Ode To Clothing#Pablo Neruda

Tentang pakaian, Pablo Neruda pernah menulis :

If one day
A bullet
From the enemy
Might leave a spot of my blood on you
And then
You would die with me
Or maybe
It won’t all be
So dramatic

Ode to clothing.

Apalah arti sebuah pakaian. Nampaknya tidak begitu bagi seorang Pablo Neruda. Mungkin menyadari dirinya seorang politisi komunis yang patuh, tak ayal akan muncul serangan yang tak terduga, dari siapa saja, musuh politik.

Suatu kali, di jalanan yang lengang, seorang gila tunggang langgang. Seorang ibu mengejarnya. Orang – orang di sekitar situ menyingkir. Ketika si ibu mendapati sosok yang dikejarnya, disodorkannya sebuah gumpalan kain. Pakaian. Orang gila itu setiap hari bugil. Yang lain acuh, bahkan menyingkir. Tapi lain hal dengan si ibu. Seperti anaknya sendiri, si ibu memakaikan pakaian pada si gila. Apalah arti sebuah pakaian, bagi yang lain.

Ya, selain sebagai penutup aurat, pakaian juga menjadi mode. Perancang pakaian lahir. Ada yang dibutuhkan, pemecah lahir. Simbiosis mutualisme. Apakah tuan pernah mendengar celoteh iseng:

Biar kalah nasi, asal jangan kalah aksi.

Entah ini sebuah lelucon atau pernyataan, yang jelas sudah berlaku umum. Banyak yang berusaha menampakkan dirinya lewat media pakaian. Ego, idealisme, gaya hidup atau apapun itu. Juga bagi mereka yang menyebut diri anti kemapanan. Dengan pakaian lusuh, bahkan boleh dibilang tak layak pakai. Kemudian muncul sentilan : Karena mereka memang tidak punya uang untuk membeli pakaian yang layak! Terutama bagi mereka yang merasa tersindir. Rasanya hal itu masih diperbantahkan. Idealisme. Atau bagi mereka, bangsawan, merasa besar dengan pakaian kebesarannya.

Hal ini memang tak layak mendapat tempat untuk diperbantahkan. Lebih lanjut, Pablo Neruda menutup Ode To Clothing :

That’s why
Every day
I greet you
With reverence and then
You embrace me and I forget you
Because we are just one
And we’ll keep going on together
Against the wind, in the night
The streets, or the struggle
One single body
May be, may be, some time will be immobile.

Sebuah perenungan yang erotis untuk hal – hal yang kurang mendapat tempat. Pakaian.

Sudah, lepas dari mode atau apapun itu. Kita telah bersetubuh dengan pakaian. Tiap lekukan tulang, gumpalan daging, dia, pakaian, fleksibel. Dan kita berjalan, tubuh yang tunggal,
hari yang tunggal, satu hari nanti, ketika hanya ada sunyi.

Ode To Clothing.

– Jogja pada September 2010

 

kaos canting (dokumen canting)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s