William si Welliam

van Gogh - Landscape with House and Ploughman - 1889 (famousartistsgallery.com)

van Gogh - Landscape with House and Ploughman - 1889 (famousartistsgallery.com)

Namanya William. Nama yang tak biasa dipunyai oleh orang kampung, di kampung itu. Dulu bapaknya berkenalan dengan seorang misionaris Amerika, maka diambilnya nama misionaris itu. Jadilah William. Tapi dialek di kampung itu susah menyebut nama William. Lidah mereka pasti berputar-putar. Termasuk pegawai kantor catatan sipil yang menulis akte kelahiran anaknya. Maka jadilah Welliam, di akte kelahiran juga tertulis demikian. Baiklah, karena itu sah, ku panggil dia dengan nama Welliam.

Welliam, laki-laki berumur limapuluh tahun. Sehari-hari bekerja sebagai buruh harian. Pada umur setengah abad, boleh dibilang dia masih tergolong kuat. Maklum saja, di kampung itu, laki-laki akan dikatakan tua ketika berumur tujuhpuluh tahun. Dia tidak punya harta apa-apa, selain tanah tiga hektar dan istri dan tiga orang anak, semuanya tak bersekolah.

Pemerintah daerah di tempat Welliam tinggal, sedang gencar mendatangkan investor. Dan yang paling marak akhir-akhir ini adalah perkebunan kelapa sawit. Mereka berani membayar tanah penduduk dengan harga tinggi, tapi dengan sistem sewa lahan. Maka tergeraklah hati Welliam untuk menyewakan tanahnya yang tiga hektar itu. Tapi satu hal yang dirasainya mengganggu, dia buta huruf. Dia khawatir akan dobohongi oleh calon penyewa tanah. Tiba-tiba dia teringat adiknya yang bekerja sebagai guru.

“Eri, tolong kau bantu aku. Aku mau menyewakan tanahku untuk ditanami kelapa sawit. Ku dengar-dengar mereka berani bayar mahal.” kata Welliam pada adik perempuannya.

“Membantu untuk urusan apa? Hah! Kau mau menyewakan semua yang tiga hektar itu?” tanya adiknya kaget.

“Semuanya! Kau bantu aku menemui calon penyewa tanah. Kau tahu sendiri, aku tidak bisa membaca. Aku takut ditipu dengan surat-surat.” Welliam membujuk adiknya. Adiknya menggeleng-gelengkan kepala.

“Lantas uang hasil sewa itu, mau kau gunakan untuk apa?” Welliam terdiam. Dia belum memikirkan apa-apa perihal uang sewa itu. Sejurus kemudian dia mendapat jawaban.

“Beli mobil!” seru Welliam girang. Adiknya mengernyitkan kening, kemudian tersenyum seperti mendapatkan akal.

“Mobil untuk apa?”

“Mobil itu akan ku sewakan, mengantarkan penumpang. Kampung mereka kan jauh dari pasar. Mereka pasti mau. Tidak bisa tidak, mereka butuh ke pasar.” seru Welliam. Adiknya tersenyum, senyum yang lebih layak disebut haru.

“Siapa yang akan jadi sopir?” tanya adiknya.

“Akan ku cari.”

“Bukankah di kampung ini, tidak ada satu pun manusia yang bisa menyetir, kakak?” adiknya melemah. Welliam tersentak kemudian diam lagi. Dia baru sadar akan ucapan adiknya. Benar, di kampung itu, tak satu pun manusia yang bisa menyetir. Entah itu motor, apalagi mobil.

“Jadi bagaimana? Ah!” Welliam kecewa. Dipandangi adiknya yang mengangkat tangan sebagai jawaban.

“Ya sudah, nanti ku cari orang yang bisa menyetir. Tapi dimana? ah! Aku pulang sekarang.” lagi-lagi Welliam berseru kecewa. Dia segera pamit, hari sudah petang. Dia teringat janjinya, membersihkan kebun kakao pendeta Thomas. Langkahnya lurus-lurus ketika menapaki jalan pulang. Seperti tentara yang kecewa karena mendapat perintah berperang. Dari ambang pintu, perempuan tadi berdiri memandangi siluet kakaknya yang perlahan ditelan senja. Dalam hati, perempuan itu bersyukur karena keinginan kakaknya, Welliam, hanya satu; membeli mobil. Setidaknya hal itu yang mencegahnya untuk menjual tanah, batin si perempuan. Kemudian tersenyum, senyum yang lebih layak disebut haru.

– Jogja, pada Desember 2010

Agung Poku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s