Petrus dan Kematian Pendeta Pniel

Salvador Dali - The Persistence of Memory - 1931 (famoust art gallery)

Salvador Dali - The Persistence of Memory - 1931 (famoust art gallery)

Pada hari minggu pagi yang ceria, pendeta Pniel mati di rumahnya. Petrus si tukang ketik gereja yang mendapatinya menelungkup di atas meja. Lonceng gereja dibunyikan dan seluruh jemaat menunggu dengan cemas, bahkan terjadilah percakapan riuh seperti kerumunan di pasar ikan. Apalagi Petrus. Dia mondar-mandir di ruang konsistori, setelah mengetik tiga lembar salinan kotbah yang sebentar lagi akan digaungkan pendeta Pniel di atas mimbar. Petrus tak kuasa menahan kegelisahannya. Pendeta Pniel tak kunjung menampakkan dirinya untuk memimpin ibadah minggu pagi. Petrus berlari sekencang-kencangnya menuju rumah pendeta Pniel. Sepi, memang rumah pendeta Pniel selalu begitu. Hanya satu ekor kuda hitam yang terus meringkik riuh, berusaha melepaskan ikatannya. Diketuk-ketuknya pintu dapur, tapi tak ada jawaban. Dengan menyesal, Petrus akhirnya mendobrak pintu kumuh itu.

Dari dalam kamar pendeta Pniel, terdengar lengkingan Petrus. Menjerit-jerit seperti kesetanan.

“Bapak pendeta meninggal! Bapak pendeta meninggal! Guru meninggal!” jeritan Petrus makin meninggi.

Petrus memang seperti itu. Si tukang ketik gereja itu, juga merangkap tukang kebun gereja, selalu tak dapat menahan perasaan hatinya. Apa saja yang ada dalam hatinya selalu diungkapkan, karena itulah dia begitu dekat dengan pendeta Pniel. Bahkan karena keluguannya, Petrus sering ditipu oleh jemaat. Sering dia membersihkan halaman rumah penduduk di sekitar gereja. Kata orang-orang itu:

“Petrus, halaman rumahku ini tak jauh dari gereja. Hanya beberapa meter saja. Tolong kau bersihkan juga.” dan Petrus tak menolak. Dia memang begitu, pekerja ulet dan rajin.

Tentang kedekatannya dengan pendeta Pniel, sudah terjalin sejak lama. Bahkan sebelum si pendeta mendapat tugas baru di lembah itu. Setiap persoalan yang bergejolak di hatinya, Petrus menemui sang pendeta yang dipanggilnya guru.

“Guru. Istriku minta cerai.” suatu kali terjadi percakapan.

“Hah? yang benar saja kau, Petrus?” pendeta Pniel kaget, tiba-tiba Petrus memberi kabar buruk.

“Benar, guru. Aku tak mungkin berbohong padamu. Lilia mengatakannya tadi malam.”

“Baik. Tolong ceritakan dengan jelas dan tenang.” pendeta Pniel meminta.

Sebenarnya pendeta Pniel kecewa dan sangat menyesal mendengar kabar itu. Lilia, gadis cantik, anak petani kol di kampung Besoa itu dijodohkannya dengan Petrus. Dia sangat mengasihi Petrus, apalagi melihat kesendirian si pemuda lugu yang berumur tigapuluhenam tahun itu. Maka dimintalah Lilia menjadi istrinya tanpa paksaan. Lilia menyanggupinya dengan satu permintaan: akan menceraikan Petrus jika dalam kehidupan rumah tangga banyak ketidakcocokan. Pendeta Pniel merasa bersalah sekaligus mencoba mengerti keluguaan muda-mudi itu.

“Dia mencintai pemuda lain, guru. Anak guru Kembi dari Besoa. Katanya, pemuda itu lebih siap berumah tangga. Baik kedewasaan dan materi. Lagi pula, anak guru Kembi itu sarjana dari kota.” jelas Petrus.

“Petrus, kau tahu bukan, perceraian tak diinginkan, tentu kau baca Injil setiap waktu.” Petrus mengangguk dan terus menatap lantai.

“Berbicaralah pada Lilia. Kalian renungkanlah baik-baik. Dan ingat, Petrus, tanggalkan egomu ketika kau hendak meminta penjelasan dari Lilia. Kau pemuda yang baik. Dan seandainya kalian tak menemukan satu jalan, berpisahlah dengan ikhlas. Kau Petrus, berjalanlah pada keteguhan hatimu. Begitu juga Lilia, mintalah dengan sangat padanya untuk berjalan pada keteguhan hatinya. Mungkin kalian akan bertemu pada suatu jalan yang sama, nantinya.”

Petrus dan Lilia akhirnya bercerai. Dan banyak jemaat yang mengutuk pendeta Pniel karena perceraian itu. Jawab pendeta Pniel:

“Pernah ku temui seorang dokter yang sakit payah dan hampir mati. Siapakah yang akan mengobatinya, selain dokter seperti dirinya. Oh, sungguh cinta, saudaraku, adalah suatu penyakit yang payah dan sedang mencari penawarnya.

Senin pagi, jemaat mengubur pendeta Pniel di suatu tempat yang landai, sesuai permintaan Petrus. Ketika ibadah penguburan selesai, dan jemaat pulang, Petrus tinggal di situ sampai sore. Matanya sembab dan terus memandangi nisan.

-Jogja pada Mei 2011

Agung Poku

2 thoughts on “Petrus dan Kematian Pendeta Pniel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s