Crayon

(madisonavenuejournal.com)

(madisonavenuejournal.com)

Mungkin tak pernah terselip nama Basuki Abdullah di benak seorang bocah bernama Arga, ketika sepotong crayon menari kasar di atas kertas. Tak ada keindahan yang dilebih – lebihkan, juga tak ada cekcok keindahan yang disamarkan pada arsiran crayon kuning merah di atas sebuah gunung. Merapi. Hanya mengalir saja, jika Arga tahu bahwa yang dia gambarkan itu bernama lava, saya yakin sudut matanya akan bergerak ke arah utara. Melihat sekali lagi gunung yang sedang dia gambarkan.

Natural sekali. Dan sekali lagi dia mungkin tak kenal siapa Basuki Abdullah. Pohon – pohon yang hijau, juga sawah – sawah hijau, semuanya serupa. Arga terus menggambar. Dia mencomot satu demi satu warna crayon. Hijau, kuning, merah, dan coklat untuk warna sebuah rumah. Mungkin rumahnya.

Ingatan pada seorang anak seumurannya, tentu sangat kuat. Dan bayangan – bayangan itu terekam jelas, mengalir dan menari diantara ibu jari dan telunjuknya. Tak perlu keahlian khusus atau menjadi paranormal untuk melihat rekaman kejadian pada saat itu. Cukup memandang mata seorang Arga. Dia menceritakan semuanya di situ.

Hujan di luar kian deras. Sorak – sorai anak – anak itu menyatu dalam titik – titik butir – butir hujan yang jatuh atau dilemparkan. Tumpukan sendal berukuran kecil itu hanyut terbawa arus air. Semoga tidak bersama hati dan jiwa mereka.

Dan Arga sudah selesai menggambar. Bocah gempal itu terkekeh sekaligus bangga, memperlihatkan hasilnya di atas kertas yang sedikit berwarna coklat pada beberapa bagian, daki telapak tangannya, juga beberapa percikan ingus ikut mewarnai. Natural sekali, dan beberapa bagian yang paling kecil dari tubuhnya ikut andil.

Dan Arga bukanlah satu. Begitu banyak yang tercecer atau yang diam dalam pos – pos pengungsian. Arga memang gempal dan makanan yang menghasilkan lemak perut, bukan satu – satunya yang dia butuhkan. Jiwanya mengerucut. Dan semua sudah tergambar di situ, di atas kertas. Potongan crayon bertiduran tenang – tenang. Sementara yang lain, tua muda, mematung di depan tungku layaknya the thinker yang dipahat satu – satu oleh Auguste Rodin.

Hujan kian deras, mengendapkan debu yang ada maupun yang akan datang.

– Jogja, pada Oktober 2010

Agung Poku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s