Bukan Tentara Merah

 

Marc Chagall - The Soldier Drinks - 1911-1912 (gambar:famoustartgallery)

Marc Chagall - The Soldier Drinks - 1911-1912 (gambar:famoustartgallery)

Kapten Banda duduk menekur di balik meja kerjanya. Dihempaskan bahunya lebih dalam pada sandaran kursi yang empuk. Dia begitu menginginkan saat-saat seperti ini, sore ini, memandang danau Poso yang tenang, dari balik kaca jendela. Tapi baru lima menit yang lalu, seorang kopral kepala, anak buahnya itu mengacaukan pikirannya. Sebuah laporan dari kopral kepala yang kaku:

 

“Kapten, dua mayat perempuan muda ditemukan di pinggir danau.”

“Kondisinya?” tanya kapten Banda.

“Dua-duanya rusak.  Beberapa luka tembak. Leher hampir putus dan banyak sayatan di sekujur tubuh.”

“Terima kasih, kopral. Silahkan keluar.” Kopral kepala itu memberi hormat, tegak dan kaku.

Sang kapten membuka laci dan mengeluarkan sebungkus rokok. Sebatang dihisap dalam-dalam. Menebar pandangan, menjala riak-riak air danau yang membelai pasir putih. Jantungnya terpompa hebat, darah mengalir cepat mengisi saraf-saraf, dia begitu muak. Sebenarnya sang kapten sangat lapar, dia ingin menyantap nasi panas dan daging kelelawar di warung pinggir danau. Tapi laporan kopral kepala tadi membuat dia ingin muntah.

Sang kapten mendapat tugas penting dari jendralnya. Titah jendralnya, ketika upacara pemberangkatan:

“Kapten, selesaikan dengan cara prajurit sejati!”

Kapten Banda memimpin pasukan. Polisi dipandang tak becus menghentikan konflik berdarah.
Pasukannya menempati pos-pos penting. Kapten Banda cukup senang karena posnya berada di pinggir danau. Sesekali dia lari dari tugas, dia menyewa perahu dan mendayung sampai ke pulau anggrek. Bertiduran di pasir danau, atau menghabiskan sebungkus rokok dan membawa pulang beberapa anggrek berbagai jenis. Seorang prajurit pernah mendapati anggrek di atas meja kaptennya, dia tertawa-tawa seperti mengejek, sang kapten tersinggung dan menampar prajurit itu sampai keluar darah dari telinganya.

Akhir-akhir ini banyak laporan dari prajuritnya. “Ada mayat ditemukan, kapten!” atau “Kapten, pembunuhan misterius masih berlangsung!”. Saat-saat seperti itu, dia lebih suka memandang anggrek di atas meja dan mempermainkannya. Sampai suatu peristiwa terjadi. Banyak senjata yang hilang dari gudang senjata. Sang kapten berang, memaki-maki prajuritnya. Sebuah memo datang dari jendralnya:

“Kapten, tidak usah pedulikan. Laksanakan tugasmu, tetap di pos!”

Panglima pasukan merah dan putih sudah berdamai. Jelas kapten Banda senang. Hal itu dirayakannya dengan berperahu ke pulau anggrek. Mabuk dan tidur di atas pasir danau, memeluk anggrek-anggrek. Menjadi prajurit bukan cita-citanya sejak kecil, dia ingin menjadi guru seperti bapaknya. Tapi peristiwa demi peristiwa membuatnya membulatkan tekad, dia menjadi prajurit, memberi rasa aman untuk masyarakat, tapi tak semudah itu. Dia ingin muntah, kabar pembunuhan datang lagi. Senjata-senjata hilang dari gudang.

Sebuah titah dari jendralnya datang lagi. Dia harus menyambut baik kedatangan pemilik tambang nikel. Dia tidak mengerti dengan titah jendralnya, tapi dia ingin menjadi prajurit yang baik, patuh pada perintah atasan. Maka disambutlah bos tambang nikel itu. Seorang pria gemuk, penuh lemak di sekeliling perut dan lehernya.

“Kapten Banda, terimalah sedikit pemberian ini.” kata pria gemuk itu seraya menunjuk barisan truk yang menuju gudang makanan.

“Apa itu, pak?” tanya kapten Banda penasaran.

“Sedikit konsumsi untuk pasukanmu, kapten.” katanya penuh kebanggan.

Kapten Banda heran. Prajurit-prajuritnya tanpa pamit meninggalkan pos. Dia berang dan membentak prajuritnya:

“Pergi tanpa ijin! Bukan sifat prajurit yang disiplin!” bentak kapten Banda.

Seorang prajurit menyela:

“Ini perintah dari jendral, kapten!”

“Perintah apa hah?”

“Kami bergantian, berjaga di tambang nikel.”

Sebuah memo yang sama datang dari jendralnya:

“Kapten, tidak usah pedulikan. Laksanakan tugasmu, tetap di pos!”

Pikirannya kacau. Pembunuhan terus berlangsung. Mayat-mayat ditemukan tanpa penyelesaian penyidikan. Dia tak punya wewenang. Pelariannya hanya satu, berperahu ke pulau anggrek. Hingga datang kabar yang membuatnya ingin muntah. Selongsong peluru ditemukan di sekitar mayat. Peluru buatan pindad. Dia ingin kembali ke markas dan menanyakan semuanya pada jendral. Dan benar, dia diharuskan kembali ke markas. Sebuah memo dari jendral, demikian:

“Kapten, segera kembali ke markas. Persiapkan mentalmu, prajurit! Kau akan menjadi perwira menengah. Selamat, Mayor!

Sekarang dia benar-benar muntah.

 

– Jogja, pada Maret 2011

Agung Poku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s