Kunang-kunang di Atas Bukit

 

René Magritte - Castle in the Pyrenees - 1961 (gambar: famousartistsgallery)

René Magritte - Castle in the Pyrenees - 1961 (gambar: famousartistsgallery)

 

Pak Pri duduk mematung di atas karang. Dia tak peduli pada angin, yang bisa melemparkan tubuhnya ke sisi tebing, dan membawa tubuh kurusnya ke selatan, ke lautan lepas, samudera Hindia. Karang-karang yang kehitam-hitaman itu bisu, menyerupai raut muka pak Pri yang tajam, keras, namun pasrah. Tak biasanya pak Pri duduk merenung di atas karang, seperti sore ini. Biasanya sore seperti ini, dia sudah berbenah, mengumpulkan alat-alat kerja. Menata kayu bakar dalam satu ikatan, menyelipkan arit, dan memikulnya pulang ke arah barat.

Angin dari selatan terus-menerus menggerakan air laut, membuat gelombang dan menghantam karang. Merusak karang, membuat lubang-lubang tak beraturan. Kerusakan yang indah. Pak Pri menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, membersihkannya dari tanah-tanah yang menggumpal pekat. Tadi jam empat sore, dia baru saja mengubur bapaknya di pinggir pantai. Bapaknya jatuh dari atas karang, yang sekarang sedang dia duduki. Tubuh bapaknya rusak, menghantam karang yang tajam. Dia hanya mendengar erangan terakhir bapaknya. Meskipun dia datang lebih awal untuk menolong, jelas tak berarti apa-apa, karena untuk turun ke bawah perlu waktu lima menit, menyusuri tebing dan menghindari ombak. Dia pasrah. Bapaknya mati pukul empat sore tadi.

Dari kemarin malam, pak Pri mendengar bapaknya terus-menerus menggerutu.

“Kenapa orang-orang itu mau yang enak-enak saja!Huh!”

“Memang kenapa, pak?” tanya pak Pri pada bapaknya.

“Itu orang-orang dari kota, membujuk bapak agar menjual tanah kita. Katanya mau dibuat rumah istrahat. Mau istrahat saja jauh-jauh ke sini. Orang-orang kota itu licik, nak, kemarin semua nelayan di sini dibagi-bagikan kail dan pukat, gratis semua. Pak Marto itu menjual kebun singkongnya. Kau lihat sekarang, dia tak punya rumah, dia dan istrinya tinggal di atas perahu.”

“Yang benar pak?” pak Pri tak yakin.

“Itu kalau kau lihat lampu, malam-malam mengambang di selatan, itu perahu sekaligus rumah pak Marto.” geram bapak. “Nanti kalau rumah istrahat sudah dibangun di tanah pak Marto, jalan menuju ladang kita terhalang, nak. Rumah itu pasti besar sekali, menjorok ke laut. Jalan setapak di bukit ini jadi terhalang semua. Licik!” Itu percakapan terakhir pak Pri dengan bapaknya.

Pak Pri beranjak pulang, hari mulai gelap. Awan-awan jingga membentuk tangga panjang, menembus langit.

“Itu jalan bapak ke surga.” gumam pak Pri.

Dalam perjalanan pulang ke gubuk, pak Pri teringat percakapan dengan bapaknya :

“Nak, setiap tahun kita mengalami kekeringan. Dulu waktu kita hendak menanam singkong, kau ingat satu bulan penuh kita habiskan untuk menyingkirkan karang. Membersihkan rumput-rumput, pandan-pandan, agar singkong tumbuh subur. Sekarang coba kau gali tanah ini, hitam semua. Berkah bukan? Tak ada yang tak mungkin, Nak.”

Dua hari berikutnya, pak Pri menemui pak Marto di atas perahunya.

“Benar kebun singkong bapak sudah dijual?” tanya pak Pri.

“Benar, pak. Dia mau beli dengan harga mahal. Dikasih pukat dan kail juga. Semua nelayan dapat.” terang pak Marto senang. Pak Pri menyumpah dalam hati.

“Mau dibuat apa kebun singkongmu, pak Marto?”

“Katanya nanti mau dibuat rumah istrahat.”

“Bahan-bahannya diangkut lewat mana?” tanya pak Pri mengorek keterangan.

“Diangkut truk dan diturunkan di pinggir pantai.”

“Lewat jalan setapak, karang-karang itu?” desak pak Pri. Pak Marto mengangguk.

Sebulan penuh pak Pri tidak bekerja di ladangnya. Dia bekerja di antara karang-karang, di jalan setapak menuju kebun singkong pak Marto. Pekerjaan yang tak mungkin, dia menyingkirkan karang, menutup jalan setapak yang menuju kebun singkong pak Marto. Sebulan penuh dikerjakan sendiri. Ladangnya tak terurus. Kata-kata bapaknya terngiang terus-menerus :

“Tak ada yang tak mungkin, Nak.” dadanya berguncang hebat, memberontak.

Satu bulan terlewati. Suatu sore, pak Marto dan penduduk menemukan mayat pak Pri terlentang di atas karang. Tebing-tebing curam di ujung jalan kebun singkong pak Marto, memanggilnya menyusul bapaknya. Pekerjaannya rampung, jalan setapak dari pantai menuju kebun singkong pak Marto penuh karang.

Penduduk menguburnya, sore itu juga, pukul empat, tepat di samping kuburan bapaknya. Jika malam tiba dan awan-awan jingga membentuk tangga panjang, menembus langit, puluhan kunang-kunang menari-nari di atas bukit karang itu. Tepat di atas kuburan, di pinggir pantai.

– Jogja, pada Maret 2011

Agung Poku

2 thoughts on “Kunang-kunang di Atas Bukit

  1. iya, Edo. Pak Pri akhirnya jatuh dari atas karang, tempat bapaknya menemui ajal juga.

    Makasih ya, sudah mau mampir.
    Salam!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s