Mengapa Kakekku Membenci Jepang Sekaligus Belanda

ilustrasi:tyoo-smansa/blogspot

12 Januari 1942. Saat itu umurku duapuluhsatu tahun. Badanku tegap ditonggak rangka tulang yang kurus kering. Saat itu kami benar – benar kekurangan makanan. Itu masa yang sulit. Jepang menyerang, menyerbu dengan strategi guritanya. Hindia Belanda benar – benar terjepit, ruang gerak semakin kecil. Armada laut Jepang kian dekat menghadapkan moncong meriamnya dan membombardir tanah kami. Sayup – sayup terdengar siaran radio di pos KNIL : pihak sekutu di Singapura belum mengirimkan bantuan! Astaga, kami semakin takut dan lapar.

Pintu gerbang untuk menuju tempat kami, terletak di utara, Manado. Jepang benar – benar menguasai laut. Esok hari, dipagi buta, kami para pemuda kampung dikumpulkan, berbaris di depan barak. Tak berbaju, dan perut kami buncit, penuh cacing.

“Manado sudah direbut!” seorang prajurit KNIL berkata.

Itu berarti jalan Jepang menuju tempat kami sudah terbuka. Kami gentar dan lapar. Wajib militer berlaku. Kami diwajibkan membantu Belanda melawan Jepang. Mendadak rasa laparku hilang seketika, aku terhenyak. Bagaimana mungkin kami membantu musuh untuk melawan musuh. Ini tidak masuk akal. Menjelang siang, tanggal 13 Januari. Terdengar gemuruh di atas langit. Benda – benda kecil bersayap meliuk – liuk, sangat lincah. Burung apa itu? tanyaku dalam hati. Pada pantat burung itu terdapat cetakan merah, bulat. Itu pesawat jepang! Ramai – ramai kami berseru.

Keadaan kalang kabut. Kami diperintahkan menggali lubang, sebagai tempat persembunyian, jika tiba – tiba pesawat itu menjatuhkan bom. Rasa lapar kami lawan, menghempaskan cangkul ke bumi, menarik tanah sebanyak – banyaknya. Kelak di sini kuburanku, gumamku dalam hati. Saat tengah hari, ratusan lubang sudah kami gali. Atas perintah Letnan De Jong, kami bariskan lagi di depan barak. Tugas kami selanjutnya membantu Belanda mengungsikan sanak keluarganya ke daerah pedalaman. Ke daerah rawa yang mungkin tidak disentuh Jepang.

Kami marah, tentu saja dalam hati. Bagaimana mungkin kami menjemput tentara Jepang yang perkasa itu, sementara Belanda mengungsi. Tapi begitulah, semuanya berlaku bagi kami yang terjajah. Untuk menanggung hal – hal berat, itu urusan kami. Sanak keluarga kami, terutama perempuan tidak diperkenankan mengungsi.

“Bersembunyi dalam lubang!” perintah Letnan De Jong.

Aku teringat ibu di rumah. Beliau sudah tua dan lumpuh. Bagaimana mungkin dapat lari dan bersembunyi dalam lubang, ketika Jepang menyerang. Pukul satu siang, bom seberat duaratus kilogram jatuh bagaikan hujan yang dilemparkan. Tanah bergetar. Ku lari ke rumah, mendapati ibu di bawah dapur. Beliau menelungkup, menyembunyikan wajahnya.

“Ibu!” panggilku. Dia berteriak ketakutan. Mungkin dipikirnya aku tentara Jepang.

Ku raih tubuhnya. Ku bawa lari menuju barak KNIL. Di barak masih tersisa sebuah truk pengangkut keluarga Belanda ke pengungsian. Dengan tergesa – gesa, ku bawa ibu ke situ.

“Tuan. Tolong bawa orang tua ini bersamamu” pintaku dengan sangat pada seorang Belanda.

“Dia bukan family Belanda. Tinggal di sini saja!” balasnya dengan kasar.

“Tolong. Dia sudah tua dan lumpuh. Tidak mungkin dapat berlari untuk mencari tempat bersembunyi.”

Bom yang dijatuhkan kian hebat. Penduduk kampung lari menuju lubang persembunyian. Tiba – tiba truk dihidupkan dan hendak pergi. Aku melompat ke dalam truk, ibu masih dalam dekapanku. Sebuah lars menendang bahuku. Aku terlempar keluar, sedang ibu jatuh, untung saja masih di dalam truk. Tidak sampai terjatuh keluar. Truk berjalan sekitar sepuluh meter, dan tiba – tiba perempuan tua itu dilemparkan. Beliau terhempas ke tanah. Suara hempasan itu membakar diriku. Ku lari mengejar truk, saat itu ku lari kencang sekali. Aku tak merasai tubuhku lagi.  Ku melompat ke sisi truk dan masuk mendapati seorang serdadu Belanda yang melemparkan ibuku. Aku benar – benar beringas. Ku gigit telinganya sampai berdarah, tak kurasai lagi darah itu sudah ku telan. Serdadu yang lain menembakkan senapan, tepat di dadaku.

Sampai di situ aku tak ingat apa – apa lagi. Gelap. Sangat gelap. Ku pikir bahwa aku sudah mati. Sementara ibu dimana, aku tak tahu.

Aku terbangun karena ku rasai sebuah jari menyentuh pipiku. Ku pandangi ruangan, ku dapati tubuhku terbalut selimut. Seorang perempuan muda membersihkan wajahku dengan kain.

“Kau berkeringat. Untung saja peluru itu tidak menembus jantungmu.” suaranya lembut sekali.

Aku teringat ibu.

“Mana ibuku?” tanyaku dengan terpatah – patah.

Perempuan muda itu membuang muka. Dia terisak, dalam. Ku raih tangannya, dan ku tanyai lagi dengan pertanyaan yang sama.

“Ibu sudah tiada. Perutnya bocor tertusuk akar.”

Itu pasti ketika beliau dilemparkan dari dalam truk. Aku menggumam dan menarik nafas panjang.

“Dia mesti pergi, tapi tidak dengan cara seperti ini.” perempuan muda itu memelukku erat. Memberikanku kalimat – kalimat panjang, menghibur hatiku.

25 Januari 1942. Jepang menduduki bagian tenggara. Saat itu juga ku nikahi perempuan muda tadi.

Aku tertegun mendengarkan cerita kakekku. Dan sekarang ku ketahui mengapa dia sangat membenci Jepang sekaligus Belanda.

– Jogja, pada September 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s