Euforia Natal

marry1Sungguh sebuah moment yang sangat ditunggu – tunggu umat Nasrani di penghujung tahun, hari Natal. Bermula dari kelahiran Yesus Kristus di Betlehem sekitar tahun 4-8 SM, hari Natal kemudian menjadi sebuah peringatan atas lahirnya Sang Juru Selamat.
Kelahiran Yesus di kandang domba memberikan sebuah arti tersendiri, yaitu kesederhanaan. Kesederhanaan dalam menjalani kehidupan secara khusus dalam menyambut hari Natal itu sendiri. Setidaknya itulah yang saya maknai dari kata kesederhanaan tersebut.
Menyambut hari Natal yang penuh dengan suka cita diwujudkan dengan berbagai macam cara oleh masing-masing orang. Mungkin yang paling umum adalah dengan menghiasi rumah dengan pohon natal beserta berbagai pernak-perniknya. Ada juga yang menyiapkan masakan-masakan yang enak untuk disuguhkan kepada tamu yang datang bersilaturahmi, tak ketinggalan membeli pakaian baru yang akan digunakan pada saat hari Natal. Semuanya dilakukan sebagai bentuk suka cita dalam menyambut hari yang memang sangat menggembirakan. Tapi sayangnya justru hal ini membuat orang terlena dan malah melupakan inti dari suka cita Natal. Ironis memang kalau mengingat arti sebuah kesederhanaan yang tersirat lewat kelahiran Yesus di kandang domba. Ah.. saya tak mengatakan hal itu salah atau kalian pun pasti tak akan peduli sebab saya ini siapa, pendeta? Bukan!
Tadi siang saya menonton siaran berita di salah satu stasiun tv, berita itu menampilkan suasana menjelang hari Natal, dimana di salah satu toko menjual perhiasan yang jumlahnya mencapai 2 milyar rupiah. Terus kenapa? Nah, katanya perhiasan itu ditawarkan kepada peminatnya untuk menyemarakan hari Natal. Aneh! Saya mulai berpikir bahwa image yang ditimbulkan dari Natal adalah sebuah kemewahan dan sifat konsumtif orang – orang. Wah.. kalau memang betul saya pun akan menentang itu!!
Saya masih ingat saat merayakan Natal di kampung halaman, mengarak obor keliling kampung menjadi saat yang paling menyenangkan. Bersama teman – teman mengunjungi rumah – rumah untuk menyalami dan mengucapkan selamat hari Natal juga sangat menyenangkan karena pasti mendapat oleh-oleh 2 buah kue kering. He..he..
Apakah salah jika saya berdoa kepada Tuhan agar di desaku tak ada mal yang dibangun supaya orang – orang saling mengunjungi dan tidak terlena dengan panggilan “si nyonya Mal” , supaya pasar tidak sepi dan supaya penjual kangkung tak kepanasan menunggu karena kangkungnya belum juga laku.
Mungkin kau berpikir saya ini seorang primitif, ya benar! Orang desa yang kata orang kota sekelompok orang – orang bodoh yang kuno, dan karena kebodohannya maka tanah juga sawah – sawahnya dapat dirampas untuk membangun mal – mal yang megah demi kepentingan perut si empunya modal.
Ya sudahlah.. mari kita berperang! Loh.. koq tadi bicara Natal sekarang jadi lain? He..he.. tertawa sajalah kalau ini sebuah lelucon.
Selamat Natal !! Semoga hati kita penuh dengan suka cita dan damai selalu di bumi ini ! Amin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s