Perumpamaan Perempuan-perempuan Utara

Paul Gauguin - Breton Peasant Women - 1894 (famousartistsgallery.com)

Pelabuhan mendadak ramai, tidak seperti hari-hari biasa. Kapal seberat 6400 ton baru saja mendarat di pelabuhan. Dan kau tahu, seperti biasanya, penumpang kelas bawah berebutan keluar tanpa berbaris.  Sementara penumpang kelas satu, sibuk lenggak-lenggok di depan cermin. Menunggu buruh selesai menginjak-injak kepala, membawa kardus-kardus oleh-oleh, untuk sanak saudara, sepupu, ponakan, tetangga.

Dua puluh kilometer dari pelabuhan, Elis cemas-cemas sendiri. Tak seperti biasanya, jantungnya berdetak tak karuan. Berbanding terbalik dengan tempo What a wonderfull world-nya Louis Armstrong. Gagang belanga penanak nasi yang dipegangnya bergetar ke kiri juga kanan. Sebentar lagi, teman-temannya keluar dari kabin kapal kelas satu. Setelah puas berlenggak-lenggok di depan cermin. “Elis, datang ke pestaku ya.” juga “Elis, pakai gaunmu yang terbaik ya.” atau “Apa kau betah tinggal di kampung ini?”. Pertanyaan dan ajakan itulah yang menggetarkan tangan Elis.

Ya. Teman-teman Elis segera turun dari kabin kelas satu, setelah puas mabuk laut, bergoyang-goyang, antara sisi timur dan tengah laut Banda, lepas pelabuhan di utara sana. Manado. Sekarang mereka tiba di daratan tengah sebelah timur. Dimana Elis sibuk menanak nasi dan menanam kacang tanah. Elis masih dalam keadaan canggung, menunggu teman-temannya.

Menurut kabar yang Elis dengar, di utara sana, gaya hidup adalah sesuatu kebutuhan wajib. Bisa jadi telah berselingkuh dengan kebutuhan batiniah. Bahkan kuku-kuku yang berbentuk biji jagung, bisa disulap menjadi kuku-kuku berbentuk padi.

Amboi! Elis terkagum-kagum dalam cemas yang menggertak-gertak.

Bahkan menurut kabar yang didengar Elis, prinsip perempuan-perempuan di utara sana :

“Biar kalah nasi, asal jangan kalah aksi.” Biarpun rumah hanya bertumpu pada satu tiang, yang penting perhiasan sudah terbeli. Juga jika hari raya Natal tiba. Salju pun bisa diadakan. Pohon-pohon cemara plastik bersaing, mana yang paling tinggi. Mana yang paling bercahaya lampu kelap-kelipnya. Mana yang paling ini, mana yang paling itu. Begitu kabar yang didengar Elis tentang gaya hidup perempuan di utara sana.

Sementara itu, klakson kapal berbunyi tiga kali. Penumpang kelas satu sudah menginjak daratan. Kapal seberat 6400 ton itu menghadapkan moncong ke selatan. Melanjutkan perjalanan ke sana, ke kota paling maju di Indonesia timur. Sesaat Elis berpikir, kota-kota pelabuhan bergerak lebih cepat dalam kemajuan. Baik di utara apalagi selatan. Tapi kenapa kota di tengah ini tak kunjung menyusul saudaranya, selatan dan utara. Dia teringat Spanyol dan VOC yang berdagang juga menjajah utara dan selatan. Sementara di tengah, di tempat dia tinggal, adalah tempat terakhir yang ditaklukan penjajah. Ada sedikit kebanggan di dadanya.

Teman-temannya sudah menempuh dua puluh kilometer. Dan Elis melihat segala pernak-pernik yang melekat pada tubuh mereka. Dari ujung kaki sampai ubun-ubun. Dan dia tahu rumah mereka hampir roboh, juga orang tua mereka yang pontang-panting mengurusi kebun kacang. Amboi! seru Elis. Mereka menumpang di kelas satu KM Tilongkabila.

Dan sekarang Elis semakin tahu, bahwa prinsip perempuan-perempuan di utara sana, tidak hidup dari situ, sesungguhnya.

“Biar kalah nasi, asal jangan kalah aksi.” Justru teman-temannya dari kampunglah yang meramaikan prinsip itu. Elis membatin.

Nasi yang dia tanak sudah matang. Dan dia jelas tidak pergi ke pesta, malam itu []

– Jogja, pada November 2010

Agung Poku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s