Bapak Notna

Rular Motives/sgallery.net

Rular Motives/sgallery.net

Hari ini aku mendengar kabar, bapak Notna meninggal. Kata saudaraku begitu. Sebabnya sungguh lucu, ku kira dia mati karena alkohol yang membakar paru-parunya. Dia meninggal setelah terjatuh dari pohon enau, ketika hendak menyuling saguer. Dulu bapak Notna pernah berkata:

“Suatu kali nanti jika aku mati, hanya alkohol yang berhak membakar diriku. Bukan orang-orang busuk!”

Itu kalimat terakhir yang ku dengar dari mulutnya. Dan kabar terakhir, dia sudah meninggal. Kasihan bapak Notna, batinku. Tak lagi ku dengar nyanyian pemabuk di sore hari, tatkala senja turun, dan dia lewat berkendara gerobak sapi. Dan tentang orang-orang busuk, begini ceritanya.

Suatu kali di kampungku terjadi perkelahian antara pemuda. Sialnya, perkelahian itu terjadi tepat di depan rumah bapak Notna. Dapat ku bayangkan bagaimana perubahan kerut-kerut di wajah singa tua itu. Dilemparkannya sebuah botol kaca. Prang!! Seorang pemuda roboh. Sekali lagi. Prang!! Terdengar jeritan panjang. Bapak Notna keluar rumah, telanjang dada, dibusungkan sedikit. Dia berhenti sejenak, menyulut tembakau dan bertanya dengan tenang:

“Ada apa ribut-ribut di depan rumahku?”

“Sialan! Itu dia si pemabuk tua!” seorang membentak.

Dengan lucunya, perkelahian antar pemuda itu berhenti. Mereka sekarang punya satu lawan, bapak Notna. Seorang di antara kerumunan melemparkan sebuah botol bensin ke atap rumbia. Bapak Notna memaki. Api disulut, dan dalam sekejap kobaran api menjilat atap rumah bapak Notna. Bukan main berangnya si singa tua itu. Dengan satu gerakan, dia menerobos masuk ke dalam rumah, mengambil sebilah parang. Dengan satu lompatan, dia menebas seseorang, tanpa daya korbannya roboh bersimbah darah. Seketika perkelahian yang tak seimbang terjadi. Seseorang melepas peluncur, bersarang di lengan kiri bapak Notna. Dia mengaum keras sekali, bagai induk singa yang meratapi kematian anaknya. Bulan di atas tenang-tenang saja. Api terus berkobar, mulai membakar rangka atap. Lima orang terlihat bergetar di atas tanah, penuh darah di kepala, kaki, perut. Yang empat mati seketika, satu sekarat.

Aku sendiri tak meragukan keberanian si singa tua itu. Kalau kau bertemu dengannya, coba perhatikan dada kirinya yang robek. Dulu waktu Belanda datang merongrong kampungku, kocar-kacir kulit putih itu, bayangkan saja kepala panglima mereka ditebas, setelah sebutir peluru bersarang di dada kiri singa tua itu.

Dan perkelahian satu lawan banyak itu, terus berlangsung. Sekarang tujuh orang terkapar. Lima orang mati, sedang yang lain kocar-kacir, lari tunggang-langgang menghindari tebasan parang bapak Notna. Dengan begitu, selesai sudah peristiwa malam itu. Pagi-pagi sekali, serombongan polisi datang menjemput bapak Notna. Diperlukan tiga orang polisi untuk membekap bapak Notna, padahal dia sendiri tak melakukan perlawanan.

Tanya jawab berlangsung di kantor polisi:

“Lima orang mati karena tebasanmu, bapak. Mengapa?”

“Kau salah. Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau biarkan mereka berkelahi di depan rumahku?” tantang bapak Notna, tanpa ragu sedikit pun.

“Sudahlah, bapak tua, sekarang kau di tanganku!”

“Imbu, ku tahu kau, ku kenal dekat kakekmu. Dulu waktu Belanda menyerang, hanya dia yang lari bersama penakut lainnya. Seperti kau sekarang ini. Persis betul kakekmu.” ditatapnya polisi yang bernama Imbu.

Berbekal cawat, bapak Notna dilemparkan ke dalam sel. Imbu sendiri yang menghantamnya dengan pentungan.

Dua hari sesudah peristiwa itu, perkelahian terjadi lagi, bahkan lebih besar. Ratusan orang berbekal senjata. Parang, tombak, peluncur dan ali-ali menjadi kebutuhan utama setelah nasi. Mobil jenazah bolak-balik mengangkut korban ke kota. Sisa-sisa pemuda yang berkelahi dengan bapak Notna, sekarang lari bersembunyi di hutan. Mereka tak lagi setiap saat mendampingi calon bupati yang mereka bela.  Dan calon-calon bupati meninggalkan arena pertikaian, atau lebih tepat memakai istilah cuci tangan. Lari ke ibu kota membawa sanak saudara dan harta.

Memang ku pikir kematian itu lucu. Sebab-musabab yang aneka ragam seringkali tak masuk akal. Dan satu per satu orang mati, seperti bapak Notna, singa tua itu. Dan kabar tentang polisi yang bernama Imbu, sekarang dia sudah mati ditembus peluncur para pemuda.

 

– Jogja, Agustus 2011

Agung Poku

 

4 thoughts on “Bapak Notna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s