Tiga Petani Buruan

 

Vincent van Gogh - Noon: Rest from Work - 1889 (famousartistsgallery)

Hutan karet jadi tembok. Daun-daunnya tegak, disusur angin dari arah barat. Getah yang jatuh, satu-satu, berirama, siang itu dalam kepungan hutan karet. Rerimbunan hutan karet menjadi ketat, rapat, bagai tembok tiga lapis. Yang paling depan angin, kedua getah, yang ketiga bisu. Serombongan prajurit bersenjata, melompat dari dalam truk, satu-satu, menjejak tanah. Lars mengkilap dilumuri debu. Beberapa prajurit tampak kesal, menyumpah dalam dialek yang berbeda-beda. Ini yang kedua kali, mereka hendak menuju kampung transmigran asal Flores, tapi selalu menemui tembok hutan karet. Tak ada jalan lagi, buntu. Di depan truk mereka hanya rerimbunan pohon karet.

 

Seorang prajurit tampak termangu-mangu di samping sopir. Dia pimpinan prajurit, berpangkat kapten. Kapten Banda lengkapnya. Kemudian melompat keluar, seraya memekik :

“Bangsat! Kita salah informasi atau dibohongi?”

“Kita mungkin dibohongi polisi-polisi itu, Kapten.” jawab seorang prajurit.

Kapten Banda mengetuk-ngetuk larsnya pada tanah. Debu naik memenuhi udara.

“Apa urusan kita mendapatkan informasi dari polisi-polisi itu?” tanya Kapten Banda.

“Polisi-polisi itu sudah pernah ke kampung transmigran itu, Kapten. Kami sudah pernah menanyakan.” jelas prajurit itu.

“Dan karena kalian, kemarin beradu senjata dengan mereka, maka kita dibohongi, begitu prajurit?” pertanyaan Kapten Banda membuat semua prajurit serentak menundukkan kepala.

“Goblok!” hardik Kapten Banda.

Pada hari sebelumnya, terjadi adu senjata antara prajurit-prajurit berseragam loreng dengan polisi-polisi asal Kelapa Dua, markas mereka.

Tiba-tiba seorang petani karet melintas. Berjalan tertatih-tatih, membawa dua ember besar berisi getah karet.

“Hei! Berhenti di situ.” perintah Kapten Banda pada petani karet itu. Si petani karet buru-buru menghentikan langkahnya, dan menaruh ember dengan hati-hati.

“Ada apa, pak?” tanya petani karet itu terengah-engah.

“Tunjukkan dimana kampung transmigran asal Flores.” hentak Kapten Banda.

Si petani karet itu takut. Lututnya gemetar mendengar hardikan Kapten Banda, juga karena dilihatnya serombongan prajurit bersenjata.

“Di sana, pak.” tunjuknya pada rerimbunan karet. Mendadak keningnya berkerut-kerut, keheranan. “Loh, di situ jalannya, pak. Tapi kenapa tidak kelihatan ya.” sambungnya lagi.

“Dimana?” hentak Kapten Banda.

“Di sana, pak.” tunjuknya lagi pada rerimbunan karet. Lututnya kian gemetar dengan hebatnya.

“Itu pohon-pohon karet. Kau tak lihat, di situ tidak ada jalan. Kau tinggal di mana?” tanya Kapten Banda penuh curiga.

“Saya tinggal di kampung transmigran Lombok, pak. Saya tidak tahu apa-apa. Kemarin saya lihat dua truk, berhenti di sini juga. Dengar-dengar, mereka juga mau ke kampung transmigran Flores, tapi tidak menemukan jalan, pak.”

“Itu kami juga!” Kapten Banda kesal. Si petani karet manggut-manggut, ketakutan.

“Dengar-dengar, pak, mereka bisa menghilangkan jalan.” kata si petani karet, mencoba menguasai diri, menghilangkan gemetar pada lututnya. Kapten Banda memandang penuh selidik, memincingkan mata, menyorot seluruh tubuh si petani karet, di depannya. Di belakang Kapten Banda, prajurit-prajurit, anak buahnya, berselonjoran di bawah rerimbunan pohon karet. Kantuk dan kesal menyerang. Sekali hardik keluar dari mulut Kapten Banda, prajurit-prajurit itu kembali siaga, meski bermalas-malasan.

“Omong kosong berita itu. Berarti kau tahu, apa tujuan kami ke kampung itu?” tanya Kapten Banda pada petani di depannya.

“Saya hanya mendengar dari tetangga, katanya bapak-bapak ini mau menangkap tiga orang petani di kampung itu.” si petani sudah menguasai dirinya kembali. Dia menjawab dengan tenang.

“Yang hendak kami tangkap itu pembunuh. Mereka berbahaya, dan sekarang mereka sembunyi di kampung itu. Mereka tak boleh lolos.” desis Kapten Banda.

“Tapi mereka cuma petani miskin, pak. Sama seperti saya. Tidak mungkin mereka melakukan hal itu.” si petani itu kian percaya diri.

“Aha!” seru Kapten Banda. “Berarti kau tahu, siapa yang hendak kami tangkap?” lanjutnya.

“Tahu, pak! Salah seorang dari mereka itu kawanku, pak. Saya sendiri kaget, mereka dituduh melakukan pembantaian. Bagaimana mungkin itu terjadi. Setiap hari kami berpapasan di jalan ini. Saya hendak menyadap karet, sedang kawanku itu hendak menggarap ladangnya di ujung kampung.” si petani kian berani berbicara. Lututnya tak gemetar lagi, kini dagunya diangkat dengan berani, menghadapi serombongan prajurit.

Truk yang mengangkut prajurit-prajurit itu menderu, meninggalkan rerimbunan karet, kembali ke markas. Di dalam truk itu bertambah satu penumpang, si petani karet itu. Di tempat mereka bercakap-cakap tadi, dua ember besar berisi getah karet, diam membisu ditinggal pemiliknya.

Kapten Banda masih kesal. Di markas, semua prajuritnya dihambur-hamburkan sumpah serapah. Mereka tak juga berhasil menemukan kampung transmigran asal Flores itu. Dua hari kemudian, sebuah mobil ambulans menurunkan dua peti mayat. Seribuan orang berbaju hitam mengiringi dua peti tadi ke kuburan, di ujung kampung. Dua petani yang dicari-cari Kapten Banda, hendak dikubur. Sementara satu petani lagi, dikubur di kampung halamannya, Flores. Kapten Banda tambah kesal, karena bukan dia yang menangkap tiga petani, yang dituduh membunuh.

– Jogja, pada Februari 2011

Agung Poku

2 thoughts on “Tiga Petani Buruan

  1. lho, nasib petani lombok yg ditangkap gimana? ga tuntas ceritamu, itu yg bikin kurang menarik, bukannya klimaks sebuah cerpen yg dicapai, tapi kebingungan, hiks..

  2. hahaha. si petani Lombok dilepaskan begitu saja, tak ada informasi apa-apa yang bisa digali. Hanya rasa kesetiakwanan si petani saja.😀
    Klimaks ahh…😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s