Sebuah Catatan Kecil dari Perjalanan Kecil

Rumahku dari unggun-unggun sajak
Kaca jernih dari segala nampak

Kulari dari gedung lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala
Dipagi terbang entah kemana

Rumahku dari unggun-unggun sajak
Disini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
jika menagih yang satu

Chairil Anwar, April 1943

Sebenarnya ini adalah catatan yang belum selesai, karena memang tak akan ada akhir. Jika kau berkata tentang perjalanan, maka kau akan terus melangkah, menderap jejakkan tapak kaki, hingga tulang belakangmu memaksamu menepikan sejenak, menarik nafas dan membuat api unggun. Dan lagi, sebenarnya, ini hanya keisengan belaka. Berusaha lepas dari kesuntukan yang mendesak-desak, seperti angin malam yang masuk ke dalam rumah tanpa jendela. Suaranya lebih cepat menderu ketimbang yang singgah pada kulit.

Seorang kawan berkata: “Bersenang-senanglah. Lakukanlah apa yang kalian anggap kesenangan!”

Dan keisengan yang berarti kesenangan adalah berjalan. Berjalan, keluarlah dan terus berjalan. Alam menyediakan tempat untuk kau menjejakkan kaki. Merapihkan peluh di bawah rerimbunan pepohonan. Mengejar gerumbulan ilalang yang lari ditiup angin. Atau bersahut-sahutan dengan burung bersayap emas.

Wedi Ombo-Timang/Foto: Canting

Wedi Ombo-Timang/Foto: Canting

Apa yang berkesan, kawan, ketika kau tersesat di antara ilalang dan pepohonan. Jalan berujung pada jurang tajam, tebing-tebing yang hitam, kalut diterpa ombak pantai selatan. Yang tak terlupakan ketika, ternyata, kau menemukan mata air yang paling jernih yang pernah ku lihat, di bawahnya, di sisi dalam jurang itu. Tak pernah ada jalan buntu dan habis ujungnya. Aku melihat kau menari di sisi tebing, dan ombak mengikuti lenggak-lenggokmu. Ah, aku pun tertawa keras sekali. Kita sedang bergurau dengan keisengan. Dan kawan ingatkah kau, ketika air dalam botolmu tandas, dan tenggorokanmu mulai panas. Pasti kau tak akan lupa, pada petani-petani di ladang. Petani-petani kurus di tengah ladang, memeras keringat membelah tanah. Dan seperti suara malaikat dari surga: “Mari mampir, minum air di sini.”

Ada yang terasing dan ada yang terperangkap dalam hiruk-pikuk. Dan itulah sebuah kewajaran, bahwa hidup terlalu wajar sebagai wadah yang kaku. Seperti ikan-ikan yang berenang-renang dalam kubus kaca. Melihat dirinya sebagai tawanan, dan pada satu sisi sebagai penyerahan diri. Tiba-tiba aku teringat pada bapak Notna. Si petani yang menghabiskan separuh hidupnya tenggelam dalam lautan alkohol. Orang-orang mengutuknya, begitu juga dengan para pendeta yang berusaha memberinya ayat-ayat pertobatan. Tapi bapak Notna mencibir. Bukankah kemerdekaan itu tanpa batas, kawan. Bahkan para pendeta itu tak bekerja sekeras bapak Notna. Setelah makan, kenyang dan bersendawa, orang lebih suka mengkritik.

Akan ku ulangi dua kali:

Rumahku dari unggun-unggun sajak
Kaca jernih dari segala nampak

Rumahku dari unggun-unggun sajak
Kaca jernih dari segala nampak

Kawan, jika perjalanan ini tak pernah kita lakukan, aku tak akan pernah tahu bahwa sekilo kerang dihargai tigaribu rupiah saja. Dan sekilo rumput laut seharga sepuluhribu rupiah. Kita tahu bersama, kawan, bahwa ketidakadilan di dunia ini seperti pasir pantai yang kita jejaki. Teramat banyak. Dan jika kita belum mampu berlaku sekarang, kabarkanlah, kabarkanlah.

nelayang Gunung Kidul/Foto: Canting

nelayang Gunung Kidul/Foto: Canting

Seperti di bukit sana, di tempat yang gersang. Ketika tangan-tangan yang berkuasa tak menggapai mereka, mengangkat mereka dari kubangan kemiskinan. Kabarkanlah, kabarkanlah, gaungkan sangkakala tanda perang pada segala pembungkaman. Kepicikan dalam rumah gelap. Bahwa di Nusantara, baik di sini atau di sana yang pernah kita jejaki, masih berlaku segala kekotoran atas segala ketidakpedulian.

Kawan, mungkin aku terlalu berlebihan. Kita hanya akan terus melanjutkan perjalanan ini.

Dan aku benar-benar ingin tertawa, ketika aku bersikeras mengikuti si orang Argentina itu, berkata:

“Ma, aku rindu, kau. Tapi tidak rumah!”

senja dan ombak

senja dan ombak

Jogja, Juli 2011

Agung Poku

7 thoughts on “Sebuah Catatan Kecil dari Perjalanan Kecil

  1. Sebentar lagi kita ke sana menjelajah indonesia dan membuat sebuah nama Canting untuk ekspedisi Alam indonesia ( Canting The Explorer ), Siap menjelajah Untuk indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s