah gubuk reot, di depannya sebuah bangku terbuat dari bambu.
Dua orang pria separuh baya sedang asyik duduk di atasnya sambil mengepulkan asap rokok kreteknya. Kumuh, kotor.. keriput wajahnya tampak jelas ketika kami datang mendekati dan mulai berjabatan tangan satu per satu.
Sambil bercakap-cakap dan sesekali bercanda mengusir kepenatan akan panasnya siang itu, nasi mulai dibagikan. Senyum lebar dan keceriaan menyelimuti wajah-wajah penghuni gubuk reot.
Seorang ibu melongokan kepalanya dari balik gubuk, tak ada yang berbeda dari mereka, yang jelas raut mukanya penuh gairah kehidupan meskipun kehidupan kadang tak memberikan gairah kepada mereka.
Menyusuri lampu merah.. anak -anak kecil tak bersekolah berlarian menenteng gelas kecil sambil menyodorkan nya kepada orang yang lalu-lalang..
Hari itu.. bau menyengat di deretan lampu merah membuatku menuliskannya di sini. Sepenggal hari yang panas di tengah para surviver kehidupan..
Djogdja 14 Desember 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s