Menggantung Kristus

 

Paul Gauguin - The Yellow Christ (Le Christ jaune) - 1889 (famousartistsgallery.com)

Paul Gauguin - The Yellow Christ (Le Christ jaune) - 1889 (famousartistsgallery.com)

Ada dua macam pelayan di dunia ini. Satu yang disebut babu, yang satu lagi silahkan pilih, sekasar-kasarnya omonganmu. Bagaimana jadinya disebut pelayan tapi bukan untuk melayani, begitu tanya Goris, seorang petugas gereja. Pada akhirnya kekuasaanlah yang membedakan. Toh semua orang punya kekuatan, tapi tidak semua memiliki kekuasaan pada ujung telunjuknya. Termasuk pendeta-pendeta yang berdiam pada gereja-gereja. Mereka itu adalah pelayan-pelayan jemaatnya, kata Goris lagi sewaktu membersihkan patung Yesus dari debu. Begitu dia keluar dari pintu gereja, dilihatnya iring-iringan kepala daerah, oto-oto mewah dikawal jeep. Itu juga pelayan, tunjuknya. Kemudian dipandanginya ujung kaki sampai meraba rambutnya, katanya, dan aku juga pelayan.

 

Goris kembali ke kebun, kebun milik gereja. Disambarnya pacul dan mulai membuat bedeng-bedeng untuk ditanami ubi jalar. Sampai matahari tepat di ubun-ubun, Goris terus berurusan dengan pacul. Sekali menghela, dua, tiga meter, bedeng jadi gembur. Goris mengambil posisi di tengah-tengah kebun, tangan kanannya bertongkat pada batang pacul. Dipandanginya pokok enau yang jadi pagar-pagar kebun, katanya dalam hati seperti ditekan-tekan, dari pokok itu jadilah gula dan tuak. Seperti dada ibu yang memberi nutrisi pada anak-anaknya, tumbuh besar, dan ada yang serakah seperti pelayan-pelayan di pikirannya. Durhaka! Dihempaskannya pacul, sekuat-kuatnya pada tanah. Tiba-tiba Goris berseru, tanah punya siapa ini? Dan dengan anehnya dia menyambut seruannya: ini tanah milik pelayan yang diolah oleh pelayan juga.

Setiap sore, tatkala Goris sedang beristirahat di kebun, lewatlah pak Mon, dengan joran yang panjang disandarkan pada bahu kirinya, dan keranjang yang terbuat dari anyaman rotan bergantung di punggungnya. Sekali ini Goris menyapa:

“Pak Mon, mampirlah barang sebentar.”

Pak Mon menghentikan langkahnya, berbalik arah, berjalan ke kebun dan dilepaskan joran serta keranjangnya. Dari dalam keranjang, terdengar suara berisik, ikan-ikan menggelepar menghantam keranjang. Pak Mon tersenyum, menyalakan rokok kretek, serta membelai-belai rambutnya yang keriting. Pak Mon duduk bersila di samping bedeng-bendeng, terus menghisap dan menghembuskan asap rokoknya.

“Kau rajin sekali, Goris. Kemarin sore ku lihat bedeng-bendeng, belum sebanyak ini.”

“Dan setiap sore ku lihat keranjang pak Mon selalu penuh ikan.” balas Goris.

“Ah, begitulah Kristus menyediakan rawa, bagi pemancing seperti aku ini, Goris. Heh, dan tanah bagi kau, mengerjakan bedeng-bedeng ini.” kata pak Mon seperti menghibur.

“Ah, sekiranya tanah ini milikku.” jawab Goris meratap.

“Hah! Tak boleh ada yang memiliki alam secara sendiri-sendiri!” bantah pak Mon

“Ini?” tanya Goris seraya menghentak-hentak tanah yang dipijaknya.

“Omong kosong! Aku tak pernah memiliki rawa, tapi kau lihat kan, tiap sore aku mendapatkan ikan darinya. Tanpa membagi hasilnya pada orang yang merasa memilikinya. Hanya doa pada waktu makan. Itu cukup!”

“Kau merasa kalah?” tanya pak Mon setelah melihat Goris meratap dengan anehnya, mengehentak-hentakan kakinya, seperti pemuda yang kehilangan gairah pada cinta. “Kalau kau merasa kalah, berhentilah jadi pemuda!” sambung pak Mon.

Seekor burung gereja hinggap di atas pohon enau, bernyanyi-nyanyi, melompat-lompat begitu riang. Menyanyikan lagu yang menguliti hati, ada nada sendu dan riang dalam kicauannya.

“Kau lihat burung itu, Goris.” tunjuk pak Mon. Goris mengangguk. “Siapa yang dapat melarang dia menghirup udara, sebanyak-banyaknya? Siapa yang dapat melarang dia berkicau senyaring-nyaringnya?” Goris menggeleng. “Tak ada satu pun, kecuali bocah-bocah yang liar ke sana-kemari menenteng katapelnya. Dan kau dapat menjewer telinga bocah-bocah itu.”

Goris menggaruk-garuk tanah dengan jari kakinya. Pak Mon menyambar joran, menaikkan keranjang di punggungnya.

“Tanyakan pada pendeta, siapakah yang menggantung Kristus.” Pak Mon menepuk bahu Goris, dan berjalan pulang. Dan senja diam-diam menelan matahari. Goris kembali ke dalam gereja, melanjutkan tugas, membersihkan gereja.

Pada sore yang lain, satu hari setelah hari raya Paskah. Pak Mon melintas di kebun gereja, seperti biasanya membawa joran dan keranjang yang penuh, berisi ikan. Di situ ada Goris sedang mengumpulkan ubi jalar, berkarung-karung. Pak Mon berseru sambil terus berjalan:

“Goris! Hei kau pemuda!”

“Hei, pak Mon. Sudah ku tahu siapa yang menggantung Kristus.”

“Siapa?” seru pak Mon.

“Tentara Romawi. Dan sekarang gantian aku yang menggantung Kristus!” teriak Goris, karena pak Mon semakin jauh tertutupi ilalang. Dari kejauhan terlihat pak Mon menghentikan langkahnya, dan berseru, bertanya:

“Dimana?”

Goris menepuk-nepuk dadanya, melemparkan senyum, memberi hormat ala prajurit. Pak Mon membalas.

“Hio!!” terdengar suara pak Mon terpecah menembus ilalang. Dan senja berlalu seperti biasanya [ ]

– Jogja, pada Januari 2011

Agung Poku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s