Membeli Kejujuran di Tengah Hujan

ilustrasi : shutterstock

Beberapa hal yang ganjil selalu saja singgah kepada kami. Tentang kami, tentang perempuan, tentang seberapa kuat kami melahirkan anak. Kartini memang kalah dan Siti Nurbaya harus rela. Perkawinan memang menang. Ya, itu ganjil saudaraku. Dan teramat ganjil lagi, saudaraku, pada masa sekarang ini, keganjilan itu masih hidup. Dulu ibuku pernah berkata : perempuan adalah ibu kehidupan. Dia membuat dunia ini ramai.

Apalagi aku baru saja ditahbiskan dunia, untuk membopong angka duapuluhsembilan. Angka yang tidak sedikit, tentu. Dan keganjilan itu datang, saudaraku. Kapan nikah? kapan punya anak? kapan ini? kapan itu? dan sederetan kapan itu membuntuti. Rasanya aku hendak menghakimi pertanyaan itu dengan menumpahkan segala ususku, hatiku, limpaku, sampai terburai – burai. Agar terlihat bahwa aku bukanlah sebatang lilin yang kapan saja bisa dihidupkan dan semaunya dipadamkan. Dan yang tak pernah terjaga adalah bahwa aku meleleh.

Seperti malam ini, hujan meleleh, seakan malu – malu menyapa mereka yang takut basah. Ku lemparkan penat ditengah sesaknya simpang lima. Kaki – kaki berlarian menjauhi rintik hujan dan penatku semakin terinjak – injak. Di sini, malam ini juga aku menantang hujan. Tak peduli rambutku basah. Aku menunggu, sebuah kedatangan, sekarang ini juga. Dua orang pemuda melintas di depanku, membuang senyum, goda. Penatku tersungging pada bibir yang sekarang ini tidak merah, kebiruan, hujan, menahan dingin demi angin. Godalah aku! Teriakku dalam hati. Pemuda mana yang tak akan menggodaku. Aku punya kulit tanpa cacat. Bibir, alis, mata, hidungku sebanding dengan butir hujan yang dilemparkan malam ini.

Aku menunggu. Hei kau, datanglah!

“Sudah lama kau di sini?” tanya seorang pemuda. Dia mendekat, mencoba melindungiku dari tumpahan hujan.

“Sudahlah. Simpan saja payung itu untuk kau. Aku tak peduli pada basah.” kataku dengan bibir kaku.

“Apa yang kau inginkan saat ini? menghakimiku?” tanyanya terburu – buru.

“Aku ingin merayakan hubungan kita, malam ini, meski hujan, tak apa bukan? Aku ingin kita merayakannya dengan membuka hati selebar – lebarnya. Ku pikir bahwa kejujuran dapat kita beli bersama. Aku tahu kita sanggup. Kau.” aku masih berdiri tegap. Dua butir hujan menggenangi kelopak mataku.

“Kau tahu bahwa aku terlampau menyayangi. Aku tak ingin satu jarak pun ada di antara kita. Hanya itu.” dia mencoba mendakapku. Ku tolak.

“Dan yang kau lakukan? Apakah itu bukan membuat jarak?” tanyaku memburu.

“Ya, benar! Aku menemui perempuan itu.” katanya keras.

“Dan untuk hal itu, kau melarangku”

“Aku terlampau menyayangi kau!” selanya.

“Jadi kau pikir bahwa adil adalah sesuatu yang berat sebelah? Hal yang kau larang untukku, ternyata kau lakukan, sembunyi – sembunyi. Adilkah itu?” pertanyaanku memburu.

Dia diam. Hujan kian lebat. Ku dekati tubuhnya. Aroma parfumnya luluh di hidungku, ku dekap tubuh yang sedari dulu mendekapku. Bisikku pada telinganya:

“Sejak dulu, aku berkata pada diriku sendiri, bahwa Tuhan telah mengirim kau untukku. Tapi saat ini, aku ragu. Aku yakin bahwa kejujuran adalah hal yang mulia. Tapi saat ini, aku ragu. Kejujuran teramat mahal, sayangku”

Ciumannya begitu hangat, untuk hujan saat ini. Tapi entah untuk hujan yang berikutnya.

Angka duapuluhsembilan ku pikul pada pundak. Hujan kian deras, di simpang lima. Ayunan kakiku teratur, menyusuri jalan pulang. Dia masih mematung di sana. Dalam hujan.
Dan pertanyaan – pertanyaan ganjil itu berlari – lari dalam kepalaku. Kartini memang kalah dan Siti Nurbaya harus rela. Tapi aku tidak.

Dan rasanya, aku ingin menambahkan perkataan ibuku, bahwa : Perempuan adalah ibu kehidupan. Yang melahirkan kejujuran. Dia membuat dunia ini ramai. Dengan kejujuran pula.

– Jogja, pada September 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s