Nenek Inenan penggembala babi

Paul Gauguin - The Gate (The Swineherd) - 1889 (famousartistsgallery.com)

Paul Gauguin - The Gate (The Swineherd) - 1889 (famousartistsgallery.com)

Ada seorang perempuan tua yang tinggal di ujung kampung, di antara bukit-bukit kol, di Lore Utara. Orang-orang memanggilnya Nenek Inenan. Punggungnya yang bungkuk, selalu ditutupi sarung yang sama. Nenek Inenan marah kalau orang-orang memberinya saran agar menggunakan tongkat. Katanya :

“Buat apa tongkat? Hah!”

Rumahnya terbuat dari bambu-bambu bulat, sangat kokoh. Tapi jika musim hujan tiba, banyak air hujan yang terperangkap dalam bambu-bambu, tiang rumahnya itu. Dan jentik-jentik nyamuk berkembang biak di situ. Akibatnya, cucunya yang seorang mati menderita malaria. Nenek Inenan bersikeras tidak mau membawa cucunya untuk diobati mantri. Dia hendak mengobati cucunya sendiri, dengan sepucuk daun sereh yang diberi mantra. Tapi usahanya tidak membuahkan hasil yang baik, cucunya mati dengan mata terbuka. Orang-orang kampung bilang, itu akibat mantra nenek Inenan yang berlebihan, cucunya tidak sanggup menerima, dan akhirnya mati.

Di belakang rumah nenek Inenan, tiga buah bukit menjulang dari arah yang berdeda-beda, dan membentuk sebuah lanskap yang ditumbuhi rumput, sangat hijau dan segar. Pada sisi yang lain, di belakang tiga bukit itu, serombongan kol dan sawi hidup berdampingan. Sapi-sapi yang merumput dekat situ, sama sekali tidak merusak tanaman-tanaman, mungkin dipikirnya sudah cukup rumput yang hijau nan segar. Pada lanskap itulah, nenek Inenan memelihara tiga ekor babi. Satu ekor berwarna putih, sisanya berwarna hitam. Babi-babi itu tidak dikurung dalam kandang, bebas berkeliaran di situ. Dan kata orang-orang kampung lagi, pada tubuh babi yang berwarna putih itulah, ilmu sihir nenek Inenan tersimpan.

Semua penduduk di kampung itu tahu, bahwa setiap malam, nenek Inenan hinggap di atas jendela, di rumah-rumah penduduk, kemudian mengeluarkan bunyi:

“Hok! hok! hok!” selalu mengeluarkan bunyi yang sendu. Tiga kali berturut-turut, berhenti lagi, lalu berbunyi lagi, sampai yang punya rumah menegurnya. Kadang yang punya rumah mengumpat marah:

“Hei! Pergi kau, jangan ganggu kami!” dan nenek Inenan pergi.

Ada juga yang berkata:

“Datanglah besok pagi, nenek Inenan.” dan benar, besok paginya nenek Inenan datang dengan terbungkuk-bungkuk. Si empunya rumah memberinya garam dan gula.

Tak ada yang tahu pasti, bagaimana bisa nenek Inenan hinggap pada jendela-jendela rumah penduduk kampung, bahkan kadang di atap rumah, sedangkan untuk berjalan saja nenek Inenan payah setengah mati. Desas-desus akan ilmu sihir nenek Inenan, menjadi ramai di kampung itu. Ditambah lagi, banyak keluhan penduduk kampung, katanya ternak mereka banyak yang hilang. Satu-satunya yang tertuduh, tak lain, nenek Inenan.

Beberapa penduduk kampung berembuk, keyakinan mereka kuat, ilmu sihir nenek Inenan tersimpan dalam tubuh babinya yang berwarna putih. Maka disusunlah rencana, tombak, parang disiapkan. Mereka akan membunuh babi putih itu. Malam itu juga, mereka menuju rumah nenek Inenan. Nenek Inenan sedang tidur dan tak mendengar suara beberapa orang, yang berbisik-bisik di belakang rumahnya.

“Itu babi putih.” tunjuk salah seorang, seraya menghunus parang. Orang yang lain bersiaga menggenggam tombak. Beberapa saat kemudian, terdengar suara babi menjerit kesakitan. Tepat di perut babi itu, dua mata tombak tertancap, sedang yang lain menyerbu dengan parang. Dari dalam rumah, terdengar suara menjerit. Orang-orang itu masuk ke dalam rumah, dan mereka mendapati nenek Inenan tergolek tak berdaya, menelungkup di lantai. Perut nenek Inenan bocor, dan punggunya tersayat-sayat, mengeluarkan darah kental.

Hari berikutnya, setelah kejadian malam itu, penduduk kampung ramai-ramai mengubur nenek Inenan di belakang rumahnya, tanpa satu pun yang mengeluh sedih. Selepas penguburan nenek Inenan, tak ada lagi suara-suara di jendela atau di atap rumah-rumah penduduk, pada malam hari. Tapi yang terus berlangsung adalah pencurian ternak.

– Jogja, pada Januari 2011

Agung Poku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s