Pendeta dan Pemburu

Marc Chagall - Flying Carriage - 1913 (famousartistsgallery.com)

Marc Chagall - Flying Carriage - 1913 (famousartistsgallery.com)

Suatu hari di bulan Desember, hujan lebih sering turun ketimbang menggantung pada awan-awan hitam, yang keberatan menyeret dirinya. Apalagi angin lebih suka berlari. Maka jadilah jalanan desa penuh lumpur. Sapi-sapi yang menarik gerobak lebih keras melenguh, tapi bukan mengeluh. Roda gerobak lebih dalam terbenam dalam kubangan lumpur, tapi akhirnya adil juga, si pemilik gerobak lebih lama membiarkan sapi-sapinya merumput.

Pak Tulu menarik tali kekang lebih kencang, seraya mengayunkan cambuk dengan kekuatan penuh menghantam pantat sapi. “Hiyo, hiyo!” serunya tatkala roda gerobaknya terbenam dalam lumpur. “Bergeraklah, tariklah kita bersama kawan.” seru pak Tulu menyemangati sapinya. Senapan angin tua buatan Jerman bersanding di pundaknya. Senapan pemberian sahabatnya, Bastian, dokter asal Jerman. Tidak sia-sia senapan itu diberikan padanya. Pak Tulu seorang pemburu terbaik. Satu peluru satu babi, satu peluru satu rusa, satu peluru satu burung raja udang. Begitu kata pak Tulu dengan bangga. Semua penduduk desa mengenalnya, dan mungkin orang yang baru mengenalnya, akan meragukan bahwa dia seorang pemburu terbaik. Tubuhnya tambun dan kelihatan malas. Rimbunan kumis dan janggut bertemu di pipinya. Tapi ketika dia melompat, hilang semua keraguan itu. Dia lebih sigap dibanding macan.

Seperti biasanya di perempatan jalan, pendeta Thomas menantinya. Pendeta kurus dan berambut keriting itu, menunggu dengan setia di perempatan jalan, di bawah pohon jambu. Melihat gerobak pak Tulu pelan-pelan muncul, pendeta Thomas berseru :

“Damai, bapak. Tuhan memberkatimu!” seraya meloncat ke atas gerobak.

“Hiyo, hiyo!” tali kekang ditarik bersamaan dengan cambuk yang menghantam pantat sapi.

“Kau mau ke desa mana lagi, pendeta?” tanya pak Tulu membuka percakapan.

“Hari ini tak ada desa yang ku kunjungi.” jawab pendeta Thomas seraya menarik napas panjang, menikmati pagi yang dingin tanpa mendung. “Aku berniat mengikuti kau berburu, pak Tulu.” lanjutnya.

“Ah, dengan senang hati. Kita akan makan daging panggang rusa yang terbaik, dan aku akan singgah ke rumah Ineng mengambil sup buncis merah yang ku pesan.” jelas pak Tulu senang. “Kau harus makan sup buncis merah banyak-banyak, pendeta, biar perutmu terisi lemak, seperti aku.” kelakar pak Tulu. Dan tawa mereka cepat dibawa angin. Pak Tulu menghentikan gerobak, bersamaan mereka melompat turun. Sapi penarik gerobak dibiarkan merumput, sementara mereka masuk ke hutan dan mencari jejak rusa. Sesekali pak Tulu memperingati pendeta Thomas agar tak mengeluarkan suara berisik. Pak Tulu mengendap-endap, memeluk senapan angin. Pendeta Thomas mengikuti dari belakang, dengan setia.

Tak satu pun, jejak rusa atau babi yang terlihat. Mungkin angin sudah menghapusnya, kata pak Tulu kecewa. Dan tentu itu tidak masuk akal, pikir pendeta Thomas. Mereka sampai ke daerah rawa dan senapan angin berbunyi lima kali. Lima ekor burung bangau menemui ajal ditembus timah, senapan angin pak Tulu.

“Kita makan besar, malam ini, pendeta.” seru pak Tulu di atas gerobak. Mereka kembali membawa lima ekor bangau, besar-besar.

“Aku makan sup buncis merah buatan Ineng saja, pak Tulu.” balas pendeta Thomas.

“Hah. Aku tak mampu menghabiskan lima ekor bangau sendirian. Perutku sudah seperti kumpulan lemak beku.” sahut pak Tulu tertawa. Hari sudah sore dan di depan sana, lanskap mengurung sinar matahari dari arah barat.

“Apa yang kau ketahui tentang burung bangau?” tanya pendeta tiba-tiba.

“Itu buruan terakhir setelah rusa dan babi hilang jejaknya. Hiyo!” tali kekang dan cambuk bersamaan digerakkan.

“Burung bangau, burung yang setia pada pasangannya, pak Tulu. Sarang yang ditinggalkannya tak bisa dia lupakan, dia pasti kembali.”

“Burung bangau tidak seperti burung lain, dia tidak bersuara, bagaimana dia bisa mengatakan itu pada kau, pendeta?” tawanya pecah lagi, disusul pendeta Thomas.

“Di banyak tempat, bangau sebagai simbol kebahagiaan. Ini bukan berhala. Orang-orang menaruh harapan pada tingkah bangau, mereka bersetia, pada pasangan, sarang, rumahnya. Sekilas mata, tentu pak Tulu tidak dapat membedakan mana yang jantan dan mana yang betina, tapi lihatlah ketika mereka bertemu, berpagut paruh, mereka pasti pasangan. Dan kebahagiaan bukan mitos, tentu begitu pak Tulu. Kebahagiaan disimbolkan bersama harapan yang dibawa terbang.”

“Adakah harapan-harapan itu benar, pendeta?” tanya pak Tulu lemah, berusaha menyembunyikan wajahnya.

“Tentu, tentu benar, pak Tulu. Bayangkan saja harapan itu diterbangkan dua sayap. Tinggi bukan? Dan bagaimana kalau diterbangkan ribuan sayap? Dia bakal melesat, jauh, seperti meteor yang siap menabrak bumi.”

“Kita akan singgah di rumah Ineng, mengambil sup buncis merah, iya pak Tulu?” lanjut pendeta. Wajah yang disembunyikan itu mengangguk pelan, lemah. Wajah pak Tulu semakin terbenam, seperti matahari yang ditelan lanskap. Gerobak berjalan tanpa komando, sapi-sapi seperti mengerti bahwa tuannya sedang mengingat-ingat kebahagiaan bersama istrinya yang sudah dikubur. Tuannya menangis lebih dalam, lebih lemah, layaknya laki-laki tua.

– Jogja, pada Desember 2010

1000burungkertas

1000burungkertas

For Hope & Happiness

Agung Poku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s