Lelaki Yang Lapar

Marc Chagall - The Bridal Couple - 1927-1935 (famousartgallery)

Marc Chagall - The Bridal Couple - 1927-1935 (famousartgallery)

Lelaki itu berdiam diri di sudut kamarnya. Sebuah kamar yang tak luas, bercat hijau lembut seperti pucuk pisang. Sebuah kasur yang cukup empuk dan lemari kayu berisi buku-buku mempertegas bahwa di situ sangat sempit. Belum lagi jika kawan-kawannya datang mengunjunginya. Mereka akan berbincang-bincang di atas kasur dan seorang cukup duduk di depan pintu kamar. Hanya di tempat itu yang membuat nafas mereka tak terlalu sesak.

Lelaki itu terus meraih botol air dan meneguknya dalam-dalam. Sambil terus membaca, dia meneguk air putih, sangat rakus. Sesekali perutnya berbunyi, seperti ada seekor anak anjing yang sedang tidur pulas dalam perutnya. Terus mendengkur dan mendengkur sangat keras. Lelaki itu sedang menahan lapar. Sudah dua hari dia tak makan. Hanya air putih yang terus diteguknya.Uang dia tak punya, apalagi dapur untuk memasak, sama sekali tak ada. Harga sewa kamar di Babadan cukup mahal, apalagi ditambah dapur, akan berkisar tiga ratus ribu rupiah per bulan. Beruntung adik seorang pastor yang dikenalnya dalam sebuah misa, mengajaknya untuk menempati sebuah kamar dengan harga sewa cukup murah. Hanya seratus lima puluh ribu rupiah setiap bulan.

Pertemuannya dengan Bu Rine dalam sebuah misa, terjadi secara tak sengaja. Minggu pagi dia mengenakan sepatu boot butut pemberian kakaknya dan duduk di kursi paling belakang. Bu Rine duduk di sampingnya. Dan selama misa berlangsung, Bu Rine terus memperhatikan sepatu bututnya. Ketika misa berakhir dan orang-orang berbaris di pintu keluar, Bu Rine tetap duduk di sampingnya dan menangis, membuat polesan bedak di pipinya terhapus. Lelaki itu kaget karena Bu Rine terus menatapnya sambil membiarkan air mata mengucur sampai ke dagunya.

“Mengapa Ibu menangis?” Tanya lelaki itu.

“Melihat sepatumu, aku teringat ketika masih berumur sepuluh tahun.” Bu Rine menyeka air matanya. Lelaki itu mulai merasa bersalah, tanpa tahu apa sebabnya. Hanya dia merasa bersalah melihat seoarang perempuan menangis di depannya. Tiba-tiba dia teringat ibunya di suatu tempat yang jauh.

“Aku dihadiahi sepasang sepatu yang sangat bagus dan mahal, pada malam natal. Ayahku tahu bahwa sudah lama aku menginginkannya. Ku pakai sepatu itu menari-nari di malam natal dan menyimpan sepatu bututku di rak. Sampai natal tahun berikutnya, ayahku meninggal dalam sebuah kecelakaan.” Bu Rine kembali menangis.

“Sangat disayangkan. Tentu dia sangat menyayangi Ibu.” Lelaki itu mengungkapkan keprihatinannya.

“Dari tadi ku perhatikan sepatumu yang, maaf, butut. Aku teringat ayahku. Dia sangat menyayangiku dan dia tahu bahwa sepatuku yang lama tak layak pakai, maka dia menghadiahkan padaku yang baru. Sangat bagus.” Kini mata Bu Rine bersinar. Wajahnya merekah. Dia memang cantik dan pandai merawat diri.

Mereka terburu-buru sadar, suasana sepi, tinggal mereka berdua di dalam gereja. Burung-burung gereja mengisi pagi di jendela. Bersahut-sahutan dan terbang di atas deretan bangku kosong. Mereka berdiri dan keluar.

“Siapa namamu, Nak?” Tanya Bu Rine.

“Markias.” Jawab lelaki itu.

“Markias. Kau pasti berasal dari luar Jogja. Di mana itu?”

“Ku rasa itu tak penting, Bu. Sekarang aku di sini, dan aku seorang Jogja.” Jawab lelaki itu. Mereka bersalaman.

“Baiklah, Nak Markias. Mari mapir ke rumahku. Tak jauh dari sini.” Ajak Bu Rine.

Rumah Bu Rine terletak di daerah Babadan. Tempat yang ramai dan rumah-rumah berhimpitan. Anak-anak kecil tak pernah berhenti berlari-lari sepanjang jalan, dari siang sampai sore. Rumah yang bersih dan penuh dengan pot-pot berisi bunga beragam jenis. Juga di ruang tamu, berdiri patung-patung dengan berbagai karakter. Dan yang menarik adalah sebuah lukisan yang tergantung di sebelah tangga. Seorang wanita cantik yang memakai gaun berwarna putih dan tangan kirinya memegang gelas berisi air yang kemerah-merahan. Mungkin anggur. Pikir lelaki itu. Lelaki itu terus memandangi lukisan. Nampaknya dia sangat menyukainya.

