Senja dan Kabut di Nglanggeran

rupanya ini supermoon (dok.canting)

Rupanya ini supermoon (dok.canting)

Malam di Pegunungan

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

Chairil Anwar – 1947

Kurang lebih dua minggu setelah menikmati supermoon di puncak Nglanggeran, bersama kawan-kawan Canting, ada keinginan untuk kembali ke sana. Pesona Nglanggeran tak mungkin bisa dilupakan. Seperti candu, terus ingin dinikmati tapi takut akan tandas. Ternyata alam menawarkan pesona lebih dari candu, tak akan tandas, meski berevolusi dan melahirkan keindahan baru. Pendakian kali ini tak bersama Canting, tapi bersama kawan-kawan rantau. Rupanya mereka telah terbius oleh gambar-gambar supermoon sebelumnya.

Malam minggu, tanggal 9 April 2011, kami sepakat untuk menikmati malam di atas bukit Nlanggeran. Dua belas orang siap mendaki. Sebelumnya, saya tak bercerita banyak tentang kondisi medan, rute dan keadaan di puncak. Seperti kata mas Gugun7: “Rasakan sensasinya!”. Bukan hendak menaklukan alam, karena alam tak bisa ditaklukan. Hanya mencoba bersahabat dengan alam dan merasakan keintiman.

Sekitar pukul empat sore kami tiba di pos utama. Pemuda Karang Taruna Nglanggeran menyambut kami dengan ramah. Kami sempat ngobrol dengan salah seorang pemuda karang taruna Nlanggeran. Dia bercerita bahwa semua pemuda di kampung Nlanggeran, aktif dalam karang taruna. Mereka bahu-membahu mempromosikan tempat wisata daerahnya, salah satunya Gunung api purba Nglanggeran yang sebentar lagi akan kami daki. Baik, salah satu contoh yang patut ditiru! Sepuluh menit melepas lelah, makan mie ayam dan mengabiskan sebatang rokok, sudah cukup buat bekal mendaki. Setiap kegiatan baiknya dimulai dengan doa, maka kami berdoa bersama di pos utama. Memohon pada Sang Pencipta, bahwa kami hendak mencoba intim dengan ciptaanNya. Tepoaso’a! yang artinya persatuan, kami teriakan bersama seusai doa. Itu semboyan semangArt kami!

 

Pemuda yang memakai topi terbalik itu salah satu anggota karang taruna Nlanggeran

Pemuda yang memakai topi terbalik itu salah satu anggota karang taruna Nglanggeran

Pendakian menuju pos dua memerlukan waktu sekitar tiga puluh menit. Sebenarnya bisa lebih cepat, hanya saja kondisi rute, pada beberapa titik, memang tidak mudah. Apalagi celah batu yang membentuk lorong panjang, tidak mudah untuk dilewati dengan santai. Tangga kayu di dalam celah batu itu cukup licin, dan beberapa anak tangga sudah lepas. Harus berhati-hati ketika melewati rute ini, jika tidak, tentu akan sangat sakit ketika tergelincir dan terhempas pada bongkahan batu. Butuh sedikit perjuangan dan semangat. Kami melewatinya dengan baik, bahkan salah seorang pendaki yang memiliki bobot tubuh lebih, bisa menapakinya dengan sempurna. Sejenak kami melepas lelah sambil tak berhenti berdecak kagum atas apa yang kami saksikan saat itu.

 

mulai bergerak kawan!

mulai bergerak kawan!

celah batu ini seperti lorong panjang gelap

celah batu ini seperti lorong panjang gelap

Tali ini sangat membantu

Tali ini sangat membantu

keringat itu terhapus decak kagum

keringat itu terhapus decak kagum

Perjalanan yang melelahkan menuju pos dua, akhirnya terbayar lunas. Rona senja di ufuk barat, menampilkan atraksi warna. Barang bawaan kami letakkan begitu saja, karena pesona senja memanggil-manggil kami agar menatapnya. Seketika mendung mengurung ubun-ubun kami. Sempat ada kekhawatiran akan turun hujan. Tapi sekali lagi, kami mencoba memahami alam, bersahabat dengannya. Mendung pun berarak pelan, diam-diam menuju utara, mengurung Merapi yang kembali berstatus waspada. Doa kami titipkan pada mendung untuk Merapi.

