“L’homme est condamné à être libre.”

Kami orang tua ini tidak boleh menguasai jiwa anak. Kami cuma berkewajiban memasukkan paham merdeka dan kejujuran dalam jiwa yang masih bersih itu. Kami tidak boleh mempengaruhi dan menguasai batinnya. Dan cinta yang suci itu hanyalah bisa tumbuh bila batinnya merdeka ….

(Pram: Menggelinding 1)

RECLAIM the STREET RECLAIM the FACTORY RECLAIM the STATE (gambar:galeri rupa lentera di atas bukit)

RECLAIM the STREET RECLAIM the FACTORY RECLAIM the STATE (gambar:galeri rupa lentera di atas bukit)

Tiba-tiba saya teringat Sartre, katanya: “L’homme est condamné à être libre.” Manusia divonis untuk menjadi bebas. Rasa-rasanya tubuh ini mampus seketika. Dan manakala kemerdekaan tak dapat diraih oleh diri yang seorang ini, merinding dan ngilu seluruh tulang. Saya hanya yakin bahwa tuan pun demikian adanya, bahwa kemerdekaan bukan hanya sebatas slogan yang terpampang di awang-awang, diteriakan namun tak jua teraih. Saya dan juga tuan, tentu berpikir bahwa kemerdekaan adalah hak yang mesti melekat dalam diri. Dan bagaimana jika kemerdekaan itu dicabut, seperti sebuah tangan raksasa yang menancapkan jari-jarinya ke dalam jantung, dan meremas-remas hingga goyah, kemudian menariknya dalam hitungan detik. Mampus! Mampuslah kau! Mungkin itu yang akan dikatakan si raksasa itu. Saya rasa, beribu-ribu kebencian akan menggunung seketika dalam dada. Kebencian pada raksasa itu.

Awal abad ke-19, revolusi industri terjadi sekaligus membuka peradaban baru yang lebih maju. Pada titik inilah jabang-jabang bayi raksasa itu lahir. Mereka dibesarkan dengan sangat baik dan menjadi gemuk. Kemudian beranak-pinak dalam didikan yang modern. Mereka mahir dalam hal mencabut kebebasan. Menghantui Asia, Afrika, sejak dulu mereka bernama kolonialisme. Semboyan gold, gospel and glory berubah bentuk menjadi diplomasi. Tenaga manusia telah digantikan mesin-mesin ukuran raksasa. Revolusi industri layaknya sebuah belanga besar, menunggu bahan-bahan, rempah-rempah dan segala macamnya masuk ke dalam hingga siap dimasak. Dan siapa yang memiliki mesin-mesin tersebut, tak lain adalah si raksasa-raksasa itu.

Saya menolak anggapan bahwa raksasa-raksasa itu lahir dari ras tertentu. Apakah Eropa, Amerika, dan bangsa kulit putih lainnya. Apakah tuan percaya bahwa kelaliman, kerakusan, datang dari warisan darah nenek moyang. Saya mempercayai bahwa kerakusan datang dari dalam diri sendiri. Manusia yang seorang itu, yang kerdil itu. Manusia yang ingin menjadi raksasa dan melahap sesamanya. Menumbangkan dan mencekik tengkuk saudaranya, melemparkannya ke hadapan mesin-mesin raksasa, dan memaksanya menghadapi mesin-mesin itu sampai keringat menjadi darah.

Dan di sini, di negeri ini, tuan, saudaraku, kita terlalu sibuk mengurusi raksasa-raksasa yang sedang berpesta di luar sana. Kita mudah membenci dan menghakimi ras tertentu. Persoalan sejarah tak mungkin dilupakan, sejak dulu bangsa kita ditaklukan. Dirampas, dicabut sampai kering tulang-belulang nenek moyang kita di kuburan. Dan karena persoalan itu, kita terlena, takabur, dan tak menyadari raksasa-raksasa baru telah tumbuh dan jutaan jumlahnya di negeri ini. Mereka seperti hantu yang bergentayangan tiap waktu. Mencari dan menaklukan siapa saja yang lengah, hendak dicabut kemerdekaan dari dirinya.

Tanah, air, udara, adalah milik bersama. Tak boleh ada dan dimiliki seorang saja. Dikuasai negara untuk kemakmuran rakyatnya, itu omong kosong terbesar yang pernah ada. Raja yang lalim tak akan pernah membagi hasil. Bagaimana bisa tanah, pangan, listrik, air, tak lagi dikuasai rakyatnya sendiri. Sang raja telah menyerahkannya pada serombongan penjilat yang datang berbaris rapi membawa upeti. Raja hanya kebagian gelar dan kebanggan, sementara penjilat-penjilat itu menjadi raksasa yang mencekik kemerdekaan dari jutaan kepala, rakyat.

Sesungguhnya kita divonis untuk menjadi bebas. Kita memiliki pohonan, angin, dan segala debu di negeri ini, secara bersama. Jika ada kekuatan lain yang hendak menguasainya sendiri, pastilah si raksasa itu, tak lain. Baiknya kita seret dia ke tengah-tengah dan membakarnya dengan kobaran api semangat. Karena tak boleh seseorang saja menguasai segalanya. Kita memilikinya bersama. Bersama!

– Jogja, pada Mei 2011

Agung Poku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s