Aku dan Yaku

Georges Seurat - Horse in a Field - 1882 (famousartistsgallery)

Georges Seurat - Horse in a Field - 1882 (famousartistsgallery)

Pada usia enam puluh lima tahun, sekarang ini, dia begitu membenci angin gunung. Sebabnya sungguh lucu, hanya karena tulangnya yang mulai rapuh, dan karena itu dia gentar pada angin gunung. Jika angin gunung bertiup dan masuk lewat celah-celah pondoknya, dia mulai menggerutu sambil menggertak-gertakkan giginya. Ditariknya selimut rapat-rapat pada tubuhnya, sambil terus berpikir, dimana dia akan menemukan sepotong kain untuk menambal selimutnya yang penuh lubang. Sementara di luar pondoknya, Yaku tak henti-hentinya meringkik. Dan tambah keras dia berpikir, apakah Yaku akan diselimuti juga. Dia teramat sayang pada Yaku. Satu-satunya teman dalam hidupnya. Kemana pun dia pergi, Yaku selalu menemaninya, bahkan untuk menunggangi Yaku, dia tak tega.

Pernah suatu kali terjadi peristiwa yang hampir merenggut nyawanya. Dia mendapat panggilan dari Mama Inen.

“Tolong kau bawa kol-kol ini ke rumahku. Kembali lagi ke sini dan kau ku beri upah” perintah Mama Inen padanya.

Dia bersemangat dan mulai memasukkan kol-kol ke dalam karung.

“Yaku, maafkan aku. Kita harus bekerja hari ini. Tolong bantu aku membawa kol-kol ini.” bisiknya pada Yaku, penuh bujuk. Yaku meringkik dan terus mengibaskan ekornya yang kecoklatan.

“Tolol!” Sumpah Mama Inen padanya. Tapi dia tak peduli. Semua orang di lembah ini, selalu menyumpah demikian padanya, tatkala dia berbicara pada Yaku. Orang-orang pikir dia sinting karena berbicara pada kuda.

Empat karung penuh kol-kol segar sudah berada di atas punggung Yaku. Dia mulai berjalan di sisi kudanya yang coklat itu. Rumah Mama Inen sangat jauh. Hampir sore baru tiba. Sepanjang jalan, tak henti-hentinya dia bernyanyi, bersiul-siul penuh gairah. Sebentar lagi aku mendapat upah, dan kita kenyang lagi, Yaku. Serunya dalam hati. Yaku meringkik dan memperlihatkan giginya yang putih pada tuannya yang hampir tak bergigi.

Hari hampir siang. Dan baru setengah jalan, perutnya mulai sakit. Dia lapar. Tak ada apa pun yang bisa dimakan. Bekal tak ada. Rampung pekerjaan barulah dia bisa makan. Dia teringat Mama Inen, dan perasaaan benci menggenapi dadanya. Dia merasa heran dengan tingkah laku orang-orang di lembah itu. Orang-orang membencinya karena teramat sayang pada Yaku. Dia teringat hinaan Mama Deli.

“Jual saja kudamu itu. Bikin susah hidupmu saja. Makan saja, kau susah setengah mati, eh, mau mengurus kuda lagi.”

Dia teramat marah. Tapi tak dipikirkannya. Dia bisa hidup karena bantuan Yaku. Dia sudah tua dan kesehatannya buruk sekali, tak mampu bekerja berat. Yaku menolongnya, memberinya pekerjaan yang dilakukan bersama-sama. Termasuk yang sedang dikerjakannya saat ini. Mengangkut kol. Kadang-kadang jagung, bawang, kopi, dan semua hasil alam dari lembah itu. Kalau aku mati, siapa yang akan memelihara Yaku, bisiknya dalam hati. Tapi saat ini dia sangat lapar, dan dia tak mau mati kelaparan. Dicarinya cara untuk mengisi perutnya yang kosong.

Di depannya terbentang sebuah kali kecil. Sangat kecil, hanya semeter saja lebarnya. Dalamnya pun hanya semata kaki. Di seberang kali itu, ada sebuah pondok petani. Barangkali di dalam pondok itu ada makanan, pikirnya. Cepat-cepat dia menyeberangi kali dan masuk ke dalam pondok. Tak ada siapa pun di dalam pondok. Dia keluar lagi dan mencari-cari pemilik pondok, kalau saja si pemilik pondok ada di sekitar situ. Tapi tak ada siapa pun.

Dia tambah lapar dan mulai mencari-cari sesuatu di dalam pondok itu. Kalau saja ada yang bisa dimakan. Tapi nihil, bahkan sebutir jagung pun tak ada. Dilihatnya sepotong bambu yang disandarkan di samping tungku. Setengah bambu itu berisi air enau. Dia tergoda untuk meminumnya. Air enau juga dapat mengobati rasa lapar, pikirnya. Diambilnya bambu yang berisi air enau itu, tapi kemudian dia mengurungkan niatnya. Ini pencurian, batinnya. Tapi aku sangat lapar, batinnya yang lain. Dia duduk di dalam pondok untuk beberapa waktu. Tubuhnya lemas, penyakitnya kambuh. Dia mulai menggigil dan keringat dingin mengucur deras. Rasa lapar menggigit. Dia tak mau meminum air kali, karena dia tahu para penebang pohon membuang limbah, lemak dan kotoran mesinnya di situ. Diliriknya Yaku, tenang-tenang di luar pondok. Empat karung kol masih tegak di punggungnya.

Sebentar lagi pemilik pondok pasti datang. Mungkin si pemilik pondok sengaja menyisakan air enau untuk bekal siangnya. Kalau aku meminumnya, dia pasti marah, dan terlebih aku telah mencuri. Hal itu dipikirkannya lekat-lekat, sementara tubuhnya kian menggigil. Baiknya aku menunggu si pemilik pondok datang, aku akan memintanya sedikit. Keinginannya begitu.

Hari sudah sore. Angin bertiup dari arah gunung, menyapu lembah yang gusar kedinginan. Burung-burung kembali ke sarangnya. Sepotong sinar senja terperangkap dalam kabut-kabut yang ditiupkan ke arah lembah. Dari dalam pondok tak ada sedikit pun suara. Angin begitu deras masuk melewati celah-celah pondok dan menyapu segala isinya. Si pemilik pondok tak juga datang. Sepotong bambu yang berisi air enau, masih bersandar pada tempatnya semula. Dan si pemilik kuda, menelungkup di atas tanah. Dalam posisi memeluk lutut, dia kaku tak bergerak sedikit pun. Di luar pondok, Yaku masih setia menunggu tuannya. Jika saja tuannya masih bernapas, mungkin dia akan bangkit dengan sisa-sisa tenanga dan berkata pada kesayangannya itu:

“Pergilah, tinggalkan aku di sini!”

– Jogja, pada April 2011

Agung poku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s