Nasibmu undang – undang

library_law_aristnt1

Masih ingat dengan perdebatan panjang yang terjadi bebrapa waktu yang lalu? Ya, perdebatan tentang pengesahan RUU pornografi yang akhirnya juga disahkan. Setelah melewati bertahun – tahun proses panjang, menghabiskan banyak dana, proses yang melelahkan kawan!. Mereka yang katanya wakil rakyat, saling unjuk gigi untuk meloloskan menjadi undang – undang. Dengan dalih yang katanya suci, agar kita dipandang bermartabat di hadapan bangsa lain. Sekarang buka matamu lebar – lebar kawan! Lihatlah pesta demokrasi ini! Apakah undang – undang yang suci itu sudah membawa perubahan akhlak manusia Indonesia? Justru sebelum sosialisasi terlaksana, uu pornografi telah dilanggar. Mereka yang melanggar tak perlu dicari – cari, tengok saja kampanye saat ini. Penari erotis diundang untuk memeriahkan panggung tempat para bandit – bandit mengumbar janji. Inikah kepatuhan kepada undang – undang? Undang – undang yang dibuat sendiri oleh bandit – bandit itu. Tak perlu heran kawan! Mari kita senyum sambil meludah ke tanah. Yang anehnya lagi kawan, para penegak hukum hanya diam seperti orang yang tak tahu malu. Katanya penegak hukum, kok malah diam saja waktu undang – undang dilanggar?
Tak berhenti sampai di situ saja. Pelanggaran kampanye pun tiap hari menghiasi media. Lagi – lagi pelanggaran undang – undang yaitu uu pemilu. Menghadirkan anak – anak saat kampanye, bukankah itu pelanggaran. Maka jangan heran lagi kawan! Para manusia yang katanya pengawas pemilu tak berdaya seperti penegak hukum tadi. Apa mulutmu tak bisa bicara? Apa perlu linggis untuk membuatnya bicara?
Jelaslah sudah kawan! Undang – undang tak berdaya di hadapan bandit – bandit itu. Mereka asyik menari dan tertawa – tawa di atas panggung. Panggung yang penuh iblis bertanduk dan berteriak : Hidup Indonesia, makmur rakyat, sejahtera Indonesia. Meminjam lirik lagu bang Iwan Fals : “Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu, peraturan yang sehat yang kami mau”. Pantas untuk dilemparkan ke wajah bandit – bandit rakus. Hukum hanya berkuasa atas manusia – manusia miskin, para pencangkul, para manusia di pinggir jalan. Hukum bertindak bagi manusia yang kosong dompetnya. Mereka, para penegak hukum pasti sangat senang bisa menendang dengan lars miliknya. Menendang manusia yang lemah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s