Pendeta dan Perang

Paul Gauguin - The Swineherd, Brittany - 1888 (www.famousartistsgallery.com)

Paul Gauguin - The Swineherd, Brittany - 1888 (www.famousartistsgallery.com)

Mars perjuangan sayup-sayup terdengar sampai lembah Bada. Serangkaian awan cerah yang mengelilingi lembah, tak kuasa membendung sorak-sorai pemuda yang bernyanyi :

Bren Mortir berdentuman
Itu tanda mulai p’rang
Aku akan pergi ke medan tempur…
Andai ‘ku akan gugur
di medan laga…
Selimutilah badanku ini
Dengan lambang Sang Merah Putih…

Di utara juga selatan, mars dinyanyikan lebih keras. Herman Nicolas Ventje Sumual maju ke depan, disusul barisan pemuda. Laki dan perempuan ikut antre, menanggalkan pacul, arit, sabit, bajak, sapi. Meninggalkan sawah-sawah juga kebun-kebun. Mereka benar-benar ingin berperang. Merdeka! Pekik mereka. Itu pekikan yang paling keras sejak revolusi, 1945. Dan sekarang, revolusi harus terjadi. Apa guna perundingan, Linggarjati, Renville, Meja Bundar. Persetan! Kita benar-benar lemah. Balas yang lain.

Dan lembah Bada tetap menurunkan angin dingin dari segala penjuru. Kabut-kabut tipis membelai seluruh dataran, berubah bentuk seperti jaring laba-laba, dan sinar matahari terperangkap di situ. Sungai Lairiang tetap mengalir sejauh duaratusempatpuluhlima kilometer. Kerbau dan sapi menjadi bingung, mereka mandi sendiri di sungai. Mereka tak tahu bahwa tuannya sedang menyiapkan revolusi.

Rasanya tak ada pemuda lain, di lembah itu, yang paling membenci semua gerakan, juga mars yang dinyanyikan. Pemuda itu Pniel. Tubuhnya lebih tegap dari Kolonel Alex Kawilarang, salah seorang pemimpin gerakan. Tapi yang jelas, sang kolonel lebih tegas dibandingkan dia, apalagi saat menempeleng Letkol Soeharto di Makassar. Pniel mengutuk dalam-dalam semua gerakan. Bukan karena anti revolusi, juga bukan anti kata merdeka, tapi semua itu menghalangi cita-citanya, menjadi seorang pendeta. Hal yang diimpikannya sejak lama. Dan bagaimana pula jadinya, jika seorang yang bercita-cita menjadi pendeta menggemari perang.

Ketika datang ajakan untuk bergabung di pos-pos militer, Pniel lari dan bersembunyi. Ditambah lagi sebagian kawan-kawannya bergabung dalam gerakan baru. Gerakan tandingan, yang mereka namakan Gerakan Pemuda Sulawesi Tengah. Tambah kacaulah hati Pniel. Diam-diam dia menangis, sebentar lagi kawan-kawannya bakal saling bunuh. Hatinya ditenang-tenangkan, dia tetap ingin menjadi pendeta.

Tentara Permesta (geocities.ws)

Tentara Permesta (geocities.ws)

“Nak, pergilah kau. Bawalah sedikit uang ini” kata ibunya pada suatu malam. Pniel tak sanggup berkata-kata lagi. Dia rengkuh tubuh ibunya, dipeluk erat-erat. Malam itu juga dia pergi meninggalkan lembah. Berkendara kuda hitam milik ibunya, menerobos malam, meninggalkan selatan menuju tengah. Mengejar cita-citanya menjadi pendeta.

Keadaan semakin gawat. Pertempuran kian panas. Negara luar ikut ambil bagian dengan memberi bantuan pada pemberontak. Dugaan yang paling kuat ditujukan pada Amerika, yang membantu pemberontak dengan niat terselubung menggulingkan Soekarno. Dan tentu sekaligus hendak mengubur dalam-dalam komunisme di Nusantara. Tentara yang keluar masuk hutan, berperang, tentu tidak menyadari warisan kolonial, devie et impera. Memecah belah sampai tercerai-berai.

Praktis selama itu juga, Pniel tidak mendengar kabar tentang kawan-kawannya. Dia hanya meyakini, buah-buah dari perang adalah kematian. Hingga tujuh tahun kemudian dia kembali, ke lembah, ke kampung halamannya, sebagai seorang pendeta.

Tak ada yang berubah dari kampungnya. Petani-petani miskin, kaki-kaki telanjang, sapi-sapi kurus. Juga yang tak pernah berubah, sesuatu yang dikaguminya yaitu kabut dan tirai-tirai awan yang menyapu kuburan ibunya. Perempuan yang dikasihinya, perempuan yang mengantar dirinya kembali ke kampung sebagai seorang pendeta.

Tatkala Pniel memimpin ibadah di gereja, dilihatnya sesosok laki-laki tanpa kaki. Dan dia baru ingat, laki-laki itu adalah kawannya, yang dulu mengajaknya bergabung di pos militer. Sekali lagi dia menitikkan air mata.

– Jogja, pada Desember 2010

Agung Poku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s