Diplomasi Bunga

Tulip (ilustrasi wikipedia)

Tulip (ilustrasi wikipedia)

Apa yang terlintas di benak Tuhan ketika Dia menabur benih di bumi, dan kemudia benih itu tumbuh, diberi nama bunga. Mungkin saja Dia bergumam demikian :

“Kiranya mereka mengingatKu”

Siapa yang menyangka bahwa evolusi yang berabad – abad lamanya, tak kunjung melunturkan warna pada salah satu mahluk hidup yang bernama bunga. Bahkan ketika, sejak awal mahluk hidup yang bernama manusia, memangsa sejenisnya.

Mungkin saja Tuhan sedang berdiplomasi.

Lahirlah Nazi. Sebuah kekuatan yang tak tertandingi, pada masanya. Sebagian Eropa, tertancap tiang, berkibar swastika. Heil Hitler! Seru mereka yang masih ingin hidup. Duduk menduduki. Nusantara, diduduki Belanda. Belanda diduduki Nazi. Si bunga tetap berkibar.

Juliana lari ke Kanada. Belanda bebas oleh Kanada.

Diplomasi bunga lahir. Ottawa banjir bunga setiap tahun. Ucapan terima kasih dalam kerumunan jenis, warna, corak, tulip si bunga. Terima kasih atas keselamatan puteri mahkota. Seru Belanda.

Tulip. Si bunga. Bahkan Utsmaniyah terpikat. Maka diangkutlah bunga – bunga kaku ini dari habitatnya, Asia Tengah. Jadilah dia bunga nasional Turki. Si bunga itu. Amboi!

Entah seorang penyair atau siapa, berkata, katakan dengan bunga!

Juga diangkutnya serumpun bunga pada kekasih itu. Katakan dengan bunga, dia mengingat itu, pasti.

Dan begitulah si bunga. Hidup liar, dan pada taman, dan di atas air, dan di atas pot, melengkung, miring, terbalik. Tak jua melemparkan keindahannya, yang tampaknya sudah menjadi takdir sejak dia lahir.

Bahkan ketika yang dinamakan mati itu tiba, si bunga ditaburkan lagi pada tanah. Kuburan. Dan jika si bunga sendiri yang mati, adalah sebuah lelucon, tabur bunga di atas bunga. Hitler pun pasti tertawa.

Ya. Untuk orang yang sudah berposisi dalam liang lahat, kita masih berdiplomasi. Si bunga, media itu. Dan memang, jikalau benar, Tuhan berdiplomasi dengan manusia, bangunlah pada suatu pagi, pandanglah si bunga. Apakah Tuhan berbicara ? Bisa saja lewat si kumbang, penghirup madu.

dikutip dari blog saya di kompasiana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s