Mereka adalah lelaki kurus senja

Mereka adalah lelaki kurus senja

narsis saat senja itu sehat!

narsis saat senja itu sehat!

mereka dibius senja

mereka dibius senja

ada satu bintang yang mengantar matahari ke peraduan

ada satu bintang yang mengantar matahari ke peraduan

Senja kemudian berlalu, tapi mendung kembali lagi. Titik-titik air jatuh pelan-pelan di atas tanah yang kami pijak. Kami berada pada ketinggian 600 mdpl. Hawa malam merasuk, dingin, membuat kami membongkar isi tas. Mencari-cari jaket, kaus tangan, topi dingin, juga kopi.

Menang jadi arang, kalah jadi abu. Tapi di sini mereka bukan beradu, ini titik intim mereka untuk memberi terang dan memberi kehangatan. Api unggun kami nyalakan, sambil menikmati kopi dan lampu-lampu kota Jogja.

Api unggun

Api unggun

Malam itu kami terjaga. Mimpi-mimpi berseliweran di antara bintang-bintang. Beberapa sudah tidur, ada yang main kartu, juga menikmati kopi sambil duduk di atas batu.

menikmati kopi, duduk di atas batu

menikmati kopi, duduk di atas batu

ada yang kedinginan, ada yang kepanasan

ada yang kedinginan, ada yang kepanasan

Pukul setengah enam pagi, kami melanjutkan pendakian menuju puncak. Untuk sampai ke puncak diperlukan waktu sekitar dua puluh menit. Kondisi jalannya relatif mudah dibandingkan rute menuju pos dua. Hanya saja rute menuju puncak, sedikit licin karena embun yang meresap pada tanah. Lihatlah apa yang kami dapatkan di atas puncak. Awalnya kami sedikit kecewa karena mentari pagi tak kelihatan jelas. Kabut tebal menutupi sinarannya. Tapi kami merasakan keindahan lain yang disuguhkan pagi itu. Seperti berada di istana awan. Kabut menemani kami menikmati sinar mentari pagi, yang menembus celah-celahnya.

sinar mentari pagi menyusup di antara kabut

sinar mentari pagi menyusup di antara kabut

kami bersorak ketika sinar itu tampak jelas

kami bersorak ketika sinar itu tampak jelas

lihat rona wajah meraka

lihat rona wajah meraka

Pagi itu juga, kami turun menuju pos utama. Kami sudah memeluk senja dan menikmati sinar di antara kabut. Kami bukan ingin pergi, tapi ingin pulang dan mencari alasan untuk kembali.

sayonara!

sayonara!

blue sky

blue sky

blue sky

blue sky

blue sky

blue sky

Satu hal yang patut diingat ketika mendaki ke puncak Nglanggeran. Jangan buang sampah sembarangan!

Tepoaso’a!

 

7 thoughts on “Senja dan Kabut di Nglanggeran

  1. saya sangat suka dengan tulisan ini. btw, nglanggeran mana ya? saya pernah naik gunung, tapi cuma sekali. meski cuma sekali, saya bisa merasakan nikmatnya, sama seperti membaca postingan ini.
    yuk berteman…
    my twitter : @milianofa
    fb : septisutrisna

  2. Nglanggeran itu di daerah Gunung Kidul, Jogja. Kalau Septi pernah dengar yang namanya Bukit Bintang, nah dari Bukit Bintang itu sekitar 1 jam perjalanan sampai ke Gunung Purba Nglanggeran.
    Terima kasih ya sudah mampir😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s