Monolog Gunung Ponteoa

Angin sore di sepanjang kaki Ponteoa ramai – ramai mengoyangkan pepohonan rindang, seraya menjulurkan kedua kakinya, Ponteoa bersenandung lirih melagukan keheningan senja di pundaknya. Awan – awan di sekitarnya sengaja berkumpul membentuk gumpalan lembut dan berlari menyentuh penuh godaan kepada Ponteoa sambil tertawa – tawa penuh keceriaan.
“Hai awan kembalilah besok saat langit kembali cerah!” Ponteoa meminta pada awan.
Masih menggumpal awan pun mengangguk dalam tawanya yang sedari tadi, berlari menuju cahaya.
Akhirnya senja itupun berlalu. Sayap – sayap tipis angin terbang memberi kegelapan dan menyelubungi Ponteoa.
“Semoga malam ini tak datang hujan, aku kedinginan” Ponteoa menatap bintang – bintang yang sedang merayakan pesta malamnya.
Seperti malam – malam sebelumnya, Ponteoa membacakan puisi – puisinya. Berharap menjadi dongeng pengantar tidur untuk pepohonan.
Sedikit menutup matanya, Ponteoa mulai berpuisi :
“Wahai kesepian.. Berbincanglah denganku.
Kedatanganmu selalu sendiri. Engkau datang juga hanya diam menatap aku..
Bicaralah.. Sebab aku ingin mendengar suaramu.
Mari kita berbicara tentang kesunyian yang selalu kau tawarkan
untuk menemaniku..
Apakah kesunyian yang engkau agungkan itu menghiburku?
Apakah juga dapat menyemarakkan hatiku?
Ahh.. maaf kesepian..
Aku menghargai dirimu yang sendiri datang jauh – jauh hanya untukku
Aku bahkan sangat menghargai kedatanganmu yang membuatku selalu
Membumi dengan imaji dan membuat kata hatiku melayang –layang..
Aku berkata – kata penuh romantis karenamu..
Terima Kasih wahai kesepian, Datanglah besok saat langit kembali cerah..
Buat aku berkata – kata indah untuk mengucapkan selamat pagi..
Ponteoa menghela nafas panjang saat kesepian pergi.. “Aku memulai detik ini bersamaku lagi” Ponteoa berkata kemudian menutup mata untuk beberapa jam saja..

Indah.. Mentari dengan gagahnya menunjukkan cahaya keemasannya. Di timur gegap – gempita merayakan kesejukan embun pagi. Burung tonsi terbang kian kemari mengucapkan selamat pagi. Ya, pagi yang begitu indah dan hangat.
Ponteoa sedari tadi duduk di situ memperhatikan tiap detik datangnya pagi. Bukan hanya hari ini, hari – hari sebelumnya pun begitu.
Seekor burung tonsi melintas di depannya, menggepak – gepakkan sayapnya mengucapkan selamat pagi.
“Wahai tonsi setiap pagi engkau selalu ceria, terbang kesana – kemari”
Tonsi hanya tersenyum sambil sesekali melintas di depan Ponteoa..
“Seandainya aku punya sayap seperti tonsi, pasti..”
“Ah.. aku penuh keluhan”
“Aku punya badan yang kuat, gagah..”
“Ah.. legitimasi, weeekk..”
Riuh rendah cakrawala bak seorang bayi menangis minta air susu ibunya, mendayu –dayu membuai alam menuju tengah hari..
“Wahai kesepian.. temani aku”
“Temani aku berendam di hangatnya air tembeua”
“Ceritakanlah kisah perjalananmu.. Wahai Kesepian”
“Sepanjang Tambalako mari ku gandeng tanganmu”
“Mari kita lihat burung camar terbang di atasnya”
Ponteoa tertunduk. Kembali Ponteoa berkata “Wahai kesepian.. datanglah!!”
“Hanya kau yang menemaniku”
“Hanya kau yang bisa membangkitkan imaji, naluriku”

Sepanjang kaki Ponteoa angin meliuk – liuk membawa berita bahwa sebentar lagi penghuni dataran akan datang. Mereka tidak sendiri, tapi bersama roda besi dan di genggaman mereka kapak bermata dua begitu tajam menyala.
Mereka akan segera mendaki Ponteoa yang sedang berharap kesepian datang menemaninya.
“Benarkah itu? Aku Ponteoa akan sangat berbahagia jika mereka mau menemaniku”
“Tapi.. Wahai angin mengapa wajahmu begitu muram?”
Angin hanya melintas dan pergi jauh menghilang di balik pundak Ponteoa.
“Apakah gerangan yang terjadi?”
“mengapa semua penghuni begitu takut?”
“Apaka penghuni dataran sangat menakutkan?”

Dari kejauhan Tonsi penuh sedih memandang Ponteoa, tubuhnya lelah setelah memindahkan anak-anaknya ke seberang jauh.
Dalam hati tonsi hanya berharap semoga dapat berjumpa lagi dengan Ponteoa.

Ket: Ponteoa : Nama sebuah Gunung di Kecamatan Lembo, Kab Morowali, Sulteng.
Sangat terkenal dan banyak menyimpan kisah.

Tonsi : Sejenis burung pipit, orang di Kec.Lembo memanggilnya dengan nama ini.
Tambalako : Nama Sungai besar di Kec. Lembo

3 thoughts on “Monolog Gunung Ponteoa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s