“Itu aku, pada hari pernikahanku. Dua puluh tahun lalu.” Bu Rine memberi keterangan, karena melihat si lelaki tak melepas pandangannya dari lukisan.

“Sangat cantik. Siapa yang melukisnya?” Tanya si lelaki penasaran.

“Suamiku.” Jawab Bu Rine datar.

“Di mana dia sekarang?”

“Ku rasa itu tak penting, Nak.”

Buru-buru si lelaki meminta maaf. Dia tak ingin tahu lebih jauh soal rumah tangga orang. Mereka bercakap-cakap layaknya seoarang ibu pada anaknya. Begitu juga seorang anak pada ibunya. Sangat mesra. Bu Rine sangat menyukai lelaki itu. Tiba-tiba dia sayang padanya, walaupun baru sekali mereka bertemu. Dan pada yang lain, si lelaki itu merasa bahwa Bu Rine adalah jelmaan ibunya. Tapi masing-masing dari mereka menyembunyikan hal-hal yang sangat pribadi. Meski mereka terlihat sangat mesra, tapi mereka tak ingin diketahui lebih jauh.

Bu Rine menawarkan kamar di dekat garasi. Tanpa ditarik uang sewa, katanya. Si lelaki jelas tak mau. Dia senang mendapat tawaran untuk tinggal di tempat yang baru. Tapi dia akan tetap membayar uang sewa. Mereka bersepakat. Seratus lima puluh ribu rupiah per bulan. Dua hari kemudian, si lelaki menempati kamar dekat garasi Bu Rine. Dia mulai betah, apalagi suasana di halaman sangat sejuk. Banyak bunga-bunga dan kupu-kupu warna-warni. Meski sesekali suara bising kendaraan mengganggu tidur siangnya. Bu Rine sangat baik padanya. Sering dia diajak makan siang bersama di dapurnya. Kadang-kadang si lelaki menolaknya dengan sopan. Dia tak ingin bergantung pada perempuan yang baik hati itu, meski dia sangat menghargai ketulusannya.

Sebulan kemudian seorang pria datang dan langsung masuk ke dalam rumah Bu Rine, tanpa permisi. Si lelaki melihatnya. Mungkin itu saudaranya, pikir si lelaki, melihat tamu yang datang itu sepertinya sudah terbiasa dengan keadaaan di situ. Pria itu mungkin seumuran dengan Bu Rine. Mereka bercakap-cakap di dapur dan tiba-tiba terjadi pertengkaran hebat. Pria yang datang itu berbicara dengan sangat keras, tanpa peduli apakah tetangga akan mendengarnya. Bu Rine sesekali membalas hardikannya. Pria itu kemudian pergi, meninggalkan Bu Rine sesenggukan di dapur. Si lelaki ingin sekali mencegat pria itu dan memukulnya sampai berdarah. Tapi dia tak ingin mencampuri urusan orang. Di sisi lain, dia tak tega melihat perlakuan kasar yang dilakukan pria tadi pada Bu Rine. Menghardiknya. Diambilnya sebuah buku dan membacanya di sudut kamar, sambil terus meneguk air putih, sangat rakus. Terdengar isak Bu Rine dari dapur. Si lelaki ingin mendekatinya, tapi lagi-lagi dia tak mau mencampuri urusan orang lain. Maka diteruskan saja membaca. Tiba-tiba Bu Rine datang ke kamarnya, membawa dua botol bir. Matanya lebam, kebiru-biruan, sangat pucat.

“Nak, temani aku minum. Aku sangat haus hari ini.” Bu Rine menyodorkan sebotol bir.

“Siapa tadi?” si lelaki memberanikan diri bertanya meski dengan ragu-ragu.

“Ku rasa itu tak penting, Nak.” Jawabnya, kemudian menenggak bir.

“Diakah yang melukismu?” kini si lelaki semakin berani bertanya.

Bu Rine mengangguk dan tersenyum pahit. Pahit sekali. Si lelaki meremas-remas botol bir di hadapannya. Dia ingin sekali minum, tapi kali ini dia sangat lapar. Disimpannya buku di rak dan menenggak bir, menemani Bu Rine yang kini menangis lagi. Dia ingin sekali mengejar pria tadi dan memukulnya sampai puas. Tapi kali ini dia sadar, bahwa dia sangat lapar.

***

–   Jogja, Septermber 2011

15 thoughts on “Lelaki Yang Lapar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s