Pendeta-pendeta dan Petani

Paul Gauguin - Tahitian Landscape - 1893(famousartistsgallery.com)

Paul Gauguin - Tahitian Landscape - 1893(famousartistsgallery.com)

Sungguh beruntung si petani, hidup di desa, dimana tanah berlimpah kesuburan dan mandi embun tiap pagi. Jika pagi dia bangun, hendak bersiap-siap berangkat ke sawah, maka dilihatnya sebuah bentang darat di depannya, di depan rumahnya. Lanskap yang membujur dari timur, ke segala arah, memotong cahaya, hanya menyisakan sedikit untuk vegetasi. Memang dia, si petani itu, hidup seorang diri, tanpa sanak  saudara. Dan ku rasa tak perlu untuk ku ceritakan, bagaimana sanak saudaranya hilang. Ah, itu terlalu tragis.

Tepat di sebelah rumahnya, sebuah gereja kecil berdinding papan. Dan setiap pagi, seorang pria tua, keluar dari dalam gereja dan menyapa si petani. Kristus besertamu! Si petani membalas dengan senyum, tanpa terdengar, si petani mendesis, salam sejahtera!

“Mau ke mana kau?” tanya pria tua itu pada si petani

“Kemana lagi kalau bukan ke sawah, menarik kaleng-kaleng, mengusir burung-burung.” jawabnya datar

“Tidakkah kau berdoa terlebih dahulu?” saran si pria tua

“Pak tua, menjejal tanah dan mengais kehidupan, menurutku lebih dari sebuah doa. Iya benar, pernah ku baca dalam Injil, Ora Et Labora, berdoa dan bekerja.”

“Jadi kau Kristen? Kau bisa ikut kebaktian di sini” tunjuk pak tua pada bangunan di belakangnya

“Ah, sudahlah pak tua, saya harus ke sawah sekarang. Salam sejahtera!” dan si petani berlalu pergi.

Di belakang, pak tua tampak kecewa dan bersungut-sungut. Pak tua itu adalah pendeta, atau lebih tepatnya, mengangkat diri sebagai pendeta. Memang sangat mudah untuk mengangkat diri sebagai pendeta. Setelah dia keluar dari gereja tradisional, atau yang mereka sebut konservatif. Dan sangat mudah untuk membangun sebuah gereja, di kampung itu. Tanah berhektar-hektar luasnya, bahkan belum terjamah. Ada baiknya juga, pikir si petani dalam perjalanan ke sawah. Daripada digunakan oleh konglomerat kaya juga serakah, untuk ditanami ribuan kelapa sawit.

Dulu hanya ada satu gereja di desa itu. Satu-satunya gereja yang memiliki ayam jantan, di atas menaranya. Setiap hari minggu pagi, lonceng berdentang, menggema ke seluruh penjuru desa. Membangunkan orang-orang, jemaat, untuk melaksanakan kebaktian. Tapi sekarang, gereja berjubel dari tugu selamat datang sampai perbatasan desa. Salah satunya adalah gereja yang dipimpin oleh pendeta Viktor.
Suatu kali pendeta Viktor bertandang ke rumah si petani.

“Pak petani, kau bisa ikut saya kebaktian.” ajak pendeta Viktor

“Kebaktian? Dimana?” tanya si petani

“Bukankah kau Kristen? Tentu kebaktian di gereja yang saya pimpin.”

“Ah, rupanya anda seorang pendeta, pak Viktor.” tebak si petani. Dan pendeta Viktor mengangguk bangga.

“Bukankah anda dulu anggota gereja yang satu itu?” yang dimaksud si petani adalah gereja yang sudah lama berdiri. Gereja yang memiliki ayam jantan di menaranya.

“Benar bapak petani. Aku merasa tak cocok, kurang bersemangat. Sekarang gerejaku lebih kharismatik.” terang pendeta Viktor

“Aha, bukankah anda tak bertegur sapa dengan pendeta yang lama, di gereja itu?” selidik si petani. Dan pendeta Viktor hanya diam.

“Di samping rumahmu ini ada juga gereja.” dan si petani mengangguk. “Dibangun oleh saudaraku, dia juga yang menjadi pendeta.” terang pendeta Viktor

“Aha, jadi itu saudara anda, pendeta Viktor? Dia juga mengajakku untuk ikut kebaktian di tempatnya. Dan mengapa anda tak mengunjungi saudara anda, bertegur sapa dengannya?” pendeta Viktor mendengar dengan seksama, kemudian menggeleng. Si petani tersenyum penuh arti.

“Ikutlah denganku, kita kebaktian di gerejaku, kau harus ku baptis.” ajak pendeta Viktor

“Baptis? Bukankah baptisan hanya sekali, pak Pendeta?” si petani mengernyitkan kening

“Baptisan selam, pak petani”

“Ah, maaf pak pendeta, aku tak percaya pada agama. Sudahlah, pak pendeta, pulanglah dan gembalakan umatmu. Ajar mereka untuk bertegur sapa, entah anda dari kharismatik ataupun tradisional.”

“Hah! Lantas apa yang kau percayai? Bagaimana mungkin itu terjadi?” pendeta Viktor sedikit tersinggung

“Yang ku percayai adalah hidup itu sendiri. Mengolah tanah dan melaksanakan hari raya panen bersama-sama dengan penduduk desa.” ungkap si petani, dan dengan sopan mempersilahkan pendeta Viktor untuk pulang.

Pendeta Viktor pulang, membawa sejumlah rasa kecewa. Dari halaman rumahnya, si petani berdiri dan memperhatikan pendeta Viktor dari belakang. Tentu dia kecewa, seperti saudaranya, batin si petani. Kemudian dia menengadah ke atas langit, berkata dengan berbisik, aku bukan domba yang hilang.

– Jogja, pada Desember 2010
Agung Poku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s