Muntahan Emosi Dalam Tulisan

tulis12sa5

Menulis. Siapa tak pernah menulis, kecuali buta huruf tentunya. Begitu menjamurnya sekarang blog-blog pribadi, termasuk blog ini tentunya, memberikan warna dalam demokrasi (uh berat!). Beropini, bebas menulis punya kegilaan tersendiri, puas, setidaknya keran demokrasi (walaupun masih di awan-awan) sudah terbuka setelah sekian lama dipaksa menulis di atas sampul saja tanpa diperbolehkan membuka-buka isinya. Berani buka. DORRR!! Tapi toh banyak yang malah menantang peluru itu dimuntahkan. Seharusnya seperti itu! Jangan munafik, banyak pula menulis puja-puji untuk si raja, demi senyum si raja maka menari-narilah kata-kata diatas kertas kemunafikan. Bangsat!

Ada juga yang jadi bahan tertawaan orang karena menulis buku harian dianggap seperti gadis remaja yang gemar mengisi diary. Jelas saja orang yang menertawakan itu buta huruf. Tertawa karena memang tidak mengerti apa yang dilihat. Ok! saya coba untuk membagikan jurus” pena menari” kepada anda yang ingin menambah referensi kenyamanan dalam menulis dalam bentuk apapun. Hiiiaaaatt.. Jurus “Pena Menari” :

Langkah pertama :

Tentu siapkan alat tulisnya donk! Kopi atau gorengan wajib ada. Bagi yang tak soal dengan fatwa haram rokok silahkan bakar rokoknya. Cari tempat yang menurut anda nyaman, misalnya di alam terbuka, trotoar, kamar, dimana saja selama itu nyaman.

Langkah kedua:

Pikirkan jenis tulisan apa yang anda kehendaki. Puisi, essai, cerpen, novel, terserah.. Gali inspirasi yang mungkin membantu anda menarikan pena. Inspirasi bisa darimana saja, tengok kanan kiri belakang anda mungkin ada objek tertentu yang menarik untuk anda jadikan nyawa dalam tulisan. Contoh misalkan anda ada di air terjun dan hendak menuliskan keindahan alam dalam bentuk puisi. Pandangi air yang jatuh dan biarkan imajinasi anda berkelana kedalamnya. Gemuruh itu membawa riak-riak putih berjatuhan..memecah lumut yang bisu nangkring di atas batu.. lohh..lohh wkkwkkwk..

Langkah ketiga :

Setelah dapatkan inspirsi tulisan. Biarkan jari-jari itu memainkan dirinya, entah makian, umpatan, yang ditulisnya biarkan saja. Keluarkan semuanya,seluruhnya sampai benar-benar kering. Muntahkan saja emosi anda di dalamnya

Langkah keempat :

Setelah selesai, baca kembali apa yang anda tulis. Jadilah editor yang bijaksana, koreksi apa yang menurut anda berlebihan, kurang sopan atau biarkan saja tetap begitu setidaknya itu anda bisa pertanggung jawabkan.

Nah.. itu yang bisa saya bagikan. Sekiranya bermanfaat, meskipun terlalu umum dan sederhana setidaknya itulah muntahan emosi saya..😀 wakakakakk..

Salam. Tetap menulis!

2 thoughts on “Muntahan Emosi Dalam Tulisan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s