Masih butuhkah kritik sastra ?

 

ilustrasi : refanidea/wordpress

 

Sudah sering terdengar pada banyak media sastra, tentang perkembangan sastra modern yang minim kritik. Dibarengi munculnya esei – esei yang mempertanyakan dimanakah para kritikus sastra. Harus diakui bahwa dunia sastra modern sedang mengalamai kelesuan dalam kritik. Jika ditarik sebuah tali penyebab lesunya daya kritik sastra, mungkin salah satu diantaranya adalah kurangnya minat pelahap sastra untuk bertanya. Sejalan dengan itu, faktor psikologis akan kesadaran diri juga ikut terbawa. Hal itu timbul dengan beragam alasan :

“Saya bukan seorang kritikus!”

“Saya bukan seorang ahli dalam bidang ini!”

Atau yang paling sering :

“Buat apa mengkritik? Toh kita sendiri belum tentu bisa menciptakan karya!”

Dan beragam alasan di atas dapat dipahami, selama ‘kita’ sendiri juga tak ambil pusing. Kritik seringkali dipahami sebagai sebuah peluru yang ditembakkan dari laras senjata egoisme. Sehingga jadilah dia sebagai barang berlabel buruk. Konotasi buruk.

Tentang kritik sastra dibanding kritik terhadap bidang lain jelas sangat berbeda. Cita rasa sastra berbeda dengan resep dokter. Bukan anjuran, tetapi mempertanyakan. Yang paling sering muncul adalah sikap ketidakpercayaan diri dalam kritik sastra. Kritik sastra tak selamanya bersifat teoritis. Tidak juga harus berpegang pada pelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang didapat pada bangku sekolah. Kritik sastra bisa muncul dari imajinasi pembaca. Sebagai pembaca sastra, melahap sastra tentu saja bukan sebuah hal yang berkeadaan beku. Menutup novel, puisi, dan selesai.  Tidak berlangsung sampai di situ saja bukan? Dan kita terus dipacu untuk bertanya : kenapa saya kenyang? saya tidak kenyang? mengapa sastra Rusia menghasilkan revousi? mengapa puisi Gibran hidup sampai detik ini?

Dan pertanyaan mucul. Mencari sebab dan membawa pada sebuah kritik.

Seorang Pramoedya, dalam kumpulan tulisannya pada Menggelinding 1, menampakan bahwa perhatinnya dicurahkan penuh pada pekerjaan seni. Tidak saja mencipta, tetapi juga kritik. Bahkan Jasin yang dikatakan Pram sebagai guru, dikritik habis – habisan, terlepas dari offensif kesusasteraan 1953.

Kemunculan Kompasiana sangat membantu para penulis untuk mempublikasikan karyanya, sehingga dapat dibaca orang lain. Tetapi sekali lagi, minim kritik. Persoalan teoritis seperti tokoh, alur, diterima sebagai suatu kesepakatan bersama. Sementara apakah itu menyentuh titik intim ? Ya, habis dan selesai pada tawa.

Seorang penulis puisi, seperti Kit Rose, tentu punya alasan tersendiri ketika mencipta puisi yang ‘gelap’. Bagi saya, awalnya puisi – puisi Kit Rose hanyalah sebuah coretan – coretan tentang pergulatan individual, dirinya sendiri. Tetapi jika mengikuti lebih lanjut, disinilah cara Kit Rose menyeret pembaca ke dalam sebuah lorong yang dibuatnya secara gelap. Sekaligus sebuah cermin (puisi cermin) yang memutar balikan pembaca untuk kembali menelisik dirinya. Bermakna universal. Juga tentu kita tidak heran, jika membaca puisi – puisi Pablo Neruda. Bayangkan saja, dia seorang komunis patuh, puisinya cinta melulu, bukan melulu cinta. Cinta yang lebih agung, romantik dan universal.

Dan sekali lagi, kritik yang dipahami seringkali didahului oleh sinisme. Persoalan yang muncul adalah mematikan daya kritik, terutama terhadap kesusasteraan. Kita butuh kritik sastra. Seorang Budi Darma pernah berkata :

Kritik yang baik adalah kritik yang memberi wawasan. Kritik  yang baik adalah kritik yang bisa membangkitkan siklus mencipta: karya sastra  bisa melahirkan kritik, dan kritik bisa merangsang sebuah karya baru. Dalam  perkembangan sastra Indonesia yang belum menunjukkan keunikannya ini,
rangsangan semacam itu sangat perlu.

– Jogja, pada September 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s