Juragan Darbe

Maurice de Vlaminck - The Gardener - 1904 (famousartistsgallery.com)

Maurice de Vlaminck - The Gardener - 1904 (famousartistsgallery.com)

Semua orang di kampung itu tahu siapa Darbe. Seorang pria tua yang jarang tersenyum, sangat angkuh. Kalau tuan ingin melihat dia tersenyum, sapalah dia begini:

“Halo juragan Darbe, apa kabarmu?”

Tuan akan melihat deretan giginya yang kecil-kecil, kecoklatan, dimakan tembakau. Cukup sekali saja tuan menyapa dia, selebihnya dia akan memberengut.

Pasti dipikirnya tuan hendak menjilat, meski tuan tak berniat melakukan hal hina itu.

“Orang-orang ini pasti menyangka akan ku beri pekerjaan, jika mereka bermanis-manis di hadapanku.” mungkin kalimat ini yang diucapkan Darbe, dalam hatinya, jika tuan menyapanya semanis mungkin.

Darbe punya segala kekayaan, untuk ukuran di kampung itu. Tanah pertanian dia punya, peternakan dia punya lima kandang ayam, tiga kandang babi, tiga kandang sapi, juga usaha angkutan umum satu-satunya di kampung itu. Pada umurnya yang tujuhpuluh tahun itu, hari-harinya dihabiskan berkeliling mengawasi pekerja di sawah, di peternakan, di agen angkutan umum. Tujuh hari yang lalu, dua bus miliknya masuk jurang di jalan provinsi. Bukan main berangnya Darbe. Tapi pada hal lain, Darbe cukup bersenang hati, karena tidak ada korban dalam kecelakaan bus itu, sehingga Darbe tidak perlu mengeluarkan sepeser pun untuk menyantuni korban.

Penduduk kampung tahu pasti, mengapa Darbe punya kekayaan berlimpah. Dia punya garis keturunan kerajaan, dan semua tanah yang dimilikinya adalah tanah warisan kerajaan. Dan hal inilah yang membuat penduduk kampung bermimpi-mimpi, pada tiap malamnya, darah bangsawan mengalir dalam diri mereka. Semua usaha milik Darbe dikerjakan oleh saudara-saudaranya sendiri. Pertanian diolah oleh sepupunya. Peternakan dikerjakan oleh keponakanannya. Sementara usaha angkutan dikepalai adik kandungnya.

Di peternakan Darbe, tak satu pun ternak yang kurus,semuanya gemuk-gemuk. Bahkan babi-babi di kandang sudah tak mampu berdiri, akibat makanan yang berlimpah. Berkarung-karung dedak bertumpuk-tumpuk di peternakan.

Suatu siang, tatkala pekerja di peternakan sedang beristirahat, datanglah Darbe, terbungkuk-bungkuk. Dia mengelilingi peternakan sebanyak tiga kali. Sebuah ritual yang selalu dilakukannya. Dia menemui para pekerja.

“Berapa karung dedak, untuk pakan ternak hari ini?” tanya Darbe pada pekerja

“Sepuluh karung, juragan.” jawab pekerja serempak

“Mulai sekarang, beri makan seperlunya saja. Musim kemarau saat ini, akan sangat lama. Padi banyak yang mati.” Darbe memberengut dan pergi. Dia masuk ke dalam kandang sapi, dan keluar dengan wajah masam. Begitu juga pada kandang babi dan ayam. Wajahnya tambah masam.

Musim kemarau sudah berlaku selama dua bulan. Tanah terpecah-pecah, hanya memproduksi debu yang setiap hari dihirup pejalan. Pohon-pohon dongi tetap kokoh, namun tak berbuah. Padi-padi rontok sebelum panen. Juragan Darbe semakin sering mengunjungi sawahnya, dan kembali dengan kecewa. Memberengut setiap orang yang dijumpainya di jalan.

Pada bulan ke lima, musim kemarau,sawah Darbe tak dapat bertahan. Padi-padinya kering dan akhirnya sama tinggi dengan tanah. Hanya pematang-pematang yang mengeras, dilalui Darbe, berputar-putar di atasanya, memandangi pekerja-pekerja yang kembali ke rumahnya. Para pekerja meninggalkannya sendirian yang mengutuki musim.

Begitu juga di peternakan. Tak ada dedak, ternak-ternak hanya meringkuk di dalam kandang, mengeluh lapar. Darbe sampai ke situ, tetap memutari peternakan sebanyak tiga kali, kemudian menemui para pekerja.

“Berapa karung dedak, untuk pakan ternak hari ini?” tanya Darbe pada pekerja.

“Tak ada yang tersisa, juragan.” jawab seorang pekerja.

“Berapa ternak yang mati hari ini?”

“Sepuluh, juragan. Sudah kami tanam.”

Kerongkongannya tersekat, Darbe terbatuk-batuk, kemudian pergi meninggalkan para pekerja.

Bulan berikutnya, tiga bus miliknya, masuk ke jurang yang sama, di jalan provinsi. Semua penumpang mati, termasuk adik kandungnya yang jadi supir bus. Kini Darbe lebih sering tersenyum, dan jangan tuan coba menyapanya, dia jadi berang. Dan kalau tuan diam-diam mendekatinya, dia akan membujuk tuan :

“Hei, maukah kau bekerja padaku?” dengan nada memohon.

 

Jogja, pada Februari 2011
Agung Poku

2 thoughts on “Juragan Darbe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s