Percakapan Tolstoy, Chekhov dan Gorky

1900, Yasnaya Polyana. Leo Tolstoy dan Gorky (gambar:wikipedia)

1900, Yasnaya Polyana. Leo Tolstoy dan Gorky (gambar:wikipedia)

Di luar salju turun dengan tenang. Tak satu pun anak-anak yang bermain bola salju. Sepi. Pohon oak bisu, terkatup, diluluri salju. Burung pegar sesekali bersuara, kedinginan, jauh dalam hutan sana. Di pinggiran kali, sebuah rumah kayu dengan perapian yang sangat sederhana. Atapnya putih tertutup salju. Sebentar lagi tahun berganti. Tiga orang pria dalam rumah nampak tenang-tenang, mengitari meja dalam posisi duduk yang tak teratur.Seorang pria yang paling tua, nampak paling tenang dan berwibawa. Matanya sendu menembus jendela, mungkin menghitung bola-bola salju yang turun. Mereka memanggilnya Tolstoy. Leo Tolstoy. Tiba-tiba memecah kesunyian :

“Gorky, sampai kapan salju berhenti turun?” yang disapa Gorky itu, pria berbadan tegak seperti kumisnya. Dia tak menjawab, pandangannya membentur dinding. Agak sedikit angkuh dan serius.

“Suatu ketika aku bermimpi, semua orang kaya lalu-lalang dan mengoceh dalam bahasa Prancis. Mereka akan membuat mesin peramal cuaca. Atau paling tidak, tukang cukur akan tahu kapan dia mendapat pelanggan pada musim dingin, karena mantel lebih laku saat ini.” tegasnya sedikit bergurau. Pria itu bernama Anton Chekhov. Kaca matanya bulat dan tebal. Tampak lebih rapi dari keduanya.

1900, Yalta. Anton Chekhov dan Gorky (gambar:wikipedia)

1900, Yalta. Anton Chekhov dan Gorky (gambar:wikipedia)

“Itu tentu saja, jika pekerja-pekerja belum mati ditindih kapital!” sambar Gorky cepat. Tolstoy menarik napas panjang. “Masyarakat sudah lama sadar akan hal itu.” sambungnya. “Jika mereka orang kristen, tentu mereka lihat injil. Yesus marah ketika ada yang berdagang di depan bait Allah.”

“Tentu pendeta-pendeta tolol yang membelot. Mau jadi birokrat berjubah dan setiap minggu berkotbah, katanya :

“Jauhkanlah hawa nafsu, bukan kekayaan yang dicari, tapi isilah pundi-pundi hatimu!”

”Sekarang lihat, tanah-tanah di desa dikuasai pendeta, siapa berani melawan?” sambung Gorky tegas. Kemudian berdiri mendekati perapian, memasukan tiga potong kayu bakar. Udara terasa menggelayut manja kedinginan. Di jalan, dua ekor kuda menggigil, dengan sekuat tenaga menarik gerobak petani.

“Kita tentu tidak bisa memaksa masyarakat untuk melawan kapital secara gamblang. Bukan medan juang kita. Syukur-syukur masyarakat peka.” Chekhov menambahi.

“Kau lebih dekat dengan masyarakat, humor satir dan ringan. Kau lihat di luar, mereka mencerca habis-habisan realisme sosialis. Tentu kita tidak berusaha untuk menggiring masyarakat, tapi efek romantisme diperkosa habis-habisan. Kau lihat kelas menengah ke atas, mereka punya napsu yang tak ada habis-habisnya, mereguk cinta dan keindahan dengan begitu rakus. Memaksa petani dan pekerja melupakan sawah, palu, arit. O la la.”

“Omong kosong tentang penulis kelas menengah ke atas berbicara tentang pekerja dan petani.” sergap Tolstoy pelan.

“Dan anda bagian dari kelas itu bukan?” tantang Chekhov pada Tolstoy dengan nada khasnya yang riang.

“Ha ha ha.” serentak mereka tertawa bersama. Sedikit menghangatkan suasana, karena sebentar lagi tungku perapian padam.

– Jogja, pada Desember 2010

Agung Poku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s