Pendeta Pniel dan Khotbah Radio

Pierre Renoir - Landscape in Normandy - 1895 (famoustartgallery)

Pierre Renoir - Landscape in Normandy - 1895 (famoustartgallery)

Sejak tahun 1920, dia sudah terkenal. Bukan saja warga kampung di situ yang tahu betul wataknya, tapi kampung di sekitar lembah itu tahu betul siapa dia. Dialah pendeta Pniel. Seantero lembah tahu betul bahwa pendeta Pniel saja yang punya radio. Maka tiap malam, orang-orang kampung berbondong-bondong datang ke rumahnya. Mereka ingin mendengarkan suara dari dalam radio kecil dan tua itu. Pukul tujuh malam, warga kampung mulai bersahut-sahutan di jalanan.

“Ayo, cepat! Kita bakalan ketinggalan berita.”

“Sebentar. Ku matikan pelita dulu.” balas yang lain.

“Cepatlah! Pendeta Pniel nanti tidur lebih awal.” yang lain khawatir.

Mereka berjalan dalam barisan yang teratur, dalam langkah yang cepat dan kecil-kecil. Suara jangkrik menyahut di kiri-kanan. Kuda-kuda sudah pulas dalam kandang, begitu juga sapi yang sesekali mengeluh dalam bahasa yang aneh. Malam gelap, hanya bulan sabit memberi sinar separuh dari dirinya. Dari seberang lembah terdengar langkah ratusan anoa. Memang suasana malam di lembah selalu begitu. Jika tuan berkunjung, sudilah tuan membawa selimut tebal karena hawa dingin akan mengigit-gigit jari-jari tuan.

Rumah pendeta Pniel memang jauh, di ujung kampung, di sisi bukit. Semua tahu bahwa pendeta Pniel sengaja memilih tempat yang sunyi, jauh dari keramaian, karena dia biasa melahap kitab-kitab tebal. Dan kalau sudah begitu, dia pantang diusik. Pernah seorang bertanya pada pendeta Pniel, perihal kitab-kitab tebal itu:

Bapa, saya tak mengerti mengapa bapa begitu rajin membaca kitab-kitab itu?”

“Jimen, dalam kitab ini, tertulis semua perihal hidup. Itu sebabnya saya membacanya untuk kalian juga.” jawab pendeta Pniel pada seorang warga yang bernama jimen.

“Apa di situ tertulis juga tentang cara menanam dan mengurusi kebun?” tanya Jimen lagi.

“Oh, Jimen. Seandainya kau, kalian semua tahu membaca, pasti kalian ku berikan kitab ini. Dalam kitab ini tertulis semua tentang panen dan pestanya, juga cara menanam dan mengurusi ternak. Apalagi tentang perayaan panen, pada sanak saudara dan tetangga, jelas tertulis di sini.”

“Bapa, bagaimana tentang membagi hasil panen?” Jimen semakin menggebu bertanya.

“Bukan membagi, Jimen. Merayakan. Kau bagilah hasil panen pada orang yang bekerja di kebunmu sesuai hasil keringat mereka. Itu perayaan, bukan membagi! Dalam kitab ini tak pernah ada kata membagi, karena membagi berarti semua tumbuhan dan pepohonan, kau yang punya. Salah besar bahwa kau yang punya segala tumbuhan, Jimen. Kalian semua berhak memiliki, tak boleh seorang saja yang menguasai apalagi mempekerjakan orang lain dan satu berlaku seperti tuan. Salah, itu salah besar!” terang pendeta Pniel.

“Kalau begitu apa guna saya memiliki tanah berhektar-hektar, bapa?” tambah yang lain.

“Titipan. Itu titipan, saudaraku. Mungkin saja kau beruntung, kita sebut itu keberuntungan, bahwa kau punya tanah teramat luas dan berekor-ekor ternak. Mustahil kau mengusahakannya sendiri! Kau butuh saudara, tetangga dan siapa saja untuk bekerja, mengusahakannya bersama. Dan itulah perayaan, sekali lagi bukan bagi hasil. Berikan apa yang tercurah dari keringat kawanmu dan ambil bagianmu. Dan rayakanlah bersama. Maka dinamakanlah dia pesta panen.”

“Bapa, bagaimana seandainya perayaan itu tak adil atau paling tidak ada pihak yang merasa rugi?” sambut yang lain lagi.

“Sejak kapan itu berlaku, saudaraku. Bukankah di lembah ini semua hidup dan tumbuh begitu subur. Kau lemparkan benih, diam-diam saja kau menggiring ternak, dan benih itu tumbuh tanpa butuh kau tunggui. Siapa yang merasa tak adil. Dan satu lagi, sampai pecah keringatmu, jangan berpikir untuk merugikan kawanmu! Ingat-ingatlah itu.”

Rombongan warga masih berjalan bersama menuju rumah pendeta Pniel. Sesekali di pepohonan, rombongan kus-kus mengintip dengan mata yang bernyala-nyala. Dan ringkik kuda di kejauhan menggenapi malam. Selalu begitu, setiap malam, rombongan warga tak pernah bosan-bosan mengunjungi rumah pendeta Pniel. Mereka begitu haus ingin mendengar suara dari dalam perangkat usang itu. Radio tua itu. Dan satu hal yang mereka tak tahu dan tak akan pernah tahu, bahwa suara dari dalam radio itu adalah suara pendeta Pniel sendiri. Setiap hari pendeta Pniel merekam suaranya pada pita kaset, ketika membaca halaman per halaman tulisan dalam kitab itu. Dan hal-hal yang mereka dengarkan dari dalam radio itu adalah percakapan mereka sendiri dengan pendeta Pniel.

– Jogja, pada Mei 2011

Agung Poku

2 thoughts on “Pendeta Pniel dan Khotbah Radio

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s