Hidup Lenin!

Semua ini karena lukisan. Ah, kenapa bisa begini jadinya? Untung saja aku tak pandai melukis. Kalau saja iya, maka…

Lenin With Villagers by Usikova/Russian Art Gallery

Lenin With Villagers by Usikova/Russian Art Gallery

Dua hari lalu, aku dikirimi sebuah bungkusan besar. Pengirimnya adalah kawana lamaku yang sekarang menetap di Prancis. Ah, kupikir dia sendiri yang akan mengantarkannya. Padahal aku rindu setengah mati padanya. Sudah ku siapkan gaun ungu, juga merapikan rambutku di salon dan membeli gincu warna merah mawar. Aku tahu dia suka warna itu. Sayang, dia tak kembali. Bahkan ku dengar-dengar dia sudah menikah dengan seorang gadis Korsika bernama Marianne. Aku kecewa. Di dalam bungkusan besar itu, disisipkan secarik kertas, bertuliskan:

Moriana, ku dengar sekarang kau punya kafe,

kau memang pandai mengatur segalanya, wajar jika kafemu ramai.

Marianne mengajariku melukis dan lukisan pertamaku ku kirimkan padamu.

Lukisan ini duplikat Usikova, pelukis kesayanganku.

Permintaanku, lukisan ini kau pajang di dinding kafe. Aku akan sangat bangga, Ana.

Salam dariku dan Marianne.

Ku buka bungkusan besar itu, dan nampak sebuah lukisan di atas kanvas. Aku tak tahu apa arti lukisan itu, tapi demi permintaaan kawanku, ku pajang saja di samping meja bar. Setiap melihat lukisan itu, hatiku berguncang hebat. Marianne yang mengajarinya melukis, aku cemburu. Jeritku dalam hati. Ingin ku simpan saja lukisan itu di kamarku, tapi aku lebih sering berada di kafe ketimbang di kamarku. Biar ku pandangi terus dan mengingatnya. Aku menggerutu dan jadi linglung. Sungguh cinta membuatku kelihatan bodoh seperti ini, gerutuku lagi. Tapi segera ku lupakan dengan menyibukkan diri melayani tamu-tamu yang datang.

Kafeku selalu ramai. Kawanku benar, bahwa aku memang pandai mengatur segala-galanya. Pengunjung tertarik dengan caraku mengatur ruangan. Bangku-bangku yang tertata baik meski tak rapi, meja-meja yang bersih, lampu-lampu redup di tiap sudut dan pelayan-pelayan yang ramah juga cakap. Lebih-lebih aroma musik soul yang mengalun lewat pengeras suara, meredupkan suasana meski pengunjung mabuk payah. Mereka pemabuk yang suka suasana redup. Dalam temaram lampu, mereka diam mengunci mulut dan terbuka hanya pada saat menenggak minuman atau bernyanyi kecil mengikuti dentingan piano Ray Charles. Tapi kali ini tidak.

Pintu ayunan terbuka, muncul dua orang berbadan tegap. Mereka orang baru, pikirku. Seorang yang berwajah kotak mengacungkan jari dan berteriak memanggil pelayan. Hatiku mulai gusar. Pengunjung yang lain serentak menoleh ke arah dua orang yang bertingkah penuh permusuhan. Mereka minum dan mulai membuat kegaduhan. Yang seorang mendorong-dorong bangku sehingga menimbulkan jeritan panjang. Yang satu lagi menghentak-hentakkan larsnya di atas lantai. Potongan mereka seperti prajurit.

Tiba-tiba seorang yang berwajah kotak berteriak memanggil pelayan:

“Hei kau! Lukisan apa itu?” tunjuknya pada lukisan di samping meja bar. Pelayan bingung dan memanggilku.

“Ada apa?” tanyaku sopan.

“Kau tahu itu lukisan apa?” tunjuknya lagi pada lukisan pemberian kawanku.

Aku menggeleng.

“Aku tak tahu. Itu lukisan pemberian kawanku dari Prancis.” jawabku berterus terang. Temannya memelototiku penuh curiga.

“Bohong!” serunya seraya berdiri.

Pengunjung yang lain terhenyak, dan ada beberapa yang berusaha membantuku, tapi dua orang berbadan tegap itu menghardik keras-keras seperti anjing hutan yang menyalak.

“Itu lukisan Lenin, tahu kau!” teriaknya di telingaku.

Seperti tak peduli, mereka langsung pergi begitu saja, tanpa membayar. Ku coba tenangkan suasana dan pergi menenangkan diri di balik meja bar. Ku pandangi lagi lukisan pemberian kawanku itu. Aku sungguh-sungguh tak mengerti, bahkan aku tak tahu siapa Lenin. Belum tenang hatiku, tiba-tiba dua orang tadi mendobrak pintu dan masuk menyerbu. Mereka tak hanya berdua, sekarang ini banyak dan berseragam. Keadaan menjadi panik. Semua yang berada di dalam kafe ditangkap. Termasuk aku.

“Kau dan semua yang ada di ruangan ini, ikut ke markas! Kalian harus diperiksa!” teriak seorang yang berwajah kotak tadi.

“Dasar atheis sialan!” umpat temannya.

Dan aku makin tak mengerti. Tiba-tiba saja kepalaku pusing dan tubuhku roboh sebelum berteriak, tanpa sadar kalimat itu keluar berulang-ulang dari mulutku:

“Hidup Lenin! Hidup Lenin! Hidup Lenin!”

-Jogja, pada Mei 2011

Agung Poku

One thought on “Hidup Lenin!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s