Pegawai Perkebunan

 

Henri Matisse - Girl Reading - 1905-1906 (famousartistsgallery.com)

Henri Matisse - Girl Reading - 1905-1906 (famousartistsgallery.com)

Moriana girang setengah mati. Dia baru saja dipromosikan menjadi kepala keuangan di kantornya. Dia sama sekali tak menduga bakal menduduki tempat yang baik itu, di kantornya. Belum lama dia bekerja di situ, di kantor perkebunan kelapa sawit, di kampungnya. Bahkan belum cukup dua tahun, dan sekarang dia akan memegang kendali keuangan. Segera dia pulang memberi tahu orang tuanya. Bapaknya menangkap dua ekor bebek dan tiga ekor ayam, dari kandang di belakang rumah.

 

“Kita harus merayakan ini, Moriana. Pergi kau ke rumah keponakan-keponakanmu, ajak mereka makan malam di rumah kita.” seru bapaknya.

“Besok hari minggu, akan aku sumbangkan lima karung gabah untuk gereja. Kita harus mengucap syukur.” seru ibunya juga penuh girang.

Malam itu mereka habiskan dengan penuh sukacita. Doa makan malam pun lebih lama dari biasanya. Mereka benar-benar senang.

Moriana mendapat posisi baru di kantornya. Dulu dia menempati bilik yang sempit dan sesak, di samping gudang. Setiap hari mencatat alat-alat produksi yang masuk dan keluar. Sekarang bilik seorang kepala keuangan jauh berbeda. Sangat luas jika dibandingkan dengan biliknya yang lama. Lagipula sekarang ada mesin pendingin ruangan, dia tidak perlu lagi menghabiskan tenaga untuk menggerutu karena panasnya siang hari. Dan satu lagi, di biliknya sekarang ada lemari buku. Moriana gemar membaca. Waktu makan siang dan istrahat pegawai, dihabiskannya untuk melahap buku-buku Agatha Christie, pengarang yang sangat dikaguminya. Sekarang buku-buku bacaannya akan mendapat tempat yang baik.

Pekerjaan barunya dilakoni dengan sangat baik, seperti sebelum-sebelumnya ketika menjadi kepala gudang. Moriana memang gadis yang lincah dan teliti. Maklum saja jika atasannya mengangkat jabatannya lebih tinggi. Dan bekerja pada bidang keuangan, membutuhkan ketelitian. Tapi ada hal yang membuat Moriana sedih. Sekarang waktu bekerja semakin padat dan tak ada waktu lagi bagi dia untuk keluar kantor, pada jam makan siang. Makan siangnya harus dalam lingkungan kantor saja. Padahal dulu pada jam itu, dia selalu pergi mengunjungi penduduk sekitar, sekedar bercengkrama atau makan siang di rumah penduduk. Meskipun dia tahu dan sangat paham bahwa relasi sosial masyarakat perkebunan, hanyalah sebatas pagar kantor. Kalaupun ada orang luar, paling hanya pesuruh dari kantor pemerintah. Dan sekarang, pesuruh-pesuruh dari kantor pemerintah semakin sering datang ke kantornya, tapi selalu saja menemui atasannya. Dia tidak pernah tahu apa tujuan pesuruh itu datang ke kantornya. Hingga pada suatu kali dia tercengang karena melihat laporan keuangan yang membengkak.

“Pak, pengeluaran pada akhir produksi membengkak. Tidak sedikit, duapuluh juta.” lapor Moriana pada atasannya. Yang mendapat laporan tenang-tenang saja.

“Buat saja laporannya. Tidak perlu panik.” jawab atasannya.

“Tapi duapuluh juta itu tanpa keterangan. Semua proses produksi tidak ada sangkut pautnya dengan uang duapuluh juta itu, pak.” Moriana berkeras.

“Hah! Tulis saja kalau uang itu dibagi-bagikan pada pekerja” perintah atasannya yang tampak kesal.

“Bukankah itu tidak pernah terjadi, pak?” tanya Moriana.

“Dasar keras kepala! Lakukan saja apa yang ku perintahkan!”

Moriana tetaplah gadis yang keras kepala. Dia melakukan semua pekerjaannya dengan sungguh-sungguh. Dan tidak akan pernah ada dana fiktif dalam laporan keuangannya. Prinsip itu yang dipegangnya sejak awal menduduki jabatan. Maka dicegatnya seorang pesuruh dari kantor pemerintah.

“Mau apa kau ke sini?” tanya Moriana saat mencegat pesuruh itu.

“Ketemu dengan atasanmu.” jawabnya congkak.

“Untuk apa?”

“Mengambil uang.”

“Hah? Uang untuk apa? Lagipula kau bukan pegawai di sini.” tanya Moriana heran.

“Kau siapa? Apa jabatanmu di kantor ini?” balas si pesuruh.

“Kepala keuangan yang baru!” tegas Moriana.

“Hah! Pantas saja. Hei, ini selalu terjadi. Agar kau tahu, kalian, kantor kalian ini wajib menyetor uang pada pemerintah!”

“Hei, untuk apa?” Moriana mulai menduga pembengkakan dana duapuluh juta itu.

“Untuk biaya pernikahan anak pejabat pemerintah! Nah sekarang kau mengerti bukan? Tolong menyingkir dari situ!” si pesuruh berlalu pergi, menemui atasannya.

Mendadak kepala Moriana pusing. Dia ingin muntah dan berteriak sekencang-kencangnya. Mulai saat itu, dia tidak pernah kembali lagi ke kantor. Meskipun dia tahu, bapak ibunya bakal sedih.

 

-Jogja, pada Desember 2010

Agung Poku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s