Pendeta Pniel dan Kuda Hitam

 

Marc Chagall - Green Donkey - 1911 (famousartistsgallery)

Marc Chagall - Green Donkey - 1911 (famousartistsgallery)

Di kampung Wuasa, tidak seorang pun merasa heran, jika melihat seorang laki-laki tua berjalan, melintasi kebun sayur mereka, diiringi seekor kuda berwarna hitam. Dialah pendeta Pniel, pendeta di kampung Wuasa. Tampilan fisiknya sama sekali tak sebanding denga usianya yang sudah kepala tujuh. Tubuhnya tinggi dan ramping, terlihat kuat dan tegas. Hanya saja keriput pada kantung mata dan bawah dagunya, tak dapat menyembunyikan usianya yang sudah tua. Juga rambutnya yang jarang, berwarna kelabu, pada beberapa bagian seperti ditaburi serbuk emas, kelabu keemasan. Tampilan fisiknya menyebabkan pendeta Pniel sangat mudah dikenali di kampung Wuasa.

 

Jika hari masih pagi, ketika pendeta Pniel melintasi kebun sayur penduduk, diiringi seekor kuda hitam, maka orang-orang tahu bahwa dia hendak menuju gereja, atau memimpin ibadah di rumah penduduk. Pada saat itulah, beberapa orang akan mencoba menyembunyikan wajahnya dari pandangan pendeta Pniel. Bukan karena takut atau segan, mereka hanya hendak menghindari percakapan ini, seperti biasanya :

“Setelah makan siang, jangan lupa sempatkan waktu berdoa di gereja.” ajak pendeta pniel.

“Iya, pak pendeta.”

Percakapan itu terus-menerus berulang setiap pagi. Dan jawaban iya yang dilontarkan dari beberapa orang itu, kebanyakan pemuda, hanya sekedar jawaban menyambut ajakan pendeta Pniel. Setelah makan siang, mereka lebih suka mampir ke kebun enau, menghabiskan semangkuk arak, kemudian pulang ke rumah, bernyanyi-nyanyi, sempoyongan dan tidur sampai waktu makan malam tiba.

Hal yang mengherankan penduduk kampung Wuasa adalah kuda hitam yang selalu mengiringi pendeta Pniel, setiap pagi melintasi kebun sayur. Kuda hitam itu tak pernah dia tunggangi, hanya mengiringi saja, berjalan bersama. Dan penduduk kampung tahu pasti, jarak antara rumah pendeta Pniel dengan gereja, tidaklah dekat. Butuh waktu satu jam untuk sampai di gereja yang terletak di pundak bukit lembah Napu. Pendeta Pniel bersikeras membangun gereja di bukit, jauh dari perkampungan. Beberapa orang anggota jemaat pernah menentang :

“Mengapa mesti jauh-jauh gereja dibangun, pak Pendeta? Di dalam kampung juga bisa, lebih dekat.”

“Di sana, di bukit sana, kau punya saudara-saudara yang sama dengan kau. Mereka juga menanam sayur, sama persis dengan apa yang kau lakukan di kebunmu. Tapi kau tahu kan, di bukit sana banyak babi hutan dan hewan liar lain berkeliaran. Coba kau bayangkan, mereka harus turun ke sini, ke kampung ini, sementara kebun sayur mereka tak ada yang mengawasi. Kau tahu kan akibatnya apa?” tanya pendeta Pniel.

“Kebun sayur mereka dirusak babi hutan.” jawab mereka.

“Nah, itu kau tahu jawabannya.”

Hal ini menyebabkan beberapa penduduk membenci pendeta Pniel. Mereka mencari cara, bagaimana merugikan pendeta Pniel. Mereka tahu pasti, pendeta Pniel adalah orang yang begitu dihormati, di kampung itu. Tak mungkin mereka menyakitinya secara fisik. Itu hal yang paling tolol dan sangat menakutkan bagi mereka. Mereka hendak menjerat leher kuda hitam milik pendeta Pniel. Setelah mendapat saat yang tepat, mereka mendapati kuda hitam, yang sedang merumput di padang. Tapi ketika mereka melihat punggung kuda hitam itu, rasa belas kasihan hinggap di hati mereka. Punggung kuda hitam itu penuh luka bekas sayatan. Pada beberapa bagian, di pungggung kuda, luka tampak menganga lebar. Mereka pulang dengan kecewa. Perasaan belas kasihan yang aneh, tapi mereka mendapat cara lain hendak menohok pendeta Pniel.

Saat yang mereka tunggu tiba. Pagi hari, seperti biasa pendeta Pniel melintasi kebun sayur mereka. Dan mereka menyapa :

“Selamat pagi, pak Pendeta.”

“Selamat pagi.”

“Sempat ku lihat punggung kuda itu, pak Pendeta.” tunjuknya pada kuda hitam yang juga berhenti di samping pendeta Pniel. ” Banyak luka sayatan. Mengapa pak Pendeta masih juga membawanya berjalan, bukankah itu menyakitinya.” lanjutnya.

“Ya, benar. Saya dihampiri dua ekor anoa, di dekat bukit sana. Anoa itu tampaknya merasa terganggu. Kedua-duanya mengangkat tanduk dan menyerang. Tapi kuda hitam yang cantik ini memasang badan, kemudian melawan. Rupanya kuda hitam yang cantik ini, masih perkasa dibanding dua anoa tadi. Terbirit-birit anoa itu.” terang pendeta Pniel sambil mengelus-elus kuda kebanggaannya.

“Berarti pak Pendeta mengajak kuda itu, sebagai tameng?” desak salah seorang dari mereka.

“Setiap melintas di bukit sana, terdengar deru langkah puluhan anoa yang lari menjauh. Kau pasti tahu gunanya tameng, tidak pernah untuk menyerang.” jawab pendeta Pniel tenang.

Mereka bermanis-manis mengiringi pendeta Pniel menuju bukit yang dingin, di lembah Napu.

 

– Jogja, pada Februari 2011

Agung Poku

2 thoughts on “Pendeta Pniel dan Kuda Hitam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s