The People Must Know Their History

“The people must know their history

Penyataan di atas pernah keluar dari mulut seorang Gorky. Saya yakin bahwa tuan pasti tahu. Atau paling tidak pernah mendengar teori sederhana tersebut. Jika melihat lebih dekat, pernyataan serupa pernah diteriakan oleh bung Karno. JAS MERAH. Jangan sekali – kali melupakan sejarah!

Sejarah. Rupanya satu kata yang bernama sejarah itu, punya arti penting, sampai – sampai dielu – elukan, dan tercatat dalam dirinya sendiri. Termasuk mereka yang berteriak soal itu.

Dalam lahan sastra, sejarah menjadi sebuah kekuatan tersendiri. Bukan sekedar imajinasi ataupun penciptaan fiksi semata untuk menghasilkan sebuah karya sastra. Tetapi sejarah melebur dan membentuk sebuah alur dalam segepok naskah. Lahirlah realisme sosial-nya Gorky. Dengan segala kontroversi akibat caci maki pada Marxisme – Leninisme, gaung realisme sosial sampai juga ke Nusantara. Adalah Pramoedya Ananta Toer, namanya paling kerap disebut jika berhubungan dengan genre sastra yang masih asing ini. Bahkan sampai sekarang.

“The People must know their history”

Sejalan dengan isme – isme yang melekat pada realisme sosial, karya – karya yang lahir mengusung tema sosial masyarakat. Tentang perjuangan, revolusi, ketimpangan sosial, bahkan yang paling apik adalah reportase sejarah dengan cita rasa sastra. Tentu saja dengan berbekal bahan yang mumpuni. Kalau tidak, malah bisa jadi penyimpangan, membengkokan sejarah. Justru inilah yang menjadi motivasi realisme sosial. Berusaha mengungkapkan realitas yang terjadi dengan orientasi pada sejarah. Sekaligus memercikan api perjuangan. Sebagaimana yang dikoar – koarkan bahwa sastra adalah alat perjuangan!

Di Indonesia, pra dan pasca Pram, realisme sosial sering mendapat cibiran atau yang paling halus mengatakan, bahwa realisme sosial hanya dapat menyeruak jika hidup dalam keadaan terkungkung. Atau dalam tirani penguasa. Untuk keadaaan sekarang realisme sosial tidak diketemukan relevansinya. Bagaimana mungkin? Apakah keadaan sekarang sudah mapan sebagai sebuah komunitas? Mungkin saja pendapat itu dapat diaminkan karena mereka yang melihat hanya pada isme – isme yang melekat.

Lagi – lagi tentang caci maki pada Marxisme membuat pandangan kita kabur akan hal ini. Kita dibungkam selama 32 tahun. Seakan – akan hal itu adalah hal yang paling menajiskan. Dan setiap hari ketimpangan, ketidakadilan terjadi. Bagaimana mungkin realisme sosial tidak relevan. Dan apakah hari kemarin bukan sebuah sejarah.

Dan memang benar bahwa ada ungkapan : dunia setiap hari berlari. Menuju modern. Demikian pula halnya pada lahan sastra. Sastra modern. Minimnya kritik sastra, membuat sastra berusaha dilupakan pada kejadian – kejadian masa lampau. Kebanyakan berarak ke kota, dengan segala tetek bengeknya kota. Tentang sex, pergaulan muda mudi dan pada akhirnya terjebak dalam penciptaan fiksi cinta. Gaung pergulatan petani di desa, buruh harian di desa yang setiap hari diserbu orang kota, sudah tidak terdengar lagi.

Demikian juga pada halnya buku – buku sejarah cetakan pemerintah, yang dibagikan ke sekolah – sekolah semakin mengaburkan. Jelas sesuai pesanan penguasa. Semuanya penuh dengan mitos, kisah patriotik bergelar anumerta, pada akhirnya mencerai-beraikan laut Nusantara.

Ada beberapa penulis yang tetap pada alurnya. Semisal Ayu utami, dengan reportase sejarah cita rasa sastra. Tetapi lebih banyak lagi penulis yang mengkambingkan dirinya, sastra modern katanya, dengan gaya ke-aku-annya. Tanpa secuil pun menyentuh sisi humanisme. Semisal Raditya Dika.

Tanpa bermaksud banding membandingkan, apakah dengan keadaan seperti sekarang, hal – hal jenaka dan konyol lebih layak mendapatkan tempat ? Sementara ketidakadilan berlalu seperti kereta api, asap dan bunyinya lebih cepat pergi ditiup angin, dan orang – orang ramai. Pergi dan berlalu.

“The people must know their history

Jogja, pada September 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s