Bung Goenawan Mohamad, Apakah yang Bernama Prinsip?

 

(ilustrasi:zpmonline.com)

 

Saya ikut merumuskan ”Manifes Kebudayaan”.Begitu tertulis dalam eseinya, tertanggal 9 Agustus 2010, dalam blognya. Dialah Goenawan Mohamad.

Mendengar kata Manifes Kebudayaan, ingatan kita tertuju pada peristiwa tahun 60-an, prahara kebudayaan. Jika memang kita mau membuka lembaran sejarah. Dan siapakah yang berhasil kabur dari sejarahnya? baik dia itu individu, masyarakat, negara. Mustahil. Saat itu Goenawan Mohamad berumur duapuluhdua tahun. Dia ikut menandatangani. Otomatis mulai saat itu pula, GM sudah menentukan jalan, ujung penanya, memisahkan seni dan politik. Seni tidak boleh didikte politik atau sebaliknya. Keduanya bebas. Pendeknya begitu.

Lekra lahir dengan slogan “Tinggi mutu ideologi, tinggi mutu artistik”, pada masa demokrasi terpimpin-nya bung Karno. PKI berjaya dan mendapatkan tempat yang hangat. Lekra kemudian sejalan dengan PKI. Putu Oka Sukanta, seorang Lekra, pernah berkata :

“Lekra dan PKI secara organisasi terpisah, tapi mempunyai tujuan yang sama,” kata Putu, tegas. (sastra-indonesia)

Bertautan dengan itu, mulailah sebuah prahara kebudayaan. Seperti pada prinsip manikebuis yang menolak seni bergaul dengan politik. Peristiwa 65 kemudian secara pelan – pelan juga berdarah – darah, menutupi masa itu. Mereka yang dianggap punya pertalian dengan komunisme dibuang. Termasuk Lekra, termasuk Pram dan yang lain. Sebuah final tanpa penyelesaian, muncullah pemenang, manikebu. Meskipun kesimpulan ini ditolak mentah – mentah oleh bung GM (baca : blog GM).

Manifes kebudayaan menolak seni ikut campur dengan politik! Masih dalam blog bung GM, dalam petikan wawancara dirinya, bung GM menyatakan mendukung salah satu partai politik. Meskipun dengan penjelasan berikutnya yang menyatakan kreatifitas seni-nya tidak mau dikomando oleh parpol, atau perjuangan politiknya. Tapi bukankah karena itu kemudian Pram dan yang lain dibuang, bung GM? Atau pada kata lain yang mendukung pemerintah saat itu.

Sudah terlanjur basah dan handuk untuk menyeka juga sudah direndam.

Saya sendiri, secara pribadi mengagumi seorang Goenawan Mohamad. Tapi disisi lain, kita pasti sepakat tentang sebuah prinsip. Menyusul kemudian hadirlah sebuah acara piala – pialaan, yang diberi nama Bakrie Award. Bung GM juga dapat pada tahun 2004. Siapa pula yang tak tahu Bakrie di negeri ini ? Pada saat penduduk bumi ini sedang getol – getolnya berbincang hangat seputar piala dunia, di sebuah negeri kecil bernama Indonesia, seorang Goenawan Mohamad mengembalikan Bakrie Award.

Sudah terlanjur basah dan handuk untuk menyeka juga sudah direndam.

Lagi – lagi nostalgia. Pada saat itu, si pendukung pemerintah seperti Pram dan yang lain, dibuang. Dan menderita. Nostalgia itu kemudian hidup dalam waktu dan subjek yang lain. Tenang – tenang saja. Meskipun keadaan sekarang bukanlah sebuah revolusi romantik.

Amboi!

Tulisan ini bukanlah sebuah upaya untuk memantik kembali ‘api’ yang pernah hidup. Bukankah kita yang menulis di sini punya sebuah tongkat. Tongkat yang menjadi pegangan dalam menyusun huruf demi huruf. Yang membawa pada sesuatu yang dinamakan prinsip atau hanya menjadi sebenggol akar yang tak punya arti, digoyang angin kesana – kemari. Juga sebuah cermin pada generasi muda, betapa sebuah sejarah berlangsung dan kita sepakat untuk bercermin pada sejarah itu. Atau kita hanya mengulang – ulang, menjadi subjek dalam bentuk lain.

Pram sudah membusuk di karet, juga yang lain di tempatnya. Saya rasa kita sepakat untuk berprinsip.

– Jogja pada September 2010

dikutip dari catatan saya di kompasiana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s