Selasa Pagi

Pagi di atas gedung-gedung yang angkuh. Mencoba menentang kerisauan burung-burung kecil, namun dia tak dapat.

Dia diam dengan warna yang mutlak.

Kembang pagar berbaris di sepanjang tembok pemisah. Kengkuhan memaklumkan perbedaan.

Burung-burung kecil hinggap di puncak gubuk-gubuk kecil. Berkicau seenaknya. Menyanyikan himne kepagian.

Angin yang datang dari arah timur membawa cahaya yang terpotong-potong. Setiap inchinya direnggut dingin yang mengeluh.

Gedung-gedung yang angkuh tetap diam. Jendela belum terbuka. Kaku sendiri pada empat sudut, dua kaca.

Belum riuh, hanya kokok ayam sekali dua kali, mengais dengan jemari yang layu.

Gubuk-gubuk kosong, sepi dan layu. Sejak adzan subuh ditinggalkan pemiliknya. Rejeki diayak, berjatuhan dan berkumpul jadi satu.

Si pemilik gubuk membasuh keringat, peluh menguap dalam daging, ditiup angin dari timur.

Gedung-gedung angkuh dan gubuk-gubuk reot. Mengakali pagi dengan bentuk dindingnya.

Tapi pagi tetaplah pagi, tiada mampu berubah. Entahlah jika keadaan akan dirongrong si empunya gubuk.

Jogja, Mei 2011

Agung Poku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s