Gadis Sirkus

Marc Chagall-Circus Horse-1964 (famousartistsgallery.com)

Marc Chagall-Circus Horse-1964 (famousartistsgallery.com)

Lamia! Lamia! Mereka bersorak memanggil namaku. Hebat! Kau hebat Lamia!

Tubuhku meliuk, meloncat di atas tubuh bebon, kuda putih yang penurut itu. Ujung gaunku tersingkap, setelah melakukan berbagai macam tarian akrobatik. Pahaku yang putih bersih, ikut jadi tontonan tambahan. Mereka semakin keras menyoraki namaku : Lamia! Lamia! Ku akhiri peranku, dengan melakukan salto di udara dan jatuh ke tanah, bertumpu pada satu kaki. Ku tundukkan badan, memberi hormat pada penonton. Tepuk tangan yang sangat keras mengiringiku kembali ke karavan.

Di depan cermin ku pandangi wajahku. Lekuk kecil pada pipiku tampak merah. Dalam penat ku paksakan tersenyum. Ku rapikan rambutku yang bergelombang sebahu. Sekarang ku dapati, betapa merah bibirku. Duh, betapa manis gadis di dalam cermin itu. Memuji diri sendiri, sekiranya dapat menghilangkan penat. Ku lakukan itu setiap hari.

“Lamia, ada yang ingin bertemu denganmu.” seru Pet dari luar karavanku. Pet adalah pemimpin rombongan sirkus kami. Umurnya sekitar lima puluh tahun.

“Siapa?” sahutku

“Lamia, kau hebat sekali!” sebuah suara besar mengagetkanku. Seorang pria berbadan tegap tiba – tiba saja berdiri tepat di belakangku. Dekat sekali, hingga ku rasakan nafasnya mengibas rambutku. Rupanya dia pemilik suara besar itu. Suara yang ku kenali. Tiba – tiba saja penat kembali menyerangku. Lekukan pada pipiku mengerucut seperti roti yang kekurangan ragi. Tidak mekar lagi. Tangannya yang besar, berbulu, memegang bahuku. Ku meronta lemah.

“Sebaiknya anda pergi saja! Aku butuh istirahat!” kataku seraya berbalik menghadap wajahnya. Nafas yang keluar dari dua lubang hidungnya, menyengat, bau tembakau murahan. Pria yang di hadapanku ini, benar – benar keras kepala. Berkali – kali dia datang menyambangiku setelah pertunjukan. Mengajakku pergi bersamanya. Mungkin tak apa, sekedar jalan – jalan, menerima ajakannya menikmati kota yang hanya seminggu ku tinggali. Selebihnya pindah ke kota lain, mengadakan pertunjukan.

“Lamia. Oh Lamia.” dengan kasar dia merangkul tubuhku. Aku meronta hebat. Berusaha melepaskan tangannya yang sangat kuat mendekap tubuhku. Mulutnya yang bau tembakau itu menggerayangi leherku. “Lepaskan brengsek!” makiku. Ku lihat Pet melintas di depan karavan dan menengok sebentar ke dalam. Pet melihat aku sedang meronta dalam dekapan pria brengsek ini. Pet berlalu pergi, seperti biasanya.

“Perempuan murah! Kau minta bayaran berapa ha!” teriak pria itu marah. Dihempaskan tubuhku ke tanah, seperti biasanya. “Berapa hargamu, perempuan sial! Cuih!” meludah.

“Brengsek! Pikirmu aku ini murahan!” aku mundur, menjaga jarak dari tangannya yang besar.

“Dasar gadis sirkus! Tubuhmu juga barang jualan!” celanya sambil pergi.

Seperti biasanya, Pet muncul dengan wajah murung tanpa daya. Memandang iba padaku. Dan juga seperti biasanya dia berkata :

“Pak wali kota sudah pergi, Lamia.” Pet berkata tanpa melihat wajahku. Aku mengangguk.

Pet maju tiga langkah ke arahku, matanya tetap melihat ke bawah.

“Lamia, ini upahmu.” disodorkannya sebuah bungkusan tebal. ” Kau boleh ambil dan kau boleh pergi, ke mana saja kau suka. Aku sudah tak tahan lagi. Aku malu, malu pada kau, Lamia. Aku tak dapat berbuat sesuatu pun. Izin pertunjukan berasal dari dia. Oh sungguh, Lamia. Aku sangat berdosa. Pergilah kau, hidupi dirimu, kau pantas mendapatkan hal yang lebih dari ini. Penghinaan ini. Oh sungguh, Lamia” Pet benar – benar menangis.

“Pet. Sudah ku anggap kau sebagai ayahku sendiri. Tidak! Aku tidak akan meninggalkan kau, kalian, rombongan sirkus ini. Tidak Pet!” sahutku.

“Sudah terlalu sering penghinaan ini pada kau, Lamia”

“Lantas kalau aku pergi, siapa lagi gadis sirkus tercantik di rombongan ini, Pet?” aku tersenyum, menghibur diri, juga Pet.

“Bisa ku cari yang baru” jawab Pet.

“Tidak, Pet. Sudah cukup aku saja yang merasakan ini. Tidak pada yang lain.” Pet memandang mataku, ku beri dia senyum. “Lagi pula, tentu kau tak bakal mendapatkan gadis sirkus selincah dan secantik aku ini.” kami tertawa keras, hingga terdengar oleh penonton yang baru saja pulang []

– Jogja, pada November 2010

Agung Poku



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s