Bapak Notna dan gerobak sapi

Pierre Renoir-Girl in the Garden, Montmartre-1864(famousartistsgallery.com)

Pierre Renoir-Girl in the Garden, Montmartre-1864(famousartistsgallery.com)

Dari kejauhan sudah terdengar bunyi yang membuat gigiku ngilu, setiap sore. Suara roda gerobak melindas kerikil di jalan kampung. Krik! krik! Gigiku tambah ngilu. Ku lari keluar rumah, mendapati suara itu. Seperti biasanya, bapak Notna, tersenyum memperlihatkan giginya yang kuning itu. Menyapa :

“Hei gadis cantik. Sore yang indah. Tentu kau sudah mandi bukan? Ah, kau semakin cantik saja, Nak” sapa bapak Notna. Dua tangannya yang kecil itu menarik tali kekang, seketika itu, dua ekor sapi penarik gerobak berhenti. Mendengus, menggoyang-goyangkan ekor, mengibas nyamuk yang hinggap di pantat. Bapak Notna masih duduk di atas gerobak. Dia melirik ke belakang, memeriksa bibit-bibit kakao yang berjajar rapi.

“Berapa banyak bibit kakao yang kau bawa, bapak Notna?” tanyaku sambil berjalan ke belakang gerobak. Melihat sederet hijau yang dimuat bapak Notna.

“Hanya tiga ratus. Sebaiknya kau periksa lagi. Tadi ku lihat ada beberapa bibit yang sudah rusak.”

“Nanti saja. Turunlah dulu, sudah ku buatkan kopi panas untukmu, bapak Notna” ku ulurkan tangan kananku.

“Terima kasih. Tapi tidak perlu, aku masih kuat. Lagipula tanganmu akan kotor dan bau. Coba lihat tanganku ini.” dihadapkannya padaku dua telapak tangan yang berwarna coklat dan kasar.

Kami duduk berhadap-hadapan di teras rumah, sore itu. Gerobak sapi diparkir di depan pagar. Dan sekarang si tuan gerobak itu, sibuk membersihkan kumisnya. Ampas kopi tersangkut di sela-sela kumisnya. Aku tertawa geli melihat tingkahnya. Setiap sore, setelah mengantar bibit kakao ke rumahku, bapak Notna selalu ku ajak menikmati kopi buatanku. Tampaknya dia suka.

“Kau hanya punya dua sapi itu, bapak Notna?” tanyaku sambil menunjuk dua ekor sapi yang tampak lelah. Dengan sigap, bapak Notna meneguk kopi dan buru-buru menjawab :

“Benar, hanya dua itu. Dulu ada satu lagi, sapi betina. Tapi mati, kakinya membusuk karena terjepit di jembatan kayu, di ujung kampung. Sekarang hanya tersisa dua ekor sapi jantan” jelas bapak Notna sambil mengangkat dagu ke arah pagar. “Sudah, sebaiknya ku turunkan sekarang bibit-bibit kakao itu. Setelah itu aku pulang, membersihkan tubuhku yang bau ini. Hei, apa kau tahan mencium bau tubuhku, bau sapi” katanya sambil menghabiskan kopi.

“Hah, sejak kapan gadis kampung muntah karena mencium bau sapi?” susulku tertawa keras. Tiba-tiba bapakku muncul di pintu, mungkin terbangun karena mendengar suara tawaku. Bapak berdiri di depan pintu dan melihat kami berdua sebentar. Matanya seperti memberi isyarat. Bapak Notna dengan sigap berdiri, mencondongkan badan, seperti memberi hormat pada bapak. Tiba-tiba saja aku marah, tentu dalam hati.

“Sudah habis kau minum kopi itu?” tanya bapak dengan suara keras.

“Sudah, pak.” jawab bapak Notna dengan hati-hati.

“Kau sudah tahu tugasmu, bukan? Langsung turunkan bibit-bibit itu. Atur dengan rapi di belakang rumah. Ingat! Jangan sampai ada yang rusak.” perintah bapak dengan wibawa yang dibuat-buat. Bapak berlalu pergi. Seperti biasa, setiap sore, bapak mengenakan setelan rapi. Kemeja bersih, celana kain, topi dari anyaman rotan. Tak lupa cangklong dan tongkat kesayangannya, selalu dia bawa. Bapak pergi ke kota, ke tempat babah A Lun, membayar bibit kakao yang sekarang sedang diturunkan bapak Notna dari gerobaknya. Bapak tak pernah menitipkan uang pembelian bibit kakao pada bapak Notna. Bapak tak percaya pada siapa pun, apalagi soal uang. Bapak seorang pengusaha kakao. Dia punya berhektar-hektar tanaman kakao dan puluhan pekerja. Aku tak mau menyebut itu juga milikku, walaupun aku adalah anaknya.

“Oh, hampir lupa.” kata bapak ketika sampai di depan pagar. “Mulai besok, jangan terlalu sore kau bawa bibit-bibit kakao itu ke sini. Ingat! Kau diupah sesuai jam kerjamu, bukan berapa banyak bibit kakao yang kau bawa. Jangan mengambil keuntungan dengan mengulur-ulur waktu, bapak tua.” bapak pergi. Bapak Notna mengangguk mengiyakan.

Di luar hujan deras. Sesekali kilat membentuk retakan panjang di langit. Bapak gelisah. Sedari tadi bolak-balik di teras rumah. Juga sesekali mengumpat.

“Hah! Di mana bapak tua itu? Sudah malam, belum juga datang.” cangklongnya dibiarkan terselip di antara bibirnya. Tongkatnya yang terbuat dari kayu hitam, diputar-putarkan, bercahaya ditimpa lampu.

“Mungkin bapak Notna berteduh, pak. Hujan sangat deras.” kataku mencoba menenangkan. Bapak memandangku tajam.

“Awas kalau sampai bibit-bibit itu rusak. Itu bukan dibeli pakai kertas. Pakai uang! Tahu kau!” sela bapak.

Tiba-tiba bapak Notna muncul di depan pagar. Dengan tergopoh-gopoh, setengah berlari, memanggul karung yang penuh. Dia basah kuyup dan menggigil kedinginan.

“Dari mana saja kau, bapak tua! Sini kau!” teriak bapak.

“Maaf pak.” kata bapak Notna sambil menurunkan karung yang penuh itu ke tanah.

“Apa ini?” tunjuk bapak pada karung yang berisi penuh. “Mana bibit kakao? Kenapa kau tak bawa gerobak?” tanya bapak menghentak-hentak. Bapak Notna mengatur napas sebentar, dan menjawab :

“Satu sapi yang menarik gerobak terjepit kakinya di jembatan kayu, di ujung kampung, pak. Tak bisa menarik gerobak dengan satu sapi. Ku pindahkan bibit-bibit kakao ke dalam karung ini. Masih ada dua karung lagi ku tinggalkan di jembatan” jelas bapak Notna sambil menepuk-nepuk karung yang berisi bibit kakao. Bapak benar-benar marah.

“Aku tak mau tahu. Pokoknya sekarang bawa bibit-bibit kakao itu ke sini.” perintah bapak. Bapak Notna memberi hormat sebentar dan berlari ke luar pagar, pergi mengambil dua karung yang tersisa. Aku melompat mengikuti bapak Notna. Tak peduli hujan. Bapak memanggil-manggil namaku. Tak peduli, aku terus berlari mengikuti bapak Notna. Hujan kian deras, sederas air mataku yang turun.

“Bapak Notna!” panggilku. Dia menoleh ke belakang.

“Mau apa kau, gadis cantik? Masuk kau ke rumah. Mengapa kau mengikutiku?” tanya bapak Notna sambil terus berlari.

“Biar ku pikul satu karung. Yang satunya lagi kau yang pikul.”

Kami terus berlari. Tapi hujan lebih cepat berlari ke bawah []

Jogja, pada November 2010

Agung Poku

One thought on “Bapak Notna dan gerobak sapi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s