Menikah

Pierre Renoir-Landscape with Mimosas-1912 (famousartistsgallery.com)

Pierre Renoir-Landscape with Mimosas-1912 (famousartistsgallery.com)

Waktu itu musim kemarau tiba. Tanah pecah-pecah, meskipun tetap menemukan warnanya yang kecoklatan. Burung-burung belibis meninggalkan sarangnya, alang-alang itu, matahari menyerap lebih cepat embun yang turun setiap malam. Dan seperti biasa, setiap musim kemarau tiba, lihatlah pemuda-pemuda desa, berjalan beriringan menuju hutan. Bermodal kapak dan tentu tenaga yang cukup, membanting pohon dan membelahnya menjadi potongan-potongan kecil. Seperti juga Edek, pemuda berusia tigapuluh tahun, melakukan hal itu setiap hari, setiap musim kemarau. Kayu kering yang didapat, dijual di pasar. Semua penduduk desa menggunakan kayu bakar di dapurnya. Kecuali beberapa rumah tangga, transmigran yang berhasil mengolah kebun karet. Dan Edek adalah pemuda asli desa, bukan satu-satunya yang merasa malu karena para transmigran, ternyata lebih giat berusaha dan mendapatkan hasil yang lebih baik.

Namun untuk saat ini, Edek tak peduli pada soal itu. Meskipun ketika pergi mencari kayu bakar, dia melewati rumah-rumah transmigran, dan terlihat olehnya barang-barang elektronik berjubel dalam rumah-rumah mereka. Tentu dia dan penduduk desa yang lain tak punya itu. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah menikah. Ya, menikah. Bayangkan saja pemuda berusia tigapuluh tahun, belum juga menikah dan memiliki anak. Apalagi hal itu terjadi di desa Edek. Urusan menikah adalah sesuatu hal yang sepertinya menjadi urusan semua orang. Di sana dibicarakan, di sini juga, sasus untuk urusan itu seperti permen yang diinginkan setiap bocah. Dan Edek semakin dipusingkan hal itu. Dua hari yang lalu, ketika dia menjumpai gadis pujaannya di bawah pohon ketapang, si gadis berkata :

“Cepat nikahi aku. Apa kau tak pusingkan diriku, jika tak kau nikahi, bakal menjadi perawan tua. Huh! Sudah pasti jadi buah bibir perempuan-perempuan pencari kutu.”

“Uh! Sabarlah. Aku sedang pusing. Ku cintai kau dari ubun-ubun sampai telapak kaki. Aku ingin segera nikahi kau, kalau perlu malam ini juga.” jawab Edek pada gadisnya. Elle Ina, nama gadis itu. Perempuan berambut panjang, yang sangat pandai membuat ikan kuah mujair.

“Terus kenapa sampai hari ini, tidak juga kau datang ke rumahku, menemui bapak ibuku, dan kau lamar aku?” desak Elle Ina

“Ah kau ini, seperti tidak tahu bagaimana keadaanku. Mana aku punya babi, kerbau,  juga ratusan sarung, untuk ku persembahkan pada seisi rumahmu. Kau lihat aku, hanya punya sebuah kapak. Kalau saja kapak yang ku miliki terbuat dari emas, bisa ku nikahi semua perempuan di desa ini” dan si gadis mencubit pinggang kiri kekasihnya.

Malam itu pertemuan mereka, di bawah sinar bulan, Edek bersandar pada pohon ketapang, dan si gadis tentu bersandar pada dada bidang sang pemilik kapak, kekasih hatinya. Masing-masing hanyut pada mimpi dan harapan-harapan. Edek berpikir keras, tentang buah tangan untuk acara lamaran. Binatang-binatang itu, juga kain sarung ratusan lembar. Itu pun hanya untuk acara lamaran, belum lagi jika hari pernikahan tiba.  Semua penduduk desa mesti disuguhkan makanan yang enak-enak. Juga para tetua adat, mesti disuguhkan arak terbaik. Sementara Elle Ina, sudah jemu dengan keadaannya. Setiap hari di rumah, memasak, memasak dan memasak, hanya itu. Jika hari sudah mulai malam, ibunya memperingatkan :

“Heh, anak gadis tidak boleh duduk-duduk di depan pintu, kalau hari mulai gelap.” dan seperti gadis-gadis di desanya, bertanya, kenapa pula hal itu dilarang. Tak satu pun jawaban yang masuk akal. Karena ini dan itu, seakan mereka adalah mahluk sial, yang menghalangi rejeki masuk ke dalam rumah mereka.

Mereka berdua masih hanyut dalam mimpi, di bawah sinar bulan.

“Kakak.” tiba-tiba Elle Ina memecah suasana

“Ada apa?” tanya Edek memberengut karena merasa diganggu mimpinya

“Bagaimana kalau tiba-tiba datang seorang lelaki ke rumahku. Dan melamar aku, karena dia punya babi, kerbau, juga ratusan kain sarung?”

“Hah? Jadi itu yang kau inginkan?” tanya Edek, dan si gadis menyambut dengan senyum manja

“Tentu tidak. Kalau saja itu terjadi. Bukan harapanku begitu, kakak, tentu lelaki itu kau.” kembali si gadis mencubit pinggang kiri kekasihnya

“Kalau saja benar, akan ku belah kepala laki-laki itu dengan kapakku!” dan tawa mereka bersambut menggerayangi malam, bulan masih terus bersinar.

Dua bulan ke depan, musim kemarau masih akan terus mendiami tanah desa. Meskipun terpecah-pecah, tapi dalam keadaan coklat. Dan Edek masih terus menyandang kapak andalannya, setiap kali melintasi rumah-rumah transmigran. Kepalanya terguncang-guncang, juga hatinya. Menikah! Menikah!

Hah! Kenapa pula binatang harus ikut-ikutan menentukan ikatan dua orang. Juga kain sarung, seisi rumah harus mendapatkannya. Membeli gadis pujaanku, Elle Ina. Batin Eden.

Suatu kali perempuan renta, ibu Eden, bertanya pada anak laki-lakinya :

“Nak. Umurmu sudah tigapuluhlima tahun. Tidakkah kau berpikir untuk melamar seorang gadis?” tanya perempuan renta itu dengan hati-hati dan penuh kasih sayang

“Iya, Ibu. Aku akan memberimu banyak cucu” jawab Edek tersenyum

“Dan kita belum juga punya satu ekor kerbau”

– Jogja, pada November 2010

Agung Poku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s