Ampas Tahu

 

ilustrasi : jogjacreative.wordpress.com

 

Setiap ku datangi, dia sedang mandi peluh. Tiga kali seminggu, membawa ember besar, bekas wadah cat. Seperti biasa, saya masuk dari pintu dapur. Sebuah pintu dengan tiga buah papan kasar, dieratkan dengan karet ban dalam motor. Di sana dia sedang menahan panas. Memasak kedelai, membuat tahu.

Kakek neneknya ikut gelombang transmigrasi. Jawa tulen. Dulu mereka dilepas di hutan belukar Sulawesi. Bermodal kapak dan sedikit beras. Sekarang dia satu – satunya pembuat tahu di sini. Penduduk di sini selalu ramai mendatangi rumahnya yang terletak di dekat kuburan Islam. Termasuk saya, dengan membawa ember tadi. Membeli ampas tahu. Ampas. Ya, ampas tahu. Sisa pengolahan tahu tidak terbuang begitu saja. Di sini, sebagian besar penduduk beternak babi. Jadilah ampas itu sebagai makanan tambahan yang mempercepat pertumbuhan ternak.

Suatu malam, dibulan Oktober, pada tahun 2003. Terjadi sebuah gerakan. Serombongan pemuda membakar kampung. Tidak hanya memberangus rumah penduduk, mereka bersenjata. Tiga orang penduduk menemui ajal malam itu. Dan pemuda – pemuda itu adalah kawan si pembuat tahu.

Terakhir kali saya datang, menuju dapur, si pembuat tahu itu melirik ragu. Ada kekhawatiran di dadanya. Mungkin dia pikir, saya akan memekik seraya menghabisi nyawanya saat itu juga. Saya maju selangkah, mendekatinya, menyodorkan sebuah ember. Berkata :

“Seperti biasa”

Tangannya gemetar sewaktu meraih ember.  Juga begitu ketika dia mengembalikan seember penuh ampas tahu. Dia menolak ketika saya membayar.

Sejak peristiwa malam bulan oktober itu, penduduk membenci transmigran yang terlibat. Sebagian besar dari mereka adalah seperti si pembuat tahu. Jawa.

Tapi itu hanya menyala sebentar saja. Kebencian tidak sampai ke ubun – ubun. Dibalut akal sehat, maka hanya menjadi barang yang singgah sebentar, akibat emosi sesaat. Hanya tertuju pada oknum saja. Tidak seluruhnya, Jawa. Dan sampai sekarang, transmigran itu hidup di antara pohon – pohon karet. Mengiris kulit pohon karet dan menampung getahnya. Setiap bulan diangkut truk ke pelabuhan, di jual ke kota dengan harga tinggi.

Anak – anak mereka (transmigran) hampir seluruhnya sekolah. Meskipun ada beberapa yang terlalu sibuk dengan pisau pengiris kulit pohon karet. Seringkali ayahku mengajakku menemui mereka. Mengajar mereka di balai desa. Kejar paket A atau B. Tidak jarang mereka datang membawa arit, cangkul, atau pisau pengerat. Karena sehabis itu mereka terjun lagi ke medan, ke alam. Mengerat kulit pohon karet, mencangkul di ladang atau menyiangi.

Seringkali datang perasaan malu, jika membuat perbandingan antara mereka (transmigran) dengan penduduk asli. Mereka pekerja keras, tidak mustahil mereka mengantongi banyak uang. Tetapi rumah mereka tetap begitu saja. Sangat sederhana. Berbeda dengan penduduk asli. Menonjolkan kehebatan – kehebatan materi, sementara bekerja dengan lunak.

Mulai dari sinilah muncul yang dinamakan kecemburuan sosial. Sebuah ketimpangan, katanya. Pada banyak daerah pun demikian. Banyak berkoar – koar soal tergusurnya penduduk asli akibat pendatang yang punya keahlian lebih. Sementara pemuda penduduk asli sibuk dengan mabuk – mabukan dan bekerja dengan lunak. Yang terakhir ini lebih suka dengan cara instant yaitu menjadi pegawai negeri. Semua orang berlomba – lomba. Bahkan manipulasi sana sini setiap hari terjadi.

Dan pengerat kulit pohon karet tetap mengerat. Si pembuat tahu tetap berkelahi dengan panasnya api pembakar bejana, memasak kedelai. Yang lain tetap mencangkul.

Ternyata tahu bukanlah sesuatu yang instant dibanding pegawai negeri.

dikutip dari tulisan saya di kompasiana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s