Sup Buncis Untuk Ruduh

Joan Miró - Vegetable Garden with Donkey - 1918 (famoust art gallery)

Joan Miró - Vegetable Garden with Donkey - 1918 (famoust art gallery)

Di sisi gunung Pontoa terdapat sebidang tanah miring. Tanah yang cukup luas dan sangat subur. Sebagian dari tanah itu ditanami vanili, dan sisanya berisi sayuran. Sepasang suami istri mengolahnya dengan ulet, hingga setiap orang yang melihat hasil panen mereka akan merasa rasa iri, terutama mereka yang sama sekali tak mempunyai apa-apa. Petani itu bernama Ruduh dan istrinya Solina. Mereka bekerja sebelum matahari terbit dan berhenti setelah matahari tenggelam di balik gunung Pontoa. Sore hari mereka duduk-duduk sambil membersihkan diri di sebuah sungai yang sangat jernih, dekat kebun sayur. Dan sekali waktu tanpa sengaja aku bertemu Ruduh sedang mencuci badannya di pinggir sungai. Dia melambaikan tangan, melebarkan senyum hingga kumisnya yang lebat menyentuh sisi pipinya yang runcing.

“Mampir, Dik.” serunya.

Dengan perasaan senang, ku hampiri Ruduh. Dia selalu tampak riang seperti biasanya. Keriput di bawah matanya mulai nampak jelas. Begitu juga rambut putih yang semakin tebal menutupi kepalanya. Yang tetap adalah deretan giginya yang kelihatan kuat dan putih, tidak seperti kebanyakan orang yang mengalamai penuaan.

“Apa yang kau bawa di keranjangmu?” tunjuknya pada keranjang di bahuku.

“Sedikit buncis. Paman Mauri menyuruhku mengambilnya sedikit di kebun.” kataku sambil meniru gayanya, duduk dan mencelupkan kaki ke dalam air. Perasaan hangat segera melingkupi, melihat matahari yang pelan-pelan menyembunyikan diri di balik gunung Pontoa, juga suara air sungai yang mengalir berdesir, menggoyang-goyangkan kakiku. Kami terdiam beberapa saat, sama-sama menikmati pemandangan yang sangat indah.

Tiba-tiba Ruduh berdiri dan menepuk bahuku.

“Mulai gelap. Ayo ke gubukku, kita makan malam. Tentu kau lapar, bukan?” ajaknya.

Aku melompat, menyetujui ajakannya. Lagi pula aku membawa sedikit buncis segar dan beberapa dapat kami masak untuk makan malam. Kami melintasi jalan setapak yang dipagari alang-alang. Segerombolan kunang-kunang mengawasi kami dari kejauhan. Sekarang benar-benar gelap ketika kami sampai di gubuk Ruduh. Sebuah gubuk kecil berdinding papan, terbuat dari kayu keras.Atapnya terbuat dari rumbia, tertata rapi tanpa celah, sehingga api yang menyala di dapur tak tampak dari luar. Ruduh dan istrinya yang menjahitnya sendiri. Melihat kedatangan kami, Solina berseru:

“Baguslah kau mampir, Nak. Aku memasak cukup banyak untuk makan malam.” Solina girang karena kedatanganku. Selain itu mereka kesepian. Mereka belum mempunyai anak dan tak mungkin akan punya karena persoalan umur. Ku keluarkan seikat buncis dari keranjang.

“Ini ada sedikit buncis dari kebun Paman Mauri. Masih segar-segar. Mungkin dapat menambah persediaan makan malam kita, Ibu.” Ku bawakan seikat buncis dan segera mencucinya. Sedang Solina terlihat sibuk meniup api di tungku. Dia terbatuk-batuk. Segera ku gantikan pekerjaannya.

“Wah, buncis segar. Baiknya dibuat sup. Pakai babi, tidak? Aku punya sedikit daging babi hutan pemberian pendeta Thomas kemarin.” Saran Solina.

Aku tersenyum, menggeleng.

“”Ah ya, kau tak makan babi? Maaf, maafkan aku, Nak.” Buru-buru Solina meminta maaf.

“Tidak perlu minta maaf, Ibu. Aku hargai kebaikanmu.” Sambutku tersenyum.

Aku dan Solina sibuk di dapur. Sedang Ruduh memasang lampu pelita dan merapikan meja makan. Kami tampak seperti sebuah keluarga, dan aku anaknya. Sementara menunggui sup buncis matang, kami duduk melingkari meja makan. Ruduh mengambil Injil dan mulai membukanya halaman demi halaman. Penuh perhatian dia membacanya. Yang ku ketahui tetang Ruduh, bapaknya seorang pendeta. Dalam struktur keluarga, bapaknya masih keturunan bangsawan yang dulu menjadi raja di tanah ini. Dengan demikian, Ruduh pun masih mempunyai hak kebangsawanan, terutama dalam menguasai tanah-tanah pembagian kerajaan dulu. Semua saudaranya mendapatkan tanah yang luas, berikut dengan pekerja-pekerja sukarela untuk menggarap tanah. Tapi Ruduh menolaknya. Hanya dia dari seluruh pewaris yang akhirnya membeli tanah dan mengolahnya sendiri, kini bersama istrinya Solina.

Katanya:

“Jangankan tanah, istri pun dicarikan. Kalau perlu anak perawan dipaksa untuk dikawinkan. Sungguh aku bukan bagian dari keluargaku, aku juga bukan turunan raja moyangku.”

Dengan caci maki keluarganya, Ruduh menikahi Solina, anak seorang pembelah kayu di kaki gunung Pontoa. Dan mereka mengasingkan diri dari hiruk pikuk perebutan hak kesulungan di keluarganya. Sedang Ruduh sendiri adalah anak tertua, lelaki pula.

“Sup buncis sudah matang. Mari kita makan.” Seru Solina dari dapur.

Kami duduk menghadapi meja makan. Uap yang naik dari dalam mangkuk berkepul-kepul menggelitik rasa lapar. Kami saling pandang, menunggu seorang dari kami untuk memulai.

“Nak, berdoalah untuk makan malam kita.” Pinta Ruduh

“Bapak saja.” Aku menolak sungkan. Dia mengangguk, mengamini.

Ruduh mulai berdoa:

“Sup buncis ini ada karena Paman Mauri yang menanamnya. Solina dan pemuda manis ini yang memasaknya. Kiranya diberkatilah mereka, semuanya. Amin.”

Kami menyantapnya sangat lahap diselingi lelucon yang membuat kami terbahak-bahak. Seperti sebuah keluarga kecil yang amat bahagia. Dan aku sendiri sangat bahagia, meski pun akhirnya aku sedih, karena hari itu adalah hari terakhir ku melihat Ruduh. Seminggu berikutnya dia sudah tiada. Dia pergi tanpa sakit dan erangan, layaknya pria tua yang tegar. Pendeta Thomas yang memimpin ibadah pengkuburannya.

Setiap kali aku melintas di tepi sungai, aku teringat Ruduh. Sering ku kunjungi Solina, membawakannya buncis dari kebun paman Mauri. Kami memasaknya sebagai pengingat bahwa seorang pria tua bernama Ruduh pernah hidup.[]

 – Jogja, Agustus 2011

Agung Poku

*) catatan: tulisan ini ikut menyemarakkan semangArt Canting bulan Agustus dengan tema Nasionalisme. Saya sendiri tak yakin bahwa tulisan ini berkaitan jelas dengan tema Nasionalisme, apalagi secara praktis. Tapi ini yang bisa saya tulis dan utang terbayar lunas. Ha ha ha :))

9 thoughts on “Sup Buncis Untuk Ruduh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s