Tukang Gerutu

(kfk.kompas.com)

(kfk.kompas.com)

Ini sore yang terkutuk! Gerutunya. Dia mengambil tempat di sisi kanan perahu, duduk di situ penuh hati-hati, berharap tidak kecipratan air danau. Lagipula air danau itu tawar, tidak asin seperti air laut. Tapi dia terus menggerutu. Menyesali, karena sebentar lagi dia bakal tergoyang-goyang di atas perahu, selama setengah jam lebih. Dia pasti mabuk. Dan sial, dia baru sadar bahwa dia tidak bisa berenang. Matanya memandang ke bawah, ke dasar danau. Titik matanya menangkap sesuatu yang berwarna hitam, pekat. Dia memutar badan, dan bertanya pada pemilik perahu :

“Berapa meter dalamnya?”

“Enam ratus meter.” jawab si pemilik perahu dengan sikap tak peduli, karena sedang sibuk menghidupkan mesin perahu. Dan suara bising mengalahkan riak-riak air danau Matano, mesin perahu sudah siap. Dan gerutunya semakin terdengar, bersamaan dengan putaran turbin, semakin jauh menuju seberang.

Lima belas menit kemudian, suasana masih hening. Kemudi perahu dibanting kekiri juga kekanan, nahkoda perahu tampak menikmati pekerjaannya, juga rokok kreteknya yang terus mengepulkan asap sedari dermaga. Berbeda dengan penumpang yang lain, si tukang gerutu itu tampak tidak menikmati perjalanan. Perasaannya masih sama, takut mabuk dan khawatir tidak bisa berenang. Akhirnya dia berjalan ke depan, dimana sekelompok pemuda sedang asyik berbincang. Mereka berdebat soal tambang nikel, yang terletak di seberang, tempat yang sedang mereka tuju. Perdebatan seputar nasib buruh tambang, buruh kebersihan yang diupah dua kali lipat dari upah pegawai negeri sipil. Perdebatan kian hangat. Dia segera menyingkir, khawatir bakal muntah seketika di situ.

Tak jauh dari situ, dilihatnya seorang pemuda, bersandar di sisi perahu. Tampaknya pemuda itu terpesona dalam senja. Dipikir-pikirnya, ah, kenapa aku tak menikmati suasana senja ini? Seperti pemuda itu. Kilatan senja yang mulai jingga, membentuk sebuah bola besar, dan seperti tak mungkin terjadi, bola besar berwarna jingga itu terjatuh di permukaan danau. Seketika itu permukaan danau berwarna jingga. Dan dia mulai terpesona juga. Didekati pemuda itu, tanpa basa-basi, seperti sifat aslinya.

“Hei” tegurnya tanpa ramah-tamah.

“Oh” balas pemuda itu, kaget.

“Kau menikmati senja?” dia bertanya tanpa ragu. Diliriknya wajah lawan bicaranya. Dia mengambil tempat di sampingnya, agar lebih jelas rupa si pemuda itu. Tidak menarik, rambutnya kesana-kemari tak pernah disisir, juga wajahnya murung, dan lagi bootnya terlalu besar dan tinggi, katanya dalam hati.

“Tentu, semua penumpang menikmati senja. Indah bukan. Siapa namamu?” balas pemuda itu tanpa basa-basi, sedikit tegas.

“Selmi. Eh, kau mau kemana? Pulang?”

“Tentu semua penumpang di sini menuju selatan. Tentu juga kau, bukan?”

“Apa kau tahu tentang tambang nikel di seberang sana?” tunjuknya ke arah selatan. “Apa kau bekerja di sana?” tanyanya dengan tak sabar. Pemuda itu cukup sabar menghadapi perempuan di sampingnya. Dengan teratur, dia menjawab :

“Benar, Selmi. Aku bekerja di sana. Sekarang aku menuju ke sana, ke tambang itu. Memutuskan kontrak”

“Hah? Memutuskan kontrak? Tadi baru aku dengar perbincangan pemuda-pemuda di sana. Kata mereka buruh kebersihan saja mendapat upah tinggi. Dan sekarang, katamu, kau hendak memutuskan kontrak” keningnya berkerut-kerut tak percaya.

“Ah. Aku pun buruh kebersihan. Sudah cukup membersihkan pekarangan tambang, lagipula di sana banyak mulut-mulut tak terdidik. Mereka sarjana semua. Ah, sudahlah!”

Empatpuluhlima menit sudah terlewati. Di dermaga, puluhan penjual aneka makanan dan minuman berteriak-teriak layaknya penjual obat. Kaki-kaki merek penuh koreng, busuk. Dia melompat ke atas dermaga. Dilihatnya moncong-moncong yang mengepulkan asap hitam. Ah, itu tambang nikel, serunya dalam hati. Dicari-carinya pemuda tadi, tapi tak didapatinya juga. Bahkan dia belum tahu namanya. Hatinya mulai ragu, juga ijazah sarjana dalam tasnya ikut berguncang-guncang. Dia teringat kata-kata pemuda tadi, mulut-mulut tak terdidik, padahal mereka semua sarjana.

Dia mulai melangkah meninggalkan dermaga. Ah, hebat, aku tak mabuk akhirnya, teriaknya dalam hati. Juga dalam hatinya, dia merasa sial seribu rupa. Bahwa pemuda tadi menggoncang-goncangkan hatinya.

Jogja, pada Desember 2010

Agung Poku

One thought on “Tukang Gerutu